Esai 20-Metafisika I
Pembukaan
Selama 19 esai sebelumnya
telah dijelaskan beragam konsep filsafat yang semuanya masih masuk dalam 1
cabang filsafat besar yaitu metafisika. Metafisika berhubungan dengan hal-hal
yang sangat mendasar dalam kenyataan dan sesuai katanya, melampaui sekadar
fisika. Karena fisika hanya mempelajari yang di dalam suatu benda mutlak, tapi
metafisika mempelajari segenap kenyataan. Materi yang ada dalam esai ini tidak
diekspektasikan untuk menjadi kumpulan seluruh pengetahuan metafisik yang
penting, melainkan rangkuman dari esai 4 sampai esai 19.
Pembahasan
Konsep pertama dalam
metafisika yang dibahas adalah masalah keberadaan. Keberadaan di sini diartikan
sebagai suatu kehadiran dalam kenyataan yang memiliki konsekuensi-konsekuensi
tertentu entah terhadap sesama benda atau pada kesadaran. Namun benda yang
tidak memiliki sifat untuk mempengaruhi benda lain atau mempengaruhi kesadaran
tetap ada selama kehadirannya memang ada dan tercatat sebagai fakta dalam
kenyataan.
Bagi kesadaran, cara menentukan
keberadaan suatu benda adalah meneliti apakah keberadaan itu dapat dialami
dengan sadar atau tidak. Jikalau tidak ada pengalamannya, ada 2 kemungkinan,
memang benda itu tidak ada atau benda itu ada tapi tidak dapat dialami dengan
sadar. Mengenai benda yang tidak dapat dialami, sejauh ini aku sendiri belum
bisa menentukan apakah ada benda yang tidak dapat dialami atau semua benda
dapat dialami.
Sekalipun benda-benda
tersebut tidak dapat dialami, mereka akan sepenuhnya terpisah dari kita dan
karena itu menjadi tidak signifikan atau penting. Adapula teknik untuk
menyatakan ketiadaan benda, yaitu saat kita membayangkan suatu benda dengan
detil yang paling kecil, tapi ternyata kenyataan mengungkap kenyataan yang
berbeda dengan bayangan tersebut, maka benda yang dibayangkan dapat kita
nyatakan tiada.
Misalkan begini, ada
benda X yang kita tetapkan hadir di titik ruang-waktu Z di dunia kita yang kita
labeli dunia Y. Jika kita menetapkan bahwa X yang ada di Z di Y dapat kita
inderakan, tapi ternyata saat kita ada di titik Z di Y, tidak ada X yang dapat
kita inderakan maka kita dapat menetapkan bahwa X yang dapat diinderakan di Z
di Y tidak ada, karena kenyataannya kita tidak mengindera X di Z di Y. Jadi
kita dapat membayangkan benda yang tidak ada.
Lalu ada konsep penting
yaitu kekekalan keberadaan, bahwa keberadaan setiap benda itu kekal dan tidak
dapat diciptakan atau dihancurkan. Ada 1 argumen kunci yang mendukung konsep
ini yaitu disosiasi ketiadaan. Bahwa ketiadaan tidak dapat berasosiasi dengan
benda-benda lain karena jika ketiadaan itu berasosiasi, maka hal itu bukanlah
ketiadaan melainkan keberadaan. Ketiadaan tidak memiliki konsekuensi apapun
sejauh konsekuensi melalui fenomena, tapi tidak ada konsekuensi langsung.
Namun aku pikir argumen
yang lebih penting adalah fakta kenyataan. Fakta kenyataan adalah konsep bahwa segala
hal yang pernah terjadi dan akan terjadi tercatat secara abadi dalam fakta
kenyataan. Sekalipun pada suatu titik ada penghilangan benda secara radikal
sampai di seluruh kenyataan tidak ada benda itu, sesungguhnya fakta tetap tidak
dapat diubah karena telah mencatat bahwa benda itu pernah ada. Konsep adanya
benda yang tidak ada juga tidak melanggar kekekalan karena apa yang tidak ada
akan tidak ada selamanya dan apa yang ada akan ada selamanya.
Selanjutnya kita membahas
konsep kebendaan. Benda adalah bagian dari kenyataan yang memiliki keunikan
dari benda-benda lain dan juga terbatas cakupannya. Benda terdiri dari berbagai
sifat lain yang membentuk benda tersebut. Sifat pun juga benda, jadi sebenarnya
setara, di mana benda adalah kumpulan benda lain, dan sifat adalah benda yang
berkumpul dengan benda lain menjadi benda baru.
Batasan benda dapat
bersifat mutlak atau relatif, batasan relatif artinya batasan ini ditetapkan
oleh kesadaran dan dapat dilanggar. Dilanggar atau berubah artinya isi benda
tersebut dapat berubah, berkurang atau bertambah, Sebab benda ini dapat
berinteraksi dengan benda lain sehingga dapat terjadi perubahan. Benda yang
mutlak batasanya mutlak, tidak dapat dilanggar, jadi juga tidak dapat berubah. Selamanya
suatu benda mutlak akan seperti itu saja.
Konsep relatif dan mutlak
ini sebenarnya sangat dapat diperdebatkan karena berdasarkan penemuan-penemuan
suatu benda itu tidak berubah secara eksistensial tapi secara aktual. Ini dapat
kita lanjutkan dengan konsep identitas dan kategori. Identitas benda menetapkan
bahwa suatu benda yang individual harus ditetapkan ke setiap detil yang ada. Detil-detil
ini mencakup apa yang dinamakan dengan sifat intrinsik dan sifat ekstrinsik. Sifat
ekstrinsik biasanya hanya mencakup posisi suatu benda dalam ruang-waktu relatif
terhadap semua benda lain, tapi relasi apapun dengan benda lain sebenarnya
termasuk.
Jadi karena waktu tidak
pernah terulang maka setiap benda hanya muncul “sekali” dan setelah itu tidak
pernah berulang lagi. Jadi setiap benda itu tidak dapat dilanggar batasannya
karena bersifat mutlak. Hal yang mungkin dilanggar adalah kategori benda yang
memang dapat diubah. Jadi benda relatif adalah kategori benda yang memang dapat
berubah dan bertambah atau berkurang isinya. Namun benda mutlak secara
kategoris tidak dapat berubah karena hanya ada 1 isinya.
Penetapan benda secara
relatif juga “relatif” karena kategori itu berdasarkan kesadaran, jadi relatif
terhadap kesadaran. Kalau kita menetapkan kategori suatu negara menurut “masa
sekarang”, yaitu yang kita alami secara aktual pada saat sekarang, maka secara
objektif yang terjadi hanyalah perubahan negara-negara yang berbeda dari satu
titik waktu ke titik waktu berikutnya, tapi karena kita mengkategorikan
berdasarkan masa sekarang, isi masa sekarang itu selalu berubah, jadi karena
itu isi bendanya berubah dan dapat kita katakan “relatif” batasannya.
Masalah kemutlakan
terjadi pula karena ada paham bahwa karena berada dalam kenyataan yang sama,
maka ada semacam relasi ekstrinsik antara benda mutlak dan benda mutlak
lainnya. Kalau 1 benda mutlak berubah secara aktual, maka akan terjadi
perubahan pula bagi benda yang tidak berubah. Jadi dapat diperdebatkan bahwa benda
mutlak tidak sepenuhnya mutlak. Belum lagi ada konsep kesadaran yang dapat
mencapai seluruh benda dan artinya bisa saja sebenarnya tidak ada benda mutlak.
Kalau memang ada benda
mutlak, maka benda mutlak itu tidak dapat diakses kesadaran yang ada di satu
benda mutlak lain. Artinya benda mutlak lain adalah benda ekstra fenomenal dan
sama sekali tidak dapat berinteraksi dengan benda kita. Namun artinya sama saja
ada suatu prinsip ekuivalensi atau kesetaraan antara kondisi di mana ada benda
mutlak dan tidak ada benda mutlak. Kalau ada benda mutlak, bagi kita kesadaran
tidak akan ada bedanya dengan saat tidak ada benda mutlak. Karena apa yang
dapat disadari oleh kesadaran sudah ditetapkan baik ada benda mutlak atau tidak
ada benda mutlak. Namun memang akan ada perbedaan objektif jika ada benda
mutlak.
