Esai 19-Benda Mutlak dan Benda Relatif
Pembukaan
Imajinasi memang sangat
kuat karena memampukan kita untuk mengetahui banyak hal yang tidak dapat
digapai oleh indera saja. Bahkan imajinasi begitu kuat hingga dapat
membayangkan hal-hal yang tidak ada tapi tetap ada dan menciptakan berbagai
situasi yang membingungkan. Maka dalam kasus ini adalah hasil imajinasi juga
yang memunculkan berbagai masalah baru tapi sepertinya adalah bagian esensial
dari kenyataan dan karena itu wajib untuk dibahas, yaitu mengenai masalah benda
mutlak dan benda relatif.
Pembahasan
Benda mutlak dan benda
relatif sepenuhnya merupakan hasil imajinasi. Namun imajinasi ini juga
merupakan imajinasi yang terbimbing dan terkontrol, salah satu pembimbingnya
adalah konsep benda dinamis. Kita hidup di dalam lingkungan yang dinamis, tapi
bagaimana jika kita membayangkan benda yang statis? Tidak ada hukum yang
dilanggar oleh benda semacam ini jadi kita dapat saja menyatakan bahwa ada
benda yang statis. Namun tentu saja benda statis tidak mungkin berada di dalam
benda yang sama dengan benda dinamis.
Selanjutnya memang adalah
imajinasi yang liar, misalnya mobil merah tapi sifatnya statis dan tidak
memiliki relasi ekstrinsik dengan benda lain ataupun sifat ruang-waktu lainnya.
Apakah mobil semacam itu ada? Pertama kita harus membandingkan dengan kenyataan
lain yang ada, jika tidak ada halangan, maka benda itu sungguh ada. Namun benda
ini berdiri sendiri maka pastinya tidak berinteraksi dengan benda-benda lain.
Konsep benda statis dan juga hasil imajinasi yang liar membuka wawasan kita
pada suatu pembedaan benda yang baru, yaitu benda mutlak dan benda relatif.
Kedua benda statis dan
mobil merah yang berdiri sendiri itu memiliki kesamaan, yaitu keduanya
sama-sama tidak berinteraksi lagi dengan benda-benda lain dan benar-benar
berdiri sendiri. Inilah konsep benda mutlak, yaitu benda yang mencapai
“batas”nya. Benda mutlak adalah tingkat benda tertinggi sehingga benda ini
tidak berinteraksi dengan benda-benda lain. Waktu memang berlaku untuk semua
benda, tapi ruang hanya berlaku di dalam benda mutlak. Artinya di “ruang”
antara berbagai benda mutlak, tidak ada konsep ruang berdimensi.
Alasannya adalah setiap
benda mutlak tidak memiliki relasi ekstrinsik dengan benda lainnya. Kalau
setiap benda mutlak terletak di dalam ruang, maka akan terjadi relasi
ekstrinsik antara satu benda mutlak dengan benda lainnya. Padahal pada hakikat
dan definisinya, benda mutlak tidak berelasi dengan benda-benda lainnya. Memang
tetap ada relasi kategoris, tapi relasi kategoris bukan relasi dinamis,
melainkan relasi statis yang dapat terjadi antara benda-benda mutlak sekalipun,
karena tidak mempengaruhi mereka secara dinamis.
Aku harus mengakui bahwa
menjelaskan benda mutlak ini sedikit sulit. Satu-satunya cara untuk
menjelaskannya adalah dengan menyatakan hakikatnya yaitu tidak dapat
berinteraksi dengan benda lain. Benda yang menjadi bagian dari bagian dari
benda mutlak bukanlah benda mutlak karena masih bisa berinteraksi dengan benda
lain atau memiliki relasi ekstrinsik dengan benda lain. Benda mutlak adalah
tingkat tertinggi suatu benda yang tidak dapat memiliki relasi ekstrinsik
dengan benda lain, jadi tidak ada sifat ekstrinsiknya.
Lalu apa itu benda
relatif? Benda relatif adalah benda yang kita tetapkan sebagai benda menurut
pemikiran kita sendiri, misalnya sebuah mobil, pesawat, manusia, dan
benda-benda lainnya. Mengapa dikatakan sebagai relatif? Karena batas-batas
benda ini relatif menurut pemikiran suatu makhluk sadar, dalam kasus ini
manusia. Misalnya suatu negara, terkadang ada masalah perbatasan negara,
sehingga pengertian negara ini berbeda menurut pemahaman kelompok-kelompok yang
berbeda pula. Jadi batasan di mana negara tersebut berakhir dan mulai terkadang
rancu.
Jadi kalau kita
bandingkan dengan benda mutlak, batasan benda mutlak sangat keras dan jelas.
Sehingga apapun yang ada di dalam benda mutlak tidak dapat keluar dari benda
mutlak tersebut dan pergi ke benda mutlak lain. Jadi perbedaan istilah mutlak
dan relatif terletak pada perbedaan sifat perbatasan benda tersebut. Pada benda
relatif, batasnya relatif dan dapat dilanggar. Pada benda mutlak, batasnya
mutlak dan tidak dapat dilanggar karena tidak ditentukan oleh pemikiran kita
melainkan hadir begitu saja secara kekal dan tidak terubahkan.
Maka konsekuensinya
adalah benda mutlak jumlah sifatnya pasti dan tetap, tidak akan berubah. Kalau
berubah artinya ada penambahan dan pengurangan yang artinya batas benda telah
dilanggar dan artinya benda itu bukan benda mutlak melainkan adalah benda relatif.
Benda relatif juga adalah bagian dari benda mutlak dan pada akhirnya adalah
penetapan relatif terhadap suatu bagian dari benda mutlak. Benda yang
“sebenarnya” adalah benda mutlaknya. Maka oleh karena itu benda relatif
memiliki sifat ekstrinsik yang berpengaruh pada definisi benda relatif
tersebut.
Ada 2 pertanyaan yang
dapat kita ajukan tentang konsep benda mutlak ini. Bukankah benda mutlak tetap
memiliki relasi ekstrinsik karena adanya benda dinamis dan karena itu dapat
berubah? Lalu apakah kesadaran dapat berpindah dari satu benda mutlak ke benda mutlak
lainnya? Untuk pertanyaan pertama, jawabannya adalah tidak tapi bisa juga ya. Mari
kita teliti kedua kemungkinannya.
Untuk tidak, karena ada
jumlah benda mutlak yang tak terbatas yang dapat kita bayangkan dan misalkan
ada benda mutlak X dihadirkan dengan benda mutlak dinamis ABCDE yang dapat
berubah antara A, B, C, D, dan E secara bergantian dengan urutan demikian. Saat
ABCDE berada pada kondisi A dengan pada kondisi B, bukankah X saat A dan X saat
B sudah 2 benda berbeda? Jawabannya ya memang benda yang berbeda. Namun kita
membayangkan juga ada 5 versi ABCDE yang mulai di titik yang berbeda. Jadi ada
X, A, B, C, D, dan E.
Lalu kondisinya akan
terus seperti itu karena selalu saja ada yang mengambil kondisi masing-masing.
Namun memang itu hanya berdasarkan penampilan. Penampilan abstraknya memang
akan sama karena selalu ada A, selalu ada B, selalu ada C, selalu ada D, dan
selalu ada E pada saat yang sama bersama X jadi kesannya tidak ada perubahan.
Namun saat kita melabeli setiap versi benda dinamis ABCDE akan terlihat
bedanya.
Misalkan kita labeli
menurut angka, hasilnya adalah akan ada 1A, 2B, 3C, 4D, dan 5E bersama X.
Kondisi ini berbeda dengan saat 1B, 2C, 3D, 4E, dan 5A bersama X. Jadi
sekalipun penampilan luarnya sama, tapi pada dasarnya sudah berbeda, karena
fakta-fakta kenyataan akan mencatat perbedaannya pula. Maka jawaban yang lebih
tepat adalah memang ada semacam relasi ekstrinsik antara benda mutlak dengan
benda lain, tapi sekalipun itu sangatlah terbatas.
Namun apakah benar itu
berpengaruh? Maka kita masuk ke dalam topik berikutnya yaitu relasi antara
kesadaran dengan benda-benda mutlak. Pertama kita jawab dulu pertanyaan
langsungnya, jawabannya adalah jelas sekali tidak. Kesadaran tidak dapat
berpindah dari satu benda mutlak ke benda mutlak lain sekalipun kita berikan
persyaratan khusus. Karena kesadaran itu melekat pada benda mutlak tersebut dan
jika berpindah maka benda mutlak itu kehilangan kesadarannya, maka terjadi
perubahan isi benda itu dan batasan benda itu telah dilanggar.
