Esai 23-Kesadaran

Pembukaan

Dalam sistem filsafatku, kesadaran mengambil posisi penting karena melalui kesadaranlah kebenaran diperoleh. Namun selama perjalanan metafisik kita, sepertinya belum ada penjelasan atau pembahasan tentang kesadaran yang begitu mendalam. Padahal ada berbagai macam aspek kesadaran yang layak dan penting untuk dibahas untuk memahami posisi kesadaran dalam kenyataan secara lebih baik. Oleh sebab itu, dihadirkan mega esai ini untuk menjelaskan secara mendalam berbagai aspek mendasar tentang kesadaran atau pengalaman sadar.

Pengalaman Sadar

Kita sudah pernah membahas tentang pengalaman sadar sebagai totalitas pengalaman manusia yang mencakup pengalaman inderawi dan pengalaman mental secara komprehensif. Namun kita harus mensintesis pengetahuan yang kita miliki sebelumnya untuk memperoleh pemahaman yang lebih lengkap. Kita tahu bahwa di balik pengalaman sadar selalu ada suatu benda, pertanyaan dulu adalah apakah benda itu adalah pengalaman sadar itu sendiri atau benda yang terpisah dan independen?

Sekarang kita telah memperoleh jawabannya, bahwa di balik setiap pengalaman sadar adalah suatu benda yang independen dan terpisah dari diri kita sendiri. Memang kita hanya memiliki pengalaman sadar tapi melalui penalaran kita memperoleh pengetahuan bahwa setiap pengalaman adalah jendela untuk melihat kenyataan yang sungguh objektif. Maka sebenarnya tidak ada benda yang hanya merupakan konstruksi pikiran atau mental, melainkan setiap benda yang dialami adalah benda yang objektif dan nyata.

Dengan itu kita dapat kurang lebih mendeskripsikan apa yang terjadi saat kita memiliki pengalaman sadar. Pengalaman sadar akan suatu benda diperoleh saat benda memasuki wilayah cakupan pengalaman sadar dari suatu benda yang sadar. Dengan itu terjadilah suatu interaksi kesadaran, di mana kita menjadi sadar akan suatu benda, dan benda itu menjadi disadari oleh kita sebagai makhluk sadar. Dalam kata lain, pengalaman sadar adalah hasil dari interaksi antara kesadaran dan benda objektif.

Akan tetapi, penjelasan di atas adalah penyederhanaan yang ekstrim. Karena kalau kita mengingat konsepsi tentang benda yang utuh yang meliputi suatu sifat ekstrinsik, maka masalah pengalaman sadar juga akan semakin rumit. Sebenarnya sulit dikatakan bahwa benda memasuki dan keluar dari pengalaman sadar, karena benda yang disadari dan benda yang tidak disadari sudah 2 benda yang berbeda. Hal ini diperumit jika kita menambah unsur waktu karena pasti ada unsur waktu yang terlibat dalam segenap masalah ini.

Supaya segala hal menjadi jelas, mari kita ilustrasikan suatu model perubahan kesadaran yang sederhana. Misalkan pada titik waktu a kita tidak mengalami suatu benda X, lalu pada titik waktu b yang datang berikutnya kita mengalami X. Dengan konsep notasi yang diperkenalkan pada salah satu esai sebelumnya, kita dapat menuliskannya dengan notasi Xa- --> Xb+. Dalam hal ini + artinya disadari dan – artinya tidak disadari. Xa- artinya X pada titik a yang tidak kita sadari, dan Xb+ artinya X pada titik b yang kita sadari.

Jadi tidak ada 1 X yang bergerak dari a ke b dan dari – ke +, melainkan ada 2 benda yang benar-benar berbeda dan awalnya kita mengalami X yang tidak dapat dialami, jadi kita tidak mengalami X, lalu pada titik waktu b kita mengalami X yang dapat dialami, jadi kita mengalami X. Solusinya mungkin untuk menjelaskan bahwa yang bergerak adalah pengalaman sadar atau kesadaran, bergerak dari titik a ke b dan menjumpai kondisi-kondisi kenyataan yang demikian.

Sayangnya itu pun masih merupakan penyederhanaan, karena ingatlah bahwa kesadaran yang ada di titik waktu yang berbeda juga merupakan kesadaran yang berbeda. Jadi pergerakan macam apa yang ada? Ini sebenarnya pengulangan dari masalah perubahan yang mengarah pada suatu kerumitan yang luar biasa. Sebenarnya berdasarkan pengalaman sadar kita, memang ada suatu pergerakan, fakta bahwa ada pergerakan kesadaran atau benda-benda tidak dipatahkan oleh fakta bahwa kita dapat mendeskripsikan semua pergerakan itu sebagai suatu alur yang seakan-akan tidak ada perubahannya.

Pergerakan ini juga dapat terjadi tanpa harus melanggar kekekalan keberadaan karena kita selalu dapat menerapkan sifat-sifat ekstrinsik yang baru terhadap suatu benda dasar dan di situ setiap benda menjadi kekal keberadaannya. Sebagai akhir dari subtopik ini baiknya kita refleksikan kembali notasi tadi. Saat kesadaran ada di titik a, maka kita dapat menerapkan lapisan baru dari sifat pengalaman yaitu (Xa-)+. Artinya itu yang kita sadari pada titik a. Lalu pada titik b menjadi (Xa-)-, atau kita tidak lagi menyadari Xa- karena X sudah menjadi + dan juga menjadi b.

Ya dalam konteks sekarang (Xa-)+ “hilang” dan “hancur”, digantikan oleh (Xa-)-. Namun itu tidak lengkap, sesungguhnya yang ada ialah (Xa-)a+ dan juga (Xa-)b-. Artinya Xa- kita sadari di titik a dan tidak kita sadari di titik b. Jadi sekarang itu memang selamanya tidak lengkap karena ya hanya berdasarkan sekarang, jadi ada kesan terjadi ketidakkekekalan. Namun semua dapat dijelaskan berdasarkan titik-titik waktu relatifnya dan dengan itu tidak ada yang hancur atau hilang. Justru kekekalan setiap benda menghasilkan fenomena kehilangan dan kehancuran.

Saat kesadaran terus berubah dan sekarang terus berubah, di permukaan ada suatu benda kenyataan yang hilang dan hancur setiap kali terjadi perubahan itu. Misalnya pada titik a, sekarangnya adalah a, tapi saat sekarang menjadi b, kondisi sekarang a hilang. Namun ini dapat kita jelaskan dengan memperdetil cakupan suatu benda. Hal yang terjadi adalah di titik a, sekarang a atau Sa sifatnya 1 atau berlaku, jadi 1Sa, dan dilengkapi dengan titik a kembali yaitu 1(Sa)a. Di titik b ini menjadi 0 atau 0(Sa)b.

Dengan Sb, maka menjadi 0(Sb)a dan 1(Sb)b. Maka sekarang bergerak dari 1(Sa)a dan 0(Sb)a menjadi 0(Sa)b dan 1(Sb)b. Maka kita tidak dapat menyatakan bahwa ada benda yang hilang karena semua benda hanya berada pada titik waktu masing-masing dan titik waktu itu tersimpan selamanya dalam fakta-fakta kenyataan. Namun kita dapat menetapkan kondisi mutlak mengenai apa yang sedang berlaku, dan apa yang sedang berlaku selalu berubah.

Keberlakuan ini yang dapat kita katakan “menghilang” dan “muncul”. Hal ini terkait dengan pengalaman sadar karena melalui pengalaman sadar yang terbatas waktu sungguh bergerak, bermakna, dan ada suatu kehilangan dan kemunculan yang memang mutlak dan ada dalam kenyataan. Hal yang memang aneh adalah kita sebagai kesadaran merasakan kehancuran dan kehilangan, kemunculan dan penciptaan, tapi tidak ada yang sungguh diciptakan atau dihancurkan, semuanya adalah gejala kesadaran saja.

Penegasan ulang tentang fenomena sekarang dan kaitannya dengan kesadaran memampukan kita untuk mengetahui bahwa konsepsi tentang pengalaman sadar yaitu interaksi antara benda-benda dan kesadaran adalah penyederhanaan saja. Konsep yang lebih tepatnya lebih rumit karena kesadaran di titik a dan di titik b sudah berbeda tapi disatukan melalui satu alur pergerakan. Inilah paradoks kesadaran, pergerakan kesadaran adalah fakta mutlak tapi di sisi lain juga hanya berlaku dalam konteks lokal. Namun saat kita memahami sepenuhnya, tidak ada paradoks, karena akhirnya kita dapat berkata, “Lokalitas kesadaran adalah fakta mutlak.”

Kategori Pengalaman Sadar

Kita mengakui bahwa sebagai manusia kita dibatasi pada pengalaman sadar yang kita miliki sebagai manusia. Namun jika kita meneliti lebih dalam, pengalaman yang kesannya adalah antroposentris dapat diabstraksikan menjadi pengalaman yang realistis dan berlaku di seluruh penjuru kenyataan. Dalam hal ini kita sebagai manusia mengalami berbagai kategori pengalaman sadar atau rupa pengalaman sadar.

Kategori-kategori ini ada banyak, tapi seringkali dapat kita bedakan antara 2 kategori berdasarkan berbagai aspek, sehingga nanti akan ada beberapa kategori pengalaman sadar. Aspek pertama adalah berdasarkan aktualitas kesadaran, yaitu penyadaran suatu benda dalam kondisi sepenuhnya. Aspek kedua adalah pembagian klasik antara penginderaan dan pikiran. Aspek ketiga adalah pembagian antara pengalaman amoral dan pengalaman moral.

Aktualitas kesadaran adalah pengalaman akan benda yang seutuhnya, kita mengalami keseluruhan sifat suatu benda. Jikalau ada benda yang memiliki sifat hangat dan warnanya merah, maka kita sungguh mengalami warna merah dan kehangatan dari benda tersebut. Lalu ada pengalaman non-aktual, di mana kita mengalami suatu benda tapi tidak mengalami kepenuhan sifat suatu benda.

Pengalaman non-aktual selalu bersifat mental, karena di situ kita dapat mengalami benda-benda secara tidak utuh, hanya “permukaan” saja. Jadi kalau ada benda merah  yang hangat, maka kita membayangkan ada benda merah yang hangat tanpa secara penuh mengalami kemerahan benda tersebut melalui mata, dan juga merasakan kehangatan benda tersebut melalui kulit kita. Namun tidak semua pengalaman mental adalah pengalaman non-aktual karena ada benda-benda yang memang hanya ada secara rohani dan mental, jadi tidak dapat kita jangkau dengan indera kita karena memang begitu sifat benda tersebut.

Kalau kita tidak mengalami sifat-sifat dari suatu benda, maka apa yang sesungguhnya kita alami? Sebenarnya ada 2 wujud pengalaman, yaitu kita mengalami secara linguistik atau secara rekolektif. Pengalaman rekolektif artinya kita mengalami kembali sifat-sifat yang ada sesungguhnya tapi dengan intensitas yang lebih rendah. Jadi kita melihat dalam pikiran kita ada “bayangan” benda tersebut dengan warnanya merah, dan secara halus kita merasakan kehangatan benda tersebut.

Pengalaman rekolektif biasanya bersamaan dengan pengalaman linguistik yaitu pengalaman rekolektif akan bahasa atau kata-kata yang mewakili benda tersebut. Misalkan benda merah hangat itu adalah apel kukus yang masih hangat, jadi kita membayangkan bentuk atau gambaran kata “apel kukus” dalam pikiran kita. Lalu kita segera memahami bahwa apel kukus sifatnya merah dan juga hangat.

Namun pengalaman linguistik tidak hanya bahasa manusia, tapi juga mencakup bahasa realistis, yaitu bagaimana satu benda dapat mewakili benda lainnya. Bahasa yang paling sederhana adalah bahasa matematis, di mana setiap benda disederhanakan menjadi rupa matematisnya dan kita mengamati dalam rupa matematisnya, yang menjadi wakil dari rupa benda yang lebih kompleksnya secara fenomenal.

Dualitas pengalaman yang kedua yaitu antara pengalaman mental atau batin dengan pengalaman inderawi kurang didasari pada filsafat melainkan pada pembagian klasik saja. Pengalaman mental hanya berarti apa yang tidak melalui indera kita, dan pengalaman inderawi adalah yang melalui indera kita. Namun suatu abstraksi dapat dilakukan, bahwa pengalaman inderawi adalah pengalaman yang total, di mana kita mengalami suatu benda secara utuh menurut segala sifatnya. Sementara pengalaman batin dominan yang tidak seutuhnya.