Maka bisa saja bahwa
definisi benda mutlak itu sedikit berbeda dan maksudnya tidak dapat
berinteraksi secara langsung, hanya secara fenomenal. Namun saat kita memahami
konsep perubahan dan aktualitas kembali, memang segalanya akan sedikit lebih
rumit. Perubahan pada dasarnya adalah proses muncul dan menghilangnya benda di
dalam medan aktualitas. Keberadaan selalu ditentukan berdasarkan titik sekarang
dan bukan titik yang lampau atau yang akan datang.
Jadi pada titik sekarang
titik waktunya selalu berubah, ini kepastian. Lalu selain titik waktunya yang
berubah, bendanya juga berubah sebagai akibat. Kita dapat menerapkan sifat
aktual ini pada benda-benda yang ada untuk memperoleh benda yang sejatinya. Ambillah
mobil yang bergerak dari X ke Y, yang bisa berupa RX/RY yang berarti ruang atau
WX/WY yang berarti waktu. Pada WX, mobil aktual di RX sifatnya ada. Pada WY,
mobil di RX sifatnya tidak ada. Tapi bukan pada WX mobil aktual RX ada menjadi
WX mobil aktual RX tidak ada. Jadi sudah berbeda mobil karena berbeda waktu.
Sekarang itu juga tidak
selamanya WX tapi akan menjadi WY, saat menjadi WY semua benda sudah berubah.
Apa yang ada sekarang itu memang berubah, ada semacam peniadaan. Tapi ingat
peniadaan ini hanya secara kategoris. Secara identitas, tidak ada peniadaan,
hanya ada pertukaran. Lalu konsekuensinya bagi benda mutlak? Ya artinya benda
mutlak sepertinya hanya penetapan benda apa saja yang ada dalam suatu benda
dinamis secara mutlak. Misalkan ada benda mutlak hanya terdiri dari 5 benda
relatif lain. Maka secara mutlak perubahan yang ada hanya mengandalkan 5 benda
itu beserta segenap derivasinya.
Misal ada ABCDE dan ada
XYZ, A tidak akan pernah masuk ke XYZ dan X tidak akan pernah masuk ke XYZ.
Atau antara XYZ dan XY, sama-sama ada XY, tapi Z tidak akan pernah ada di XY. Kalau
Z sampai masuk ke XY, berarti sama-sama XYZ, tapi dengan perbedaan-perbedaan
tertentu. Jadi benda mutlak menjelaskan alur perubahan setiap benda yang
berbeda secara mutlak. Misal ada urutan perubahan XYZ dan ada ZYX, keduanya
adalah benda mutlak karena tidak berurusan dengan yang lainnya.
Maka pada akhirnya konsep
benda mutlak dan relatif sedikit runtuh karena rasanya setiap benda itu
terkait. Barangkali jika pada waktu yang akan datang akan ada penjelasan lebih
lanjut tentang benda-benda yang ada dalam kenyataan. Sehingga akan ada
metafisika II, dan semuanya akan menjadi semakin jelas. Namun untuk sekarang
kita sudah selesai dalam menjelaskan metafisika I, esai berikutnya diharapkan
akan mulai menjelajahi dunia kesadaran.
Penutup
Metafisika I sebagai
rangkuman metafisik sampai titik ini sudah selesai dan merangkum 2 konsep yaitu
konsep keberadaan dan konsep kebendaan. Ada beberapa konsep lanjutan yang belum
dituliskan dalam bentuk esai, tapi untuk sekarang kita sudah memiliki gambaran
umum yang jelas tentang sifat kenyataan secara mutlak yang kita tinggali. Mulai
sekarang kita akan semakin dalam terjun ke seluk beluk kenyataan, metafisika I
hanyalah permukaan. Sekiranya pada masa yang akan datang pengetahuan ini dapat
bermanfaat bagi penyusunan filsafat berikutnya.
Comments
Post a Comment