Esai 21-Perubahan II

Pembukaan

Konsep perubahan memang sudah pernah dibahas, tapi menyisakan kompleksitas yang semakin dalam yang tidak dapat dibahas sekilas oleh Metafisika I. Maka pertanyaan-pertanyaan dan kompleksitas-kompleksitas perubahan yang baru ditemukan harus dijawab dalam satu esai yang besar yang komprehensif. Maka judulnya pun “Perubahan II”, dan bukan konsep perubahan yang lebih spesifik, karena akan ada 3 konsep atau subkonsep yang terbahas. Sekiranya esai ini dapat memperjelas konsep atau pemahaman tentang perubahan.

Kekekalan dan Perubahan

Kita mengasumsikan bahwa kekekalan dan perubahan tidak saling melanggar, tapi saat kita menerapkan sifat-sifat yang sepenuhnya ke dalam setiap benda dinamis, maka akan tampak suatu kerumitan yang luar biasa, yang akhirnya memaksa kita untuk merenungkan kembali apakah perubahan sungguh tidak melanggar kekekalan? Awalnya kita memahami bahwa perubahan adalah proses benda “keluar-masuk” wilayah aktualitas, tapi ini sebelum kita mengenali dan memahami bahwa benda jauh lebih mendetil dan sifatnya jauh lebih banyak.

Hal ini tidak lain dan tidak bukan terefleksikan oleh fakta bahwa esai tentang sifat ekstrinsik datang jauh setelah esai tentang perubahan yang pertama. Sekarang kita harus menghadapi bahwa dengan adanya sifat ekstrinsik dan konsep pluralitas, perubahan pun menjadi lebih kompleks. Karena konsep bahwa benda yang ada di dalam medan aktual dan benda yang ada di medan inaktual atau non-aktual adalah 2 benda yang berbeda. Begitu pula 2 benda di 2 titik ruang-waktu yang berbeda adalah 2 benda yang berbeda pula.

Jadi misalkan ada benda dasar atau benda intrinsik X, yang dapat memiliki variabel sifat aktualitas dan variabel sifat ruang-waktu. Untuk menyederhanakan segala hal, anggaplah hanya ada 2 titik ruang dan waktu, yang terdiri dari 1 titik ruang dan 2 titik waktu. Sebagai peringkasan, kita akan melambangkan aktual sebagai tanda + dan non-aktual sebagai -, dan titik ruang-waktu kita namai A dan B. Maka notasinya adalah X, lalu titik ruang-waktu A atau B, dan juga kondisi aktualnya yaitu + atau -.

Dengan itu kita memperoleh 4 kemungkinan benda yang diderivasikan dari X, yaitu XA+, XA-, XB+, dan XB-. Berdasarkan hukum kekekalan dan prinsip pengalaman sadar, setiap benda ini dijamin keberadaannya secara kekal. Maka sekarang bagaimana caranya kita mengaitkan semuanya dalam konsep perubahan. Kita tahu bahwa proses perubahan adalah proses X+ menjadi X- atau X- menjadi X+. Terkesan ini adalah perubahan eksistensial, tapi kita harus memasukkan pula variabel A dan B untuk untuk membuat sistem ini lengkap.

Untuk menciptakan model yang dapat dipahami kita harus menyusun skenarionya. Skenarionya sebagai berikut, A dan B merujuk pada titik ruang yang sama, jadi X tidak berubah posisi, tapi waktunya pasti berubah. Maka A dan B lebih mengartikan titik waktu yang berbeda, sehingga ada titik A dan B. Bagian kedua dari skenarionya adalah pada titik A, benda X hadir secara aktual, dan pada titik B, benda X tidak hadir secara aktual, misalnya digantikan oleh benda lain, tapi kita tidak mempermasalahkan benda itu. Maka dari A ke B, ada perubahan aktualitas dalam benda X.

Sekarang kita perjelas dan kita ingat kembali, apa yang dimaksud dengan aktualitas? Kondisi aktual artinya dialami dengan sadar pada saat itu pula, pada “saat sekarang”. Jadi jika pada saat sekarang benda dialami dengan sadar, maka benda itu bersifat aktual, jika benda itu tidak dialami dengan sadar, benda itu tidak bersifat aktual atau bersifat tidak aktual. Untuk penyederhanaan pengalaman dianggap sebagai totalitas dan tidak dibagi-bagi antara pengalaman pikiran dan pengalaman indera.

