Esai 22-Ruang dan Waktu

Pembukaan

Selama ini kita banyak membahas tentang ontologi dan kebendaan tapi tidak tentang suatu unsur metafisik yang dirasa penting dalam konteks fisik dunia mutlak ini yaitu ruang dan waktu. Ruang hampir tidak pernah dibahas, tapi waktu sebenarnya sudah banyak disinggung dalam konsep-konsep tentang perubahan. Alasannya sederhana, karena keduanya bukan unsur yang paling penting dan juga sudah sebagian dibahas, tapi sekarang kedua konsep ini akan dibahas sampai dinilai tuntas.

Ruang

Ruang adalah wadah atau sarana benda-benda dapat ditata atau diorganisir dalam suatu tatanan kebendaan mutlak. Sebenarnya sulit sekali menjelaskan aspek-aspek ruang karena merupakan fenomena kesadaran dan tanpa kesadaran akan sedikit sulit menjelaskan atau memahami keruangan. Ruang hadir begitu saja, dan karena kita menyadarinya, keberadaannya terjamin dan bukan hanya konstruksi pikiran.

Ruang harap dibedakan dengan ruang dalam istilah fisika karena ruang yang fisik itu dapat kita kenali sifatnya secara pasti, tapi ruang secara filosofis sedikit lebih abstrak. Sesulit apapun kita mendefinisikan ruang, kita dapat mendefinisikan beberapa sifat atau karakter dari ruang. Ruang berfungsi untuk menyatakan perbedaan benda-benda secara lebih jelas dalam kesadaran kita, dan ruang berfungsi sebagai pemisah antara benda-benda sehingga kita dapat menyadari mereka dengan lebih pasti.

Ini bukan berarti ruang didesain untuk fungsi semacam itu, tapi bahwa ruang memiliki konsekuensi semacam itu terhadap kesadaran kita. Kalau kita teliti, 2 benda yang terpisah dalam ruang sebenarnya dipisahkan oleh hamparan “ketiadaan”, bukan ketiadaan mutlak tentunya melainkan ketiadaan semu. Ketiadaan karena pada jarak yang memisahkan antara 2 benda itu tidak ada benda lain secara aktual dalam konteks kesadaran. Kalau kita tidak sedang membayangkannya, maka kehadiran rohani juga dapat diperdebatkan.

Dalam esai-esai sebelumnya sepertinya pernah dikatakan bahwa ruang adalah fitur khas dari benda mutlak, ini memang benar. Dalam kenyataan yang lebih luas, tidak dapat dikatakan bahwa ada semacam ruang antara benda-benda mutlak. Ibaratnya begini, tidak dapat dikatakan bahwa ada semacam ruang pemisah atau ruang tatanan 3 dimensi antara dunia inderawi dan dunia rohani dalam arti filosofis.

Sebenarnya satu-satunya pendasaran adalah harus adanya relasi ekstrinsik yang paling sedikit antara berbagai benda mutlak, tapi itu pun sudah dipatahkan jadi bisa saja ada ruang antara benda-benda mutlak dan keruangan adalah aspek yang sifatnya bukan hanya universal tapi realistis. Kebenaran tentang apakah ada ruang di antara benda mutlak tidak dapat dibuktikan kecuali ada kesadaran yang dapat menerawang ke semua benda mutlak.

Adapula alasan bahwa ruang bukanlah aspek yang begitu hakikat dalam kenyataan, ruang hadir secara sendirinya tanpa dikaitkan dengan konsep keberadaan. Keberadaan tidak mengimplikasikan ruang, jadi ruang sifatnya kontingen, tidak wajib. Maka kalau pada tingkat tertinggi kenyataan tidak memiliki ruang masuk akal saja bahwa hal itu akan terjadi. Jadi masalah ruang pada akhirnya lebih merupakan masalah kepercayaan, apakah ada ruang yang meliputi seluruh kenyataan atau ruang hanyalah fitur lokal dari setiap benda mutlak yang ada.

Aku membayangkannya begini, sebagai kompromi bisa saja ada 2 rupa dunia yaitu dunia beruang dan dunia tidak beruang. Hanya saja tetap saja pada tingkat tertinggi kenyataan masih menjadi pertanyaan. Hal yang pasti dunia-dunia yang tidak ada ruangnya ada, misalnya dunia dengan benda tunggal yang tidak dilengkapi dengan sifat spasial. Jadi ruang memang tidak realistis, melainkan sifatnya lokal, karena ada benda-benda yang tidak memiliki ruang. Sisanya, hanya Tuhan yang tahu.

Waktu

Di mana ruang bukan suatu unsur yang realistis, waktu jelas realistis dan berlaku untuk seluruh kenyataan. Waktu kurang lebih dapat dinyatakan sebagai aliran kenyataan secara progresif yang selalu berubah ke arah depan, itulah waktu. Waktu filosofis juga dibedakan dengan waktu fisik karena ada unsur-unsur yang sedikit berbeda. Waktu filosofis berlaku untuk seluruh kenyataan karena konsekuensi sifat ekstrinsik yang ada.

Dalam hal ini waktu tidak pernah berulang karena selalu bergerak dan karena itu ada konsep perubahan dan juga masa sekarang. Namun dapat diargumentasikan bahwa waktu juga lokal karena dalam perspektif yang total, yang dapat melihat semua titik waktu bersamaan tidak ada perubahan, perubahan hanya terjadi di masa sekarang dan pada tingkat kesadaran. Kesadaran supremasi semacam Allah tidak melihat adanya perubahan, melainkan suatu kesatuan eksistensi kenyataan yang abadi.

Waktu sebenarnya bisa dikatakan juga ada hanya karena perubahan. Di dalam kenyataan potensial yang tidak memiliki perubahan, maka tidak ada cara untuk membedakan antara satu titik waktu dengan titik waktu lainnya karena tidak ada perubahan yang riil kecuali kita melabelinya atas dasar kesadaran. Namun itu pun membutuhkan perubahan kesadaran, skenario yang kita masuk sungguh tanpa perubahan bahkan di tingkat kesadaran, jadi tindakan pelabelan itu menjadi mustahil.

Maka waktu lebih tepatnya adalah aliran perubahan dalam kenyataan, di mana waktu adalah aliran perubahan. Misalnya waktu di dunia fisik kita pun didefinisikan berdasarkan perubahan yang terkecil, yaitu waktu Planck, yaitu waktu yang dibutuhkan cahaya untuk bergerak sejauh 1 jarak Planck. Maka satu satuan waktu dalam dunia apapun atau dalam kenyataan itu sendiri adalah waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan untuk satu perubahan terkecil yang bermakna dalam kenyataan. Waktu adalah mengalirnya kondisi-kondisi tersebut dalam perubahan.

Beberapa Sintesis

Ruang dan waktu sepertinya memiliki kesamaan dalam hal mereka smaa-sama tidak dapat diimplikasikan dari kesadaran tapi sama-sama hadir begitu saja dalam pengalaman sadar kita dan karena hukum pengalaman sadar menjadi terjamin keberadaan dan kehadirannya karena mampu berinteraksi dengan kesadaran kita. Namun entah kenapa aku merasa bahwa waktu lebih fundamental daripada ruang. Barangkali alasannya sebagai berikut.

Ruang dapat diderivasikan dari waktu, dan barangkali konsep ruang sudah ada dalam waktu. Karena waktu mengalir seperti sungai, maka ada suatu garis waktu, dan karena itu benda-benda sudah tertata dalam “ruang” yaitu ruang waktu. Waktu menjadi ruang primordial, untuk menata benda-benda dan rasanya suatu kesadaran akan melambangkan aliran waktu sebagai garis waktu juga jadi ruang menjadi tertanam dalam waktu.

Waktu juga merupakan hasil abstraksi dari konsep perubahan yang lebih mendasar dan mencakup semua benda yang ada. Ruang dapat dibuktikan tidak mencakup semua benda karena ada benda-benda yang tidak memiliki ruang. Namun karena sifat ekstrinsik semua benda, maka waktu berlaku untuk setiap benda tanpa pengecualian menurut waktu mutlak atau waktu realistis. Kehadiran waktu mutlak atau waktu realistis juga dapat dibuktikan sementara kehadiran ruang yang mutlak atau realistis mustahil untuk dibuktikan.

Di lain pihak, ruang justru menjadi wadah konkrit untuk segala macam benda yang konkrit. Rasanya ruang harus ada untuk kehadiran berbagai macam benda konkrit. Sementara di alam abstrak, bagaimana mungkin ada ruang untuk berbagai benda yang ada? Kita dapat membayangkan tatanan ruang rohaninya sebebas apapun yang kita mau, atau dalam arti sebenarnya tidak ada ruang di dunia rohani dan yang ada hanyalah imajinasi kita mengaplikasikan ruang ke dalam dunia abstrak yang sebenarnya tidak beruang.

Penutup

Ada beberapa intisari yang dapat kita petik dari konsep ruang dan waktu dalam esai ini. Ruang dan waktu sama-sama hadir begitu saja dan tidak diimplikasikan oleh keberadaan, tapi dijamin keberadaannya oleh pengalaman kita akan kedua unsur kenyataan tersebut. Ruang cenderung lebih lokal dan konkrit sementara waktu berlaku bahkan untuk benda-benda yang abstrak dan juga seluruh kenyataan sehingga ada waktu realistis tapi tidak dapat dibuktikan apakah ada ruang realistis atau hanya ada ruang lokal. Dengan itu esai ini dinyatakan selesai.

Comments

Popular posts from this blog

Essay 5-Conscious Experience

Essay 21-Change II

Essay 15-Original and Derivative Objects