Jadi apa yang terjadi
saat kita membayangkan benda mutlak di luar benda mutlak kita sendiri? Untuk
menjawab pertanyaan ini, kita harus ingat bahwa prinsip pengalaman sadar yang
baru menyatakan bahwa semua pengalaman sadar adalah bukti akan suatu
keberadaan, tapi keberadaan di balik pengalaman sadar tidak haruslah sama
dengan huruf imajinasi. Misalnya kita membayangkan benda yang tidak ada, yang
kita bayangkan memang ada, tapi tidak sesuai dengan perkataan imajinasi kita.
Jadi kita bisa saja
membayangkan benda mutlak X, tapi kalau benda mutlak itu bisa sampai ke kita,
maka itu bukan benda mutlak. Melainkan replika persis dari benda mutlak dalam
bentuk benda relatif, yang sebenarnya adalah bagian dari benda mutlak yang kita
tinggali. Lalu mengapa kita dapat membicarakan tentang benda mutlak dan konsep
benda mutlak lain? Sebenarnya segala informasi tentang benda mutlak kita
peroleh dari benda mutlak kita sendiri.
Maka informasi ini kita
gunakan untuk menalar tentang keberadaan benda-benda mutlak. Lagipula sekalipun
memang menurut teori atau konsep benda mutlak kita tidak dapat menggapai benda
mutlak lain, prinsip pengalaman sadar menyatakan bahwa jika kita membayangkan
benda semacam itu dalam kenyataan, benda itu harus ada. Namun seperti setiap
permasalahan filsafat yang ada, ini mengundang paradoks yang cukup menarik
terkait sifat benda mutlak dan relasinya dengan kesadaran.
Pada kenyataannya, kita
tidak dapat berpindah dari benda mutlak ke benda mutlak lainnya, dan karena itu
kesadaran kita sebenarnya tidak dapat menggapai benda mutlak di luar. Jadi saat
kita membayangkan benda mutlak di luar benda mutlak kita sendiri, hal yang
terjadi adalah kita membayangkan benda yang sudah ada di dalam benda mutlak
kita sendiri. Kalau bayangan kita akan suatu “benda mutlak” mempengaruhi benda
mutlak kita sendiri, yang terjadi adalah memang benda itu sudah menjadi bagian
dari benda mutlak kita sendiri.
Maka ada kontradiksi yang
besar antara sifat benda mutlak dan pengalaman kita. Kalau kita menerima sifat
benda mutlak sepenuhnya artinya kita tidak dapat membuktikan sama sekali bahwa
ada benda mutlak di luar benda mutlak kita sendiri. Kita bahkan tidak dapat
membuktikan bahwa adanya konsep benda mutlak sama sekali karena kesadaran kita
“mengacaukan” semua konsepsi yang ada. Solusi yang mungkin ada adalah mengubah
konsepsi benda mutlak supaya sesuai dengan fenomena yang ada.
Barangkali setiap benda
mutlak memang tidak dapat berelasi dengan sesamanya kecuali melalui kesadaran.
Kalau begitu, benda mutlak yang sungguh mutlak haruslah merupakan benda yang
tidak dapat kita bayangkan sekalipun. Ini adalah konsep benda ekstrafenomenal
yang belum aku bahas tapi baiklah dipakai sedikit saja. Barangkali ada
tingkatan kemutlakan benda, tapi sepertinya selama benda dapat kita bayangkan,
maka versi mutlaknya tidak ada karena dapat kita bayangkan. Jadi sekali lagi,
pengalaman sadar menandakan keberadaan tapi tidak harus sesuai dengan huruf
imajinasinya.
Penutup
Intinya kita sudah
merefleksikan konsep benda mutlak dan benda relatif. Di mana benda mutlak
adalah tingkatan benda tertinggi yang tidak dapat berelasi dengan benda-benda
lain, dan benda relatif adalah benda yang batasnya relatif jadi masih bisa
berelasi dengan benda-benda lain. Terjadi sedikit permasalahan dengan
pengalaman sadar dan relasinya dengan benda mutlak tapi itu diselesaikan dengan
fakta bahwa kita tidak dapat mencapai benda mutlak sama sekali atau
membayangkannya. Demikianlah konsepsi tentang benda mutlak.
Comments
Post a Comment