Tanggapan Crash Course Philosophy Ep. 1 What is Philosophy

Tanggapan ini didasarkan pada hal-hal yang menurutku menarik dari video ini. Pengetahuan umum tentang filsafat bukanlah pernyataan yang kontroversial, tapi pernyataan metafilosofis yang disampaikanlah yang layak dibahas dan digali lebih dalam. “Filsafat menjelaskan hal-hal yang tidak dapat dijelaskan oleh ilmu pengetahuan.” Banyak orang mengira bahwa ini diambil oleh agama, tapi sebenarnya filsafatlah yang menjadi penjelas sesungguhnya.

Karena agama adalah hasil wahyu dari Allah yang pertimbangan logisnya tidak sebanyak pertimbangan dalam filsafat. Agama memang mengandung etika, tapi etika tersebut tidak dikritisi atau diteliti secara sistematis dan dipahami pendasarannya. Seringkali etika agama hanya berlogika, “Ini diperintahkan oleh Allah, maka kita harus melaksanakannya.” Filsafat tidak seperti itu, filsafat menyatakan, “Ini benar dan baik secara objektif, maka kita harus melaksanakannya.”

Agama juga mengandung teori-teori metafisik, tapi lebih berdasarkan logika bahwa “Allah pasti benar,” tapi terkadang ada kelupaan untuk meneliti Allah sendiri dan menentukan mana yang berasal dari Allah dan mana yang berasal dari manusia. Jadi filsafat bukan hanya menjelaskan yang tidak dapat dijelaskan ilmu pengetahuan seperti etika, metafisika, dan epistemologi, tapi juga menjelaskan apa yang tidak dapat dijelaskan agama. Agama dan ilmu pengetahuan sama-sama tidak lengkap, maka filsafat hadir untuk melengkapi keduanya dan menjembatani keduanya.

Menurutku video ini tepat dalam menjelaskan konsep filsafat yang tepat dan membedakan dari penyalahgunaan kata “filsafat” di bidang-bidang lain. Filsafat pada dasarnya adalah ilmu yang mempelajari kenyataan secara mendasar, dan bukan opini pribadi atau ideologi perusahaan. Kecuali kedua itu dilakukan berdasarkan suatu pemikiran filosofis sejati yang sistematis dan terorganisir sehingga menjadi suatu produk filsafat.

Filsafat dulu memang adalah cara untuk mempelajari apapun karena saat itu filsafat adalah pembelajaran tentang kenyataan. Namun filsafat menjadi lebih unik dan menjadi pembelajaran tentang dasar kenyataan, maka ia meneliti kenyataan sebagai suatu keutuhan. Sementara pembelajaran-pembelajaran lain yang lebih kategoris dan lokal adalah ilmu pengetahuan. Meskipun begitu, filsafat tetap memiliki pegangan yang kuat terhadap semua ilmu secara spiritual karena setiap ilmu dasarnya tetaplah filsafat. Maka kita akan menemukan filsafat cabang untuk setiap ilmu.

Aku tidak setuju bahwa filsafat hanyalah metode untuk mempelajari pertanyaan-pertanyaan besar tanpa menjawabnya secara mutlak dan konklusif. Dengan konsepsi bahwa tujuan filsafat adalah untuk “mengetahui cara berpikir” aku rasa juga tidak tepat. Ini sepertinya cemaran dari aliran relativis atau skeptis dalam filsafat, yang harusnya kita jauhi dan kita kritisi dengan amat keras. Filsafat secara hakikat adalah mutlak dan pasti, antitesis dari relativisme dan skeptisisme.

Relativisme di sini adalah pandangan bahwa tidak ada kebenaran mutlak, dan dekatnya adalah skeptisisme bahwa manusia tidak dapat mencapai kebenaran mutlak. Ini sama saja dengan asumsi teologis yang menurutku “bodoh” dan “merendahkan” bahwa manusia tidak dapat memahami Allah atau mengetahui Allah dan hanya mampu mengimani-Nya. Itu adalah asumsi karena tidak ada buktinya dan hanya berdasarkan aksioma-aksioma yang tidak ada pendasarannya juga.

Filsafat dari dulu tidak pernah sekadar membahas pertanyaan melainkan adalah pembahasan tentang jawaban dari pertanyaan, sama dengan semua ilmu lain. Hanya saja memang tidak pernah ada konsensus dalam filsafat sehingga filsafat sekarang tercerai berai. Setiap filsuf bukan hanya merenungkan pertanyaan, tapi berusaha menjawab setiap pertanyaan yang ada. Ada yang lebih baik dalam menjawab dan ada yang kurang baik dalam menjawab. Namun semuanya adalah upaya menjawab, filsafat bukan upaya memikirkan pertanyaan tapi upaya menjawab pertