Esai 18-Kekekalan, Perubahan, dan Benda-Benda yang Tidak Ada

Pembukaan

Pengalaman sadar menjamin keberadaan, tapi keberadaan macam apakah yang terjamin oleh pengalaman sadar? Kita menganggap bahwa keberadaan yang dibuktikan oleh pengalaman sadar apapun pastilah keberadaan yang mutlak yang “sepenuhnya”. Namun penyadaran yang baru sekarang muncul menyatakan bahwa ada benda-benda yang tidak ada. Lalu jika ada benda yang tidak ada, bagaimana pengaruhnya pada hukum kekekalan? Apakah hukum kekekalan akan akhirnya dilanggar padahal menjadi salah satu hukum besar kenyataan?

Pembahasan

Secara singkat, jawaban dari pertanyaan dalam pembukaan adalah “tidak”, kehadiran benda-benda yang secara mutlak tidak ada karena tidak hadir tidak akan melanggar kekekalan keberadaan. Namun sebelum memahami hal tersebut, kita harus memahami dulu bagaimana kita dapat berkata bahwa ada benda yang tidak ada. Misalkan, “tidak ada Tuhan,” bagaimana kita dapat menyatakan bahwa tidak ada Tuhan kalau kita sudah membicarakan dan memikirkan tentang Tuhan?

Sebenarnya ini masalah bahasa karena pernyataan “Tidak ada Tuhan” harusnya mengandung informasi lebih dari yang dinyatakan. Kalau kita berkata Tuhan secara umum, ya memang itu pernyataan yang tidak benar. Dengan menyatakan Tuhan kita sudah menyatakan keberadaan umum Tuhan. Namun barangkali maksudnya adalah Tuhan yang lebih spesifik, yang lebih konkrit, dan memiliki konteks spasial-temporal atau konteks universal. Misalkan untuk Tuhan di semesta kita, bolehkah kita berkata bahwa Tuhan tidak ada?

Namun pada satu sisi, kita dengan jelas dapat membayangkan “Tuhan di semesta kita”, yang artinya Tuhan di semesta kita memang ada. Jadi kesannya sudah sangat sulit untuk menantang prinsip pengalaman sadar dan keberadaan ini. Baiklah kita memakai contoh yang lebih sederhana, misalnya dengan mobil merah. Kalau kita hanya membayangkan mobil merah secara umum, kita tidak dapat menghakimi bahwa ia tiada, karena setidaknya ia cukup ada untuk berinteraksi dengan kesadaran kita.

Kasusnya berubah saat kita membayangkan sebuah mobil merah dengan detil-detil sifat ekstrinsik sehingga identitas mobil tersebut menjadi lebih lengkap. Misalkan aku membayangkan bahwa ada mobil merah di depan rumahku, kenyataannya aku tidak mengalami atau melihat ada mobil merah di depan rumahku. Lalu pertanyaannya, apakah ada mobil merah di depan rumahku? Prinsip pengalaman sadar seolah-olah menuntut kita untuk menerima bahwa ada mobil merah di depan rumah sekalipun sepenuhnya tak kasat mata.

Jadi ada kebenaran bahwa ada mobil merah di depan rumahku, tapi ada kondisi tak tersebutkan dalam kalimat tersebut. Kondisi ini adalah mobilnya tidak harus bersifat korporil atau memiliki wujud. Hal akan menjadi lebih kompleks kalau kita ubah syaratnya. Misalkan kita membayangkan bahwa mobil itu harus bisa dilihat dan disentuh, artinya memiliki wujud atau bersifat kasat mata. Namun kenyataannya adalah kita tetap tidak dapat melihat atau menyentuh sebuah mobil merah. Masakah kita harus tetap menerima keberadaan mobil semacam itu?

Jawabannya adalah memang kita tidak harus, dan justru harus menolak keberadaan mobil tersebut. Karena apa yang kita bayangkan tidaklah sesuai dengan kenyataan yang sebetulnya. Bisa saja ada mobil merah yang wujudnya rohani, tapi secara materil tidak ada mobil sama sekali. Maka mobil merah memang pada dasarnya ada, tapi secara material di titik spasial-temporal yang spesifik pada dunia yang spesifik, tidak boleh kita katakan ada. Karena memang kita tidak mengalami mobil pada titik itu, maka tidak ada mobil yang dapat kita alami pada titik itu.

Lalu bagaimana dengan prinsip pengalaman sadar? Ya memang kita dapat membayangkan mobil merah dengan kondisi yang lengkap, tapi kita dapat berkata bahwa mobil merah itu memang ada, tapi dalam kondisi yang tidak aktual. Tidak aktual artinya tidak hadir, tidak berlaku, tidak sedang ada. Dalam dunia abstrak yang mengandung mobil tersebut memang mobil ini dapat disentuh dan dilihat, tapi mobil itu sekali lagi berada di dunia abstrak. Selain itu untuk mengatakan bahwa mobil yang di dunia konkrit tidak ada sama saja dengan mengatakan bahwa mobil yang di dunia konkrit sedang tidak aktif.

Maka prinsip pengalaman sadar tetap bertahan, karena saat kita membayangkan mobil dengan kondisi yang lengkap, memang mobil itu ada tapi dalam kondisi tidak aktif. Hal ini juga sama dengan mengatakan bahwa mobil itu tidak ada. Selain itu kita harus mempertimbangkan segala pengalaman sadar kita, dan bukan hanya pengalaman internal. Secara abstrak mobil itu memang ada, tapi secara konkrit, mobil yang dapat diindera itu tidak ada karena kita dapat menyadari bahwa kita tidak sedang mengalami mobil tersebut. Maka mobil yang dialami secara inderawi pada satu titik waktu tersebut dapat dikatakan secara konklusif tidak ada.

Hal ini memang sedikit membingungkan karena secara efektif mobil yang merah itu dalam kondisi ada dan tiada dalam waktu yang bersamaan. Namun kita harus memahami bahwa keberadaan dan ketiadaannya dalam 2 aspek atau sisi yang berbeda. Mobil merah itu ada dalam wujud abstrak yang tidak dapat dilihat atau disentuh secara langsung. Namun mobil merah yang dapat dilihat atau disentuh secara langsung, tidak ada dalam arti mobil itu tidak dapat dilihat atau disentuh secara langsung. Akan tetapi karena imajinasi, mobil ini ada, hanya dalam dunia ide atau abstrak.

Jadi dengan pengalaman sadar yang lengkap kita dapat memberikan penghakiman ontologis kepada benda-benda, apakah mereka ada atau tiada. Prinsip mutlak yang awal terjadi karena kita tidak memperjelas identitas benda-benda yang dibayangkan. Misalnya kita membayangkan mobil merah tanpa kondisi lebih jelas, yang kita bayangkan sebenarnya bukan 1 mobil merah tapi keutuhan kategori mobil merah. Untuk kategori ini ada, hanya diperlukan 1 anggota untuk ada, dan dengan membayangkan saja sudah cukup keberadaannya.

Pertanyaan berikutnya, dengan benda-benda yang tiada, tidakkah ada resiko hukum kekekalan dilanggar? Sepertinya ya, tapi itu yang terjadi saat kita lupa tentang adanya kategori dan identitas. Kita tahu bahwa waktu berjalan secara linear, yang artinya waktu tidak berulang dan setiap titik waktu dapat kita labeli. Karena kondisi mobil harus berada di satu titik ruang-waktu yang tidak akan berulang lagi, maka antara mobil yang awalnya tiada dengan mobil yang ada pada waktu berikutnya sudah merupakan 2 mobil berbeda.

Mari kita perjelas dengan sebuah contoh, anggaplah pada pukul 11 pagi mobil merah itu sesuai dengan penjelasan tadi, tidak ada. Namun pada pukul 12 siang benar-benar datang sebuah mobil merah. Sehingga mobil merah itu menjadi ada. Kita berpikir bahwa perubahan ini melanggar hukum kekekalan, tapi sesungguhnya tidak. Sebab pada jatinya, mobil yang ada di jam 11 dan mobil yang ada di jam 12 sudah 2 mobil berbeda. Karena jam 11 tidak akan terulang lagi, maka mobil yang tidak ada di jam 11 selamanya tidak ada. Mobil yang ada di jam 12 di lain pihak, selamanya ada.

Penutup

Berdasarkan segala penjelasan yang ada, kita telah berhasil dalam menjelaskan “kontradiksi” antara hukum kekekalan dengan imajinasi atau pengalaman sadar. Dengan itu kita mengetahui bahwa adanya benda-benda yang tidak ada secara kekal, dan ada benda-benda yang ada secara kekal. Benda-benda yang tidak ada tidak akan pernah ada karena hanya ada 1 kesempatan untuk ada, dan benda-benda yang ada tidak akan pernah tidak ada karena hanya ada 1 kesempatan untuk tidak ada. Sementara itu hukum kekekalan tetap berdiri karena sesungguhnya yang namanya pengulangan waktu itu mustahil.

Comments

Popular posts from this blog

Essay 5-Conscious Experience

Essay 21-Change II

Essay 15-Original and Derivative Objects