Maka kita dapat menggambarkan skenario tersebut sebagai notasi atau alur berikut yaitu XA+ --> XB-. Sekarang pertanyaannya, sebelumnya ada 4 benda tapi sekarang hanya ada 2 benda yang terlibat, yaitu XA+ dan XB-. Lalu di manakah XA- dan XB+, dan pada titik A di manakah XB- dan pada titik B, di manakah XA+? Inilah kompleksitas yang dimaksud, dan akan mengarah pada permenungan ulang tentang perubahan dan relasinya dengan kekekalan.

Kembali ke topik, kita harus memahami kembali arti-arti dari setiap lambang tersebut. Saat kita berkata XA+, artinya X yang bersifat aktual pada titik waktu A, saat kita berkata XB-, artinya X yang bersifat tidak aktual pada titik waktu B. Maka artinya pada titik waktu A, X bersifat aktual, tapi pada titik waktu B, X bersifat tidak aktual. Namun apa yang sungguh terjadi dalam konsep perubahan tersebut? Apakah XA+ menghilang dan digantikan oleh XB-? Sepertinya tidak, kalau merujuk pada hukum kekekalan ada hal lain yang terjadi.

Jadi pada titik A, XB- sebenarnya ada, dan pada titik B, XA+ pun juga ada, tapi sepertinya ada yang beda antara keberadaan XA+ pada titik A dan keberadaan XB- pada titik yang sama. Dengan itu kita harus memperkenalkan atau menyadari suatu konsep baru, yaitu aktualitas kenyataan, yang berbeda dengan aktualitas kesadaran. Aktualitas kenyataan dapat dinyatakan sebagai “kondisi sekarang” dari kenyataan, yaitu kondisi yang berlaku atau yang sungguh hadir dalam suatu kenyataan menurut suatu titik waktu.

Karena sekarang selalu berubah, maka aktualitas kenyataan sesungguhnya berubah karena waktu selalu berubah. Dulu, sekarang adalah A, tapi sekarang, sekarang adalah B. Mungkin dengan contoh waktu nyata akan lebih jelas. Dulu pada tahun 1945, sekarangnya adalah tahun 1945. Namun pada saat sekarang sesuai dengan yang kita alami, sekarangnya adalah tahun 2020, dan 1945 bukanlah sekarang lagi.

Dengan ini kita memperkenalkan 1 variabel lagi ke dalam sistem kebendaan yang kita miliki, sehingga sebenarnya bisa ada 8 benda mungkin, tapi kita tidak akan mempertimbangkan semuannya karena akan sangat panjang. Untuk penyederhanaan kita pakai saja 2 benda yang dipertimbangkan yaitu XA+ dan XB-. Karena sebenarnya sifat aktualitas lebih tinggi dari sifat ruang-waktu, kita ubah saja A dan B menjadi huruf kecil yaitu a dan b, sementara huruf besar A dipakai untuk melambangkan aktualitas kenyataan. Untuk notasi, A akan ditaruh di depan, dan untuk varian A yaitu aktual dan tidak aktual akan dipakai A+ dan A-.

Hasilnya adalah A+Xa+, A-Xa+, A+Xb-, dan A-Xb-. Ingat, A akan bersifat relatif pada titik a atau b. Maka A yang digabungkan pada titik a, artinya kondisi A pada titik a tersebut, dan bukan pada titik b atau titik lainnya. Mari kita teliti arti setiap benda tersebut. A+Xa+ adalah benda X pada titik a yang sifatnya aktual dalam konteks kesadaran dan keseluruhan sistem itu sedang berlaku pada titik a. A-Xa+ adalah Xa+ tapi dalam kondisi yang tidak berlaku, maka yang berlaku pada kenyataan di titik a adalah yang lain, misalnya Xa-.

A+Xb- artinya benda Xb- yaitu X yang tidak aktual dalam konteks kesadaran di titik b, sedang dalam kondisi berlaku. Artinya kenyataannya pada titik b adalah X sedang bersifat tidak aktual. Kalau A-Xb- artinya benda tersebut tidak berlaku, bisa saja yang berlaku adalah Xb+. Lagi-lagi kita dapat menggambarkan skenario keseluruhan hanya dalam 2 benda saja, yaitu A+Xa+ --> A+Xb-. Mengapa keduanya A+? Karena pastinya yang kita deskripsikan adalah kenyataan yang sedang berlaku, tapi bisa saja kita gabungkan antara A+ dan A- atau hanya dengan A-. Ini pastinya akan melibatkan 6 benda lainnya.

A+Xa+ --> A+Xb- setara dengan A+Xa+ --> A-Xb+, atau A-Xa- --> A+Xb-, dan terakhir adalah A-Xb+ --> A-Xb+, semua kalimat ini menyatakan 1 hal yang sama, yang pada dasarnya adalah A+Xa+ --> A+Xb-. Namun ini bukan berarti bahwa A+Xb- sama dengan A-Xb+ adalah 2 benda yang sama, melainkan kehadiran satu benda mengimplikasikan kehadiran benda yang lainnya. Jika pada titik b, X yang tidak aktual sedang berlaku, maka kita dapat menyimpulkan bahwa X yang aktual pada titik b sedang tidak berlaku.

Namun kembali pada permasalahan perubahan, apa yang dimaksud jika A+Xa+ --> A+Xb-  dalam konteks dinamis? Apakah A+Xa+ menghilang dan digantikan oleh A+Xb-? Tidak juga, karena Xa+ selamanya hadir di titik a dan bukan di b, jadi bukan menghilang. Namun Xa+ jelas saja tidak hadir di b juga, jadi kita dapat melapiskan a dan b menjadi A-(Xa)b. Artinya X yang ada di titik a jelas tidak ada di titik b karena berbeda hakikat.

Mungkin kita harus sedikit berputar ke konsep imajinasi. Kita dapat menempelkan label A- pada setiap benda yang dapat kita bayangkan tapi tidak sesuai dengan pengalaman sadar atau kenyataan yang riilnya. Xa jelas tidak ada di b baik itu Xa+ atau Xa-, tidak ada bedanya. Tapi kita dapat membayangkan Xa hadir di titik b, tapi tidak akan berlaku maka kita labeli A-. Xa- juga tidak berlaku di titik a jika skenarionya menyatakan A+Xa+.

Pertanyaan penting lagi, jika ada A+Xa+ yang menandakan juga kehadiran A-Xa-, di manakah A-Xa+ dan A+Xa- ? Jawabannya adalah mereka juga dapat kita labeli A- di depannya karena bukan kenyataan yang berlaku. Untuk berkata A-A-Xa+ sama saja berkata bahwa A-Xa+ kondisinya tidak berlaku dan yang berlaku adalah A+Xa+. Untuk berkata A-A+Xa- sama saja berkata bahwa A+Xa- tidak berlaku, maka artinya A-Xa-. Penerapan label A+ atau A- dapat kita perpanjang tanpa henti, tapi akan merujuk kembali dan dapat selalu kita persingkat dalam suatu “perkalian” aktualitas menjadi lapisan aktualitas kenyataan yang pertama.

Mungkin kita telah berputar terlalu banyak tanpa menjawab pertanyaan yang pentingnya, apakah perubahan sungguh terjadi, dalam wujud apa, dan apakah melanggar kekekalan? Kita harus memahami kembali bahwa perubahan adalah kenyataan yang terjadi secara fenomenal. Karena kesadaran bagian dari kenyataan, maka perubahan juga menjadi bagian dari kenyataan. Namun hukum kekekalan mengandaikan tidak mungkin ada perubahan yang sungguh “mengubah”. Maka semua notasi benda ini dibutuhkan untuk melandaskan konsep perubahan.

Jadi ada A+Xa+ --> A+Xb-. Kalau bendanya sendiri tidak berubah, bisa jadikah yang berubah itu memang hanya kesadaran kita? Namun perubahan secara fenomenal pun mengandaikan adanya yang “hilang” secara mutlak, dan ada yang “muncul” secara mutlak. Ya benda dasarnya akan “selamanya” hadir, tapi benda yang diperpanjang, yang lengkap dalam segala kelengkapan fenomenal dan aktualnya sepertinya ada yang menghilang. Kalau kita melihat secara keseluruhan sulit dikatakan ada yang “berubah”. Maka mungkin kita harus mengubah sudut pandang menjadi sudut pandang yang terbatas, yang subjektif.

Kalau misalnya kita sedang berada di titik a, maka semua kita dasarkan pada titik a tersebut, dan sekarang adalah titik a. Maka benda X di titik b tidak mungkin ada di titik a sekeras apapun kita membayangkannya, hanya ada dalam kondisi tidak berlaku atau kondisi imajinatif. Begitu pula Xa- juga tidak ada karena faktanya kita dapat mengalami X jadi hanya ada Xa+. Karena itu kita dapat melengkapinya dengan menyatakan A+Xa+ dan A-Xa-. Lalu tiba-tiba menjadi titik b, apa yang terjadi?

Pada saat itu kita tidak lagi menyadari X, dan X yang bersifat aktual itu pada titik itu hilang. Jadi dari perspektif kesadaran yang selalu berorientasi pada sekarang, X yang aktual sungguh hilang dan menjadi “tiada”. Maka kita harus mengambil perspektif sekarang. Menurut sekarang, yang sifatnya memang sangat terbatas, pada awalnya ada Xa+, lalu menjadi Xb-, jadi Xa+ sungguh hilang dan digantikan oleh Xb-. Namun apakah hilang dan hancur sepenuhnya sampai hilang dari sejarah? Tidak juga.

Dari perspektif sekarang, memang ada kehilangan Xa+, tapi itu bisa digambarkan dengan penetapan A-Xa+ atau A+Xb-. Jadi Xa+ tetap “hadir”, hanya saja pada kondisi yang biasanya kita katakan “tidak ada” atau “tidak hadir”, tapi sebenarnya hanya dalam kondisi “tidak berlaku”. Dalam hal ini kehilangan hanyalah proses di mana awalnya A+Xa+ menjadi A-Xa+. Jadi pada titik sekarang, memang A+Xa+ menjadi sepenuhnya hilang? Tidak, karena dapat dijelaskan sebagai A-A+Xa+.

Sebelum segalanya menjadi semakin rumit dan kompleks, bisakah sekarang kita menarik kesimpulan dari segala notasi eksistensial-aktual-fenomenal tersebut? Bisa, kesimpulannya adalah kalau kita berusaha melihat dari keseluruhannya, tidak ada kehilangan dan tidak ada perubahan. Perubahan tapi tetap terjadi menurut perspektif sekarang dan perspektif kesadaran, dan dengan itu ada kehilangan di lapisan sekarang atau lapisan kesadaran. Jadi barangkali kita harus menerapkan satu variabel terakhir yaitu S, yang berarti Sekarang atau bisa juga Sadar.

Label S ini akan terus berpindah posisi. Ada SXa+ pada saat titik a, lalu menjadi SXb-. Namun tanpa memperumit kondisi, karena masalah imajinasi yang selalu saja membuat segalanya menjadi lebih rumit, kita dapat menjelaskan perubahan sebagai berikut. Perubahan memang terjadi, tapi tepatnya adalah perubahan aktualitas yang sifatnya dapat diperpanjang tanpa henti dengan makna-makna yang sama dengan satu lapisan aktualitas saja. Segala benda dapat menjadi tidak ada tapi hanya secara kategoris atau dalam konteks kesadaran dan sekarang. Jadi ketiadaan atau kehilangan benda hanyalah ketidaklengkapan kesadaran, karena dapat digambarkan selalu dengan label A-.

Jadi sekalipun ada kehilangan, kehilangan itu bersifat relatif karena ada label A- yang menyimpan semua benda dasarnya, atau tepatnya menyelamatkannya dari ketiadaan mutlak. Ketiadaan mutlak terjadi saat kita bahkan tidak mampu membayangkannya dari titik a sampai b, dengan a sebagai awal mutlak kalau ada, dan b sebagai akhir mutlak kalau ada. Benda-benda hanya berakhir “menurut kita”, dan bukan menurut kenyataan. Menurut kenyataan, tidak ada yang hilang dan tidak ada yang berubah. Kesimpulannya tidak ada benda yang hilang dan tidak ada hukum yang dilanggar, karena perubahan sungguh adalah gejala kesadaran saja.

Perubahan Interaktif

Subtopik ini harusnya tidak serumit atau sesulit subtopik yang pertama, tapi memang akan cukup mendalam juga. Seringkali kita memahami bahwa ada perubahan tunggal yaitu benda yang berubah sendiri dan ada juga perubahan jamak, saat 2 benda atau lebih saling mengubah dalam suatu “interaksi”. Namun konsep interaksi sebenarnya menjadi kurang masuk akal atau kurang penting begitu kita memahami kembali dasar-dasar perubahan.

Karena perubahan hanyalah aliran kenyataan atau pergerakan kesadaran yang setiap perubahan mengubah semua benda secara total, maka sebenernya setiap perubahan hanyalah perubahan benda mutlak yang total, dan perubahan 1 benda relatif sudah mengubah semua benda lain. Jadi barangkali setiap perubahan adalah interaksi, karena perubahan mengubah benda lain dan juga dirinya sendiri. Namun tentu yang dimaksud dengan interaksi adalah saat 2 benda relatif atau lebih saling berelasi dan berinteraksi saling mengubah, saat itu apakah yang terjadi?