Maka seluruh pengalaman inderawi adalah pengalaman aktual tapi tidak semua pengalaman aktual adalah pengalaman inderawi. Karena ada pengalaman aktual yang sifatnya batin dan mental. Oleh sebab itu memang pengalaman inderawi sering menjadi hakim untuk menentukan aktualitas kenyataan atau keberlakuan suatu benda dalam kenyataan. Melalui pengalaman inderawi, suatu imajinasi dapat dicocokkan dengan pengalaman inderawi dan dihakimi apakah benda yang diperdebatkan sifatnya aktual atau non-aktual.

Pengalaman inderawi dan pengalaman batin merefleksikan 2 kategori kebendaan atau “dunia” yang berbeda, yaitu dunia berwujud dan dunia tak berwujud. Dunia berwujud, atau yang fisik, yang memiliki bentuk dan rupa, yang memiliki sifat keruangan disebut seperti itu karena memiliki konsekuensi seperti itu terhadap kesadaran kita dan menyebabkan pengalaman yang demikian pula. Dunia yang tak berwujud atau yang rohani, adalah dunia yang tak memiliki ruang, tapi bisa saja berbentuk dan berupa, hanya saja dalam kondisi tidak berlaku, maka menjadi roh saja, sehingga menyebabkan pengalaman seperti itu di dalam diri kita.

Saat aku menulis bahwa wujud benda atau corpus benda memiliki konsekuensi terhadap pengalaman sadar kita, bukan berarti kewujudan mereka itu hanya gejala kesadaran, mereka memang berbentuk dan berwujud. Dunia fisik memang ada secara independen dari pikiran kita dan adalah suatu dunia yang objektif. Ini tidak begitu kontroversial dan mayoritas orang meyakini bahwa dunia fisik yang kita alami sungguh objektif dan independen.

Namun yang lebih kontroversial adalah mengenai dunia rohani. Orang sering berpikir bahwa dunia rohani itu hanyalah konstruksi setiap manusia, tapi berdasarkan hukum pengalaman sadar yang berlaku untuk semua kategori pengalaman, setiap benda di balik pengalaman sadar adalah suatu kenyataan yang objektif dan independen. Maka dunia yang kita intip melalui pengalaman batin adalah sungguh nyata, objektif, dan independen.

Jadi saat kita membayangkan segitiga mutlak atau murni, yang kita akses memang 1 segitiga mutlak yang ada secara rohani dan dapat kita akses bersama-sama. Maka saat kita mengakses Allah, itulah realitas Allah yang sungguh ada secara rohani, Allah yang menguatkan, Allah yang memberi tahu, jadi hanya dengan berbicara dengan sosok Allah secara batin, itu sudah cukup bukti untuk keberadaan Allah secara mutlak. Namun tentu akan ada pendalaman yang lebih dalam tentang realitas Allah di waktu yang akan datang.

Masih banyak yang dapat kita gali tentang dunia rohani dan keterkaitannya dengan dunia yang berwujud, tapi untuk sekarang cukuplah bagi kita untuk memahami bahwa di balik pengalaman batin adalah suatu kenyataan rohani yang memang ada dan independen dari diri kita sendiri. Hal ini akan penting untuk mendasarkan berbagai kebenaran tentang dunia yang rohani dan tentang konsep roh dan juga konsep Allah.

Sekarang kita berlanjut ke kategori terakhir yaitu kategori moralitas. Kita sebagai manusia dan juga makhluk sadar dapat mengalami 2 kategori pengalaman yaitu pengalaman akan kenyataan apa adanya dan juga pengalaman akan nilai moral dari suatu kenyataan itu. Pengalaman moral artinya adalah emosi-emosi yang terkait dengan emosi positif seperti kebahagiaan dan variasinya atau emosi negatif seperti penderitaan dan variasinya.

Pengalaman moral selalu disertai oleh pengalaman yang apa adanya atau pengalaman objektif. Karena intinya semua pengalaman berdasarkan pada suatu benda, maka pengalaman moral disebabkan oleh interaksi dengan suatu benda yang memiliki sifat moral. Namun suatu benda pastinya memiliki sifat lain selain sifat moral itu sendiri, sifat moral dialami menurut pengalaman moral dan sifat objektif suatu benda dialami menurut pengalaman objektif kita. Ini adalah dasar dari moralitas dan etika yang akan kita eksplorasi pada waktu yang akan datang.

Pada waktunya kita akan mempelajari bahwa sifat moral atau sifat etis suatu benda bisa objektif atau subjektif karena berbagai kerumitan dan faktor yang ada. Namun untuk sekarang cukuplah bagi kita untuk memahami sisi objektifnya. Bahwa setiap benda yang mampu memiliki sifat moral memiliki suatu sifat moral karena dirinya sendiri dan kita hanya menangkap realitas moral objektif yang ada. Dengan itu rangkumlah subtopik tentang kategori pengalaman sadar.

Kesadaran atau Makhluk Sadar

Pada 2 subtopik sebelumnya kita belajar tentang pengalaman sadar, tapi kita belum pernah membahas tentang benda yang memiliki pengalaman sadar, yaitu kesadaran. Kesadaran atau makhluk sadar sama saja, dan merujuk pada hal yang sama, yaitu suatu benda dalam kenyataan yang dapat memiliki pengalaman sadar dan bergerak dalam waktu. Kesadaran haruslah dibedakan dengan benda yang memiliki kesadaran, benda yang memiliki kesadaran artinya ada 1 benda yang bukan kesadaran dan di dalamnya ada kesadaran yang merupakan benda yang memiliki pengalaman sadar itu sendiri.

Sebenarnya kesadaran dan pengalaman sadar sulit dibedakan, karena dari perspektif kita kita hanyalah rasa akan kenyataan dan diri kita sendiri. Maka dapat dikatakan bahwa kesadaran adalah gumpalan pengalaman sadar yang membentuk suatu kesadaran yang komprehensif akan dunia. Misalkan kita sebagai makhluk sadar, yang ada hanyalah kita mengalami diri kita dan juga kenyataan, di luar itu sebenarnya tidak ada suatu esensi kesadaran yang lebih dari pengalaman sadar.

Kesadaran tidak berasal dari dunia berwujud atau material karena kesadaran seperti semua benda lain sifatnya kekal, tidak berawal dan tidak berakhir. Orang-orang banyak berpikir bahwa kesadaran sifatnya tergantung dari materi atau benda fisik, padahal tidak. Kesadaran sebagai benda yang abstrak bersifat independen dari materi atau benda fisik, dan bukan hasil dari kompleksitas otak manusia. Dalam hal ini orang salah dalam menyamakan kesadaran dengan komputasi.

Komputasi dalam hal ini artinya kemampuan untuk mengolah informasi, sementara kesadaran adalah benda yang mampu mengalami kenyataan dan memiliki pengalaman sadar terhadap kenyataan. Pengalaman ini tidak dapat dijelaskan sama sekali hanya dengan sekadar kompleksitas otak. Karena dengan begitu ada pengandaian bahwa kesadaran memiliki suatu awal atau akhir yang mutlak, padahal itu tidak benar. Namun memang konsepsi tentang kesatuan antara materi dan kesadaran sedikit menyederhanakan.

Bisa saja bahwa kesadaran dalam dunia ini memang terkait dengan otak dan kalau otak hancur maka kesadaran juga buyar. Namun tidak mungkin bahwa kesadaran sebagai suatu benda mutlak tergantung pada otak saja, karena fakta-fakta kenyataan akan menyimpan kesadaran secara kekal. Jadi kesadaran sebagai benda yang bernama tidak akan pernah hancur karena begitu ada, maka dia ada selamanya secara tercatat dalam kenyataan. Namun bisa saja aktualitas objektif kesadaran tergantung oleh otak.

Hal yang menyelamatkan kesadaran dari hal itu adalah imajinasi, kita dapat dengan mudah membayangkan adanya kesadaran yang tidak bergantung pada otak, dan dengan itu kesadaran semacam itu ada. Kita tidak harus membuatnya non-aktual saja dan bisa saja memang aktual kalau kita membayangkan kesadaran yang ada di dunia lain. Maka dengan itu kita telah menetapkan keberadaan dan kemutlakan kesadaran dalam aktualitasnya tanpa tergantung oleh otak.

Sebelumnya dijelaskan bahwa kesadaran adalah gumpalan pengalaman sadar akan kenyataan yang bergabung menjadi satu sehingga menjadi suatu benda yang koheren dan beridentitas. Gumpalan pengalaman sadar ini dapat kita perdalam pemahamannya menjadi alur kesadaran dan perspektif kesadaran. Keduanya adalah kumpulan pengalaman sadar tapi berdasarkan aspek-aspek yang berbeda.

Alur kesadaran artinya suatu kesadaran memiliki alur yang jelas yang tercatat dalam kenyataan layaknya alur perubahan. Jadi suatu kesadaran didefinisikan menurut totalitas sejarahnya. Namun ada suatu syarat yang penting yaitu kesadaran ini mengingat semua masa lalunya. Kalau misalnya pada satu titik dia melupakan seluruh masa lalunya dan terjadi suatu alur yang baru, yang sama sekali baru, maka dapat dikatakan bahwa kesadaran itu sudah kesadaran yang baru dan berbeda.

Jika alur kesadaran tidak mencukupi, maka perspektif kesadaran dapat digunakan. Kesadaran pada umumnya sesuai yang kita ketahui tidak menjangkau seluruh kenyataan dan sifatnya terbatas. Maka perspektif adalah batas-batas pengalaman sadar suatu kesadaran, sehingga hanya sebagian benda yang dapat dia jangkau. Perspektif juga dapat dipahami sebagai pengalaman sadar yang dimiliki secara konstan oleh suatu kesadaran.

Misalnya seorang manusia selalu melihat ke depan, dia tidak dapat melihat ke belakang, ini menjadi salah satu perspektif manusia karena ada batasan pengalaman sadarnya pada satu titik waktu. Perspektif tentu saja lebih luas dari itu tapi itu hanya sebagai contoh untuk lebih jelas menggambarkan situasi yang ada. Perspektif juga dapat didefinisikan oleh ingatan atau alur kesadaran suatu kesadaran.

Karena itu perspektif dan alur biasanya berlaku secara bersama, kesadaran tidak didefinisikan hanya menurut perspektif atau hanya menurut alur, melainkan menurut keduanya secara bersamaan. Jika perspektifnya berubah tapi alurnya sama, maka dapat dikatakan sebagai kesadaran yang sama, jika alurnya terputus tapi perspektifnya relatif sama maka tetap dapat dikatakan sebagai kesadaran yang sama. Namun memang kesadaran lebih banyak ditentukan oleh alurnya.

Sebenarnya ada konsep tentang dunia bawah sadar tapi ini mengandalkan pemahaman yang lebih lanjut tentang roh dan jiwa serta relasi mereka dengan kesadaran, dan untuk sekarang cukuplah kita untuk memahami tentang kesadaran secara umum saja. Sebagai gambaran saja, bawah sadar ini mengandaikan bahwa kesadaran selalu terhubung dan ada unsur-unsur diri suatu kesadaran yang tidak disadari tapi mempengaruhi kesadaran tersebut.

Dalam pembahasan kali ini, memang tidak ditetapkan bahwa adanya roh dan jiwa karena itu cukup jauh. Tapi dapat dipastikan bahwa kesadaran sifatnya mirip dengan roh pada dasarnya. Karena alur kesadaran bisa saja secara arbitrer ditentukan oleh kelangsungan hidup otak, tapi sebenarnya bisa saja ada alur kesadaran yang berpindah dari satu benda ke benda lainnya dalam ruang, dalam hal itu maka kesadaran bertindak sebagai roh yang tak terikat pada benda dan dapat mendiami suatu benda atau meninggalkan suatu benda.

Kekekalan Kesadaran

Kesadaran sebagai benda itu pasti kekal, tapi yang kumaksud adalah alur kesadaran yang kekal. Suatu kesadaran dalam waktu tidak akan ada masa dia menjadi non-aktual dan berhenti menyadari apapun karena alasan yang sederhana. Dari perspektif kesadaran, waktu hanya bermakna saat kita mengalami, yaitu saat kita aktif sebagai suatu kesadaran. Kondisi di mana tidak ada pengalaman sadar sama saja artinya tidak ada waktu. Ketiadaan waktu artinya tidak ada masa, tidak ada jangka atau panjang atau kejadian.

Dalam kata lain, masa yang tidak ada pengalaman sadar pasti akan dilalui seolah-olah tidak ada waktu. Karena kesadaran lompat dari satu titik waktu ke titik waktu lainnya tanpa memperhatikan waktu yang sebenarnya berjalan menurut aktualitas objektif. Hal ini sangat nyata saat kita tidur atau pingsan, pastilah kalau waktu tidak menjadi hilang maka waktu rasanya akan sangat dipersingkat karena yang terjadi adalah kesadaran melongkapi sejumlah waktu sehingga dari perspektif kesadaran seakan-akan waktu yang ada lebih singkat dari waktu yang sebenarnya ada.

Dalam hal ini kesadaran seakan-akan melakukan suatu perjalanan waktu ke depan sesuai dengan masa di mana dia tidak hadir. Jadi faktanya adalah alur kesadaran kita tidak memiliki awal dan tidak memiliki akhir secara keseluruhan. Hal yang ada hanyalah kita lupa akan masa lalu sebelum kelahiran dan kita akan lupa kehidupan ini di kehidupan selanjutnya. Maka menjadi irasional untuk berpikir bahwa kesadaran bergantung pada kompleksitas otak saja, karena berdasarkan logika sederhana kesadaran tidak dapat berawal dan berakhir.

Maka sebelum kita lahir, kita sudah pernah ada di luar tubuh kita yang sekarang, dan setelah tubuh kita berhenti berfungsi alias mati kita juga akan melanjutkan perjalanan kita kembali. Karena itu pula kesadaran berlaku seperti roh, karena kesadaran tidak terikat pada satu tubuh melainkan bergerak dari satu tubuh atau benda ke tubuh atau benda berikutnya. Namun pada pembahasan di masa yang akan datang akan dijelaskan bahwa roh dan kesadaran tidaklah sama, dengan kesadaran hanya sebagai satu aspek dari roh.

Kesadaran yang Lengkap dan Kesadaran yang Tidak Lengkap

Kita mengakui bahwa kesadaran umumnya terbatas karena tidak dapat mengalami seluruh kenyataan. Namun kita juga menyadari bahwa ada kesadaran yang lebih lengkap kesadarannya, dalam arti dia dapat menyadari lebih banyak benda dalam kenyataan pada satu titik waktu. Jadi memang antara kesadaran lengkap dan tidak lengkap bukan nilai biner tapi seperti suatu spektrum, ada kesadaran yang lebih lengkap dan ada kesadaran yang kurang lengkap.

Untuk subtopik kali ini aku akan lebih banyak berspekulasi karena aku kurang memiliki bukti atau pemahaman yang lengkap atau mendalam terkait masalah ini. Pertama adalah spekulasi mengenai kesadaran yang lengkap. Judulnya adalah kesadaran yang lengkap dan bukan yang lebih lengkap karena merujuk pada suatu kemungkinan adanya kesadaran yang paling lengkap, yang menyadari seluruh benda dalam kenyataan, setiap mekanika, setiap proses, setiap pola, setiap hukum disadari oleh kesadaran ini.

Kita dapat membayangkan bahwa ada kesadaran semacam ini maka kesadaran ini pasti ada, masalahnya apakah secara aktual atau non-aktual itu yang tidak dapat kita jawab untuk sementara waktu. Kesadaran lengkap ini yang seringkali disebut sebagai Tuhan juga, dan memang itulah sifat hakikat dari Allah yaitu sebagai kesadaran yang mengetahui segala hal dalam kenyataan dan secara praktis hadir di atas waktu karena mengalami segala hal pada saat yang sama.

Penutup

Sejauh ini kita telah kurang lebih mengupas apa yang menjadi dasar-dasar dari kesadaran. Kita telah mengenal dan mempertegas konsep pengalaman sadar, kategori-kategori pengalaman sadar menurut pengalaman kita manusia, pengertian kesadaran atau makhluk sadar, kekekalan dari kesadaran, dan juga mengintip sedikit ke kesadaran yang lengkap dan kesadaran yang tidak lengkap. Masih ada banyak pertanyaan, tapi sekiranya hal itu akan dibahas dalam esai-esai lain. Untuk sekarang esai ini dinyatakan selesai.  

Comments

Popular posts from this blog

Essay 5-Conscious Experience

Essay 21-Change II

Essay 15-Original and Derivative Objects