Misalkan ada bola yang bergerak melaju ke bola lain, sehingga bola pertama kita labeli X berubah arah dan bola kedua yaitu Y menjadi bergerak. Jadi interaksi antara kedua benda X dan Y sama-sama mengakibatkan perubahan bagi X dan Y. Kalau kita pandang dari sudut pandang totalitas memang setiap kali X berubah posisi, ini juga sudah mengakibatkan perubahan bagi Y. Maka interaksi sepertinya lebih baik dipandang dari perspektif yang lebih lokal.

Secara intrinsik memang ada perubahan yang terjadi saat X mengenai Y. X arah pergerakannya berubah dan Y juga yang awalnya tidak bergerak menjadi bergerak karena dikenai X. Maka interaksi lebih merupakan fenomena intrinsik daripada gejala total, dan dapat disadari saat kita mengamati bahwa 2 benda relatif bertemu dan mengakibatkan perubahan bagi kedua benda tersebut. Secara keruangan ini biasanya melibatkan kontak baik dari jarak dekat atau jarak jauh. Misalnya komunikasi jarak jauh adalah contoh interaksi pula.

Kita juga harus berpikir secara kategoris saat berpikir secara intrinsik, karena yang berubah adalah isi dari suatu kategori, maka saat 2 benda secara kategoris bertemu dan mengakibatkan perubahan yang substansial pada isi kategori tersebut, maka di situlah terjadi suatu perubahan interaktif. Sebenarnya tidak banyak yang dapat dibicarakan tentang suatu perubahan interaktif, karena pada dasarnya tetap perubahan. Perspektif lokal mungkin penting, tapi perspektif paling penting tetaplah yang total di mana isinya hanyalah perubahan kesatuan secara mutlak.

Namun aku mengakui ada pentingnya dari perspektif lokal, yaitu supaya kita dapat mengetahui aspek mana dari benda mutlak kita yang harus kita ubah. Kalau selamanya melihat dari perspektif total akan sulit untuk meneliti mana detil yang harus diubah untuk mencapai suatu tujuan yang diinginkan. Karena sekalipun kita telah ditentukan, kita mewakili kuasa masa lalu kita untuk mempengaruhi dan membentuk masa depan.

Mungkin pertanyaan yang bisa kita gali lebih dalam adalah mengapa interaksi bisa terjadi? Mengapa ada benda-benda yang bisa saling bertemu dan mengakibatkan perubahan secara intrinsik? Jawabannya sebenarnya sederhana tapi dapat menjelaskan perbedaan antara 3 jenis perubahan. Jawabannya kembali lagi pada sifat dinamis suatu benda. Kalau kita ingat, sifat dinamis menetapkan suatu benda untuk berubah dan menetapkan pula syarat-syarat perubahan serta tujuan perubahan.

Secara umum sifat dinamis ini dapat kita bagi menjadi 3 jenis, yaitu sifat dinamis tentu berpola, sifat dinamis tentu tak berpola, dan sifat dinamis tak tentu. Sifat dinamis tentu berpola artinya ada pola-pola perubahan yang berlaku untuk semua benda dalam suatu benda mutlak sehingga kalau semua pola atau hukum ini disusun, dapat menyatakan suatu alur perubahan yang tentu. Sifat dinamis tentu tak berpola artinya semuanya sudah terprogram tanpa suatu pola tertentu. Sifat dinamis tak tentu atau acak artinya perubahan akan terjadi tapi secara acak.

Interaksi terjadi dalam kondisi berpola, karena hukum-hukum ini pada hakikatnya cenderung adalah hukum interaktif, bahwa jika X dan Y berinteraksi maka akan ada perubahan sebagai berikut pada X dan Y. Misalnya konsep hukum gerak Newton berlaku saat bola X mengenai bola Y. Dalam kondisi tak berpola, bisa saja bola X mengenai bola Y dan tidak terjadi perubahan apapun pada Y dan X juga “menembus” Y dan tetap bergerak di arah yang sama dengan segala sifat fisik pergerakan yang sama. Biasanya konsep tak berpola ini berlaku jika interaksi antar benda tidak bersifat konsisten sekalipun sifat intrinsiknya sama.

Merupakan suatu tugas kita sebagai makhluk sadar untuk meneliti apakah ada pola interaksi atau tidak. Konsistensi dalam suatu interaksi menandakan suatu pola atau hukum perubahan yang berlaku untuk semua benda yang menampilkan konsistensi tersebut. Seandainya ada inkonsistensi berarti ada perbedaan sifat yang signifikan sehingga dapat menampilkan suatu inkonsistensi. Misalnya dengan contoh X dan Y, seandainya saat X dan Y berinteraksi dengan semua benda lain menampilkan hasil yang konsisten, maka ada perbedaan sifat atau program kausal saat X dan Y berinteraksi sehingga menjadi inkonsisten.

Secara umum perubahan tetap “disuplai” atau didorong oleh masa lalu mereka, baik itu sifatnya momentum, inersia, atau emosi, atau lain halnya, adalah suatu sifat dinamis yang mendorong mereka untuk berubah. Sifat dinamis itu bagaikan fungsi matematis yang terus berjalan, dan setiap output akan menjadi input untuk fungsi itu sendiri dan menjadi output berikutnya begitu terus tanpa akhir atau mungkin dengan “akhir”. Maka aku pikir konsep perubahan interaktif ini sudah cukup jelas.

Alur-alur Perubahan

Konsep ini sangat terkait dengan ide benda mutlak. Bahwa setiap benda mutlak dapat dikatakan sebagai satu kesatuan benda yang memiliki suatu alur perubahan yang unik dan berbeda dari yang lain. Karena itu disebutkan bahwa benda mutlak tidak dapat berinteraksi dengan benda lain, karena setiap benda mutlak terdiri dari serangkaian benda relatif yang pasti sebagai bahan perubahannya. Jumlah benda relatif ini bisa saja tak terhingga, tapi cakupannya kemungkinan besar akan terbatas.

Berdasarkan subtopik sebelumnya, perubahan dapat bersifat tentu atau tak tentu. Kalau suatu perubahan sifatnya tentu, maka kita dapat mengetahui seluruh perubahan yang akan terjadi pada benda mutlak tersebut. Kalau perubahan pada benda tersebut memiliki unsur tak tentu, maka perubahannya tidak dapat kita ketahui sepenuhnya, melainkan hanya sebagian dan paling banyak kita ketahui sebagai probabilitas. Karena memang perubahannya belum ditentukan dan baru akan ditentukan secara acak pada saat titik waktu perubahan.

Satu alur perubahan tidak mungkin mempengaruhi alur perubahan lainnya dalam arti terjadi interaksi intrinsik. Karena kalau itu terjadi, maka 2 alur perubahan itu sebenarnya bagian dari 1 alur perubahan yang lebih besar, dan adalah bagian dari 1 benda mutlak yang lebih besar pula. Jadi memang konsep benda mutlak paling cocok didasarkan pada konsep bahwa adanya alur-alur perubahan.

Apa pendasaran alur-alur perubahan? Sederhana saja yaitu imajinasi, kita membayangkan bahwa ada dunia-dunia lain yang memiliki alur perubahan yang berbeda dengan dunia kita sendiri. Mungkin kita dapat berinteraksi dengan dunia-dunia tersebut dan mungkin saja tidak. Namun berdasarkan bermacam-macam karya fiksi yang ada, dipastikan harus ada semacam alur perubahan yang beragam di dalam kenyataan ini. Jadi ini hanya pemenuhan prinsip pengalaman sadar.

Tidak banyak juga yang dapat dikatakan tentang alur-alur perubahan karena hanya menjelaskan tentang suatu keberadaan yang diperoleh berdasarkan imajinasi digabungkan dengan konsep benda mutlak lainnya. Secara ringkas, alur perubahan menjelaskan semua perubahan yang akan terjadi dalam satu aliran waktu, maka ada berbagai macam aliran waktu atau alur perubahan yang menjelaskan berbagai aliran perubahan yang berbeda. Antara satu alur dan alur lainnya tidak dapat berinteraksi karena memang itulah definisi mereka.

Penutup

Maka secara umum kita telah cukup menjelaskan 3 konsep perubahan yang dirasa penting. Konsep pertama adalah konsep terpenting karena merekonsiliasi kekekalan keberadaan dengan perubahan. Konsep kedua menjelaskan bagaimana interaksi terjadi dalam perspektif yang total, dan konsep ketiga menjelaskan tentang bagaimana adanya alur-alur perubahan yang terjadi sebagai wujud benda mutlak. Dengan itu esai ini dinyatakan selesai.

Comments

Popular posts from this blog

Essay 5-Conscious Experience

Essay 21-Change II

Essay 15-Original and Derivative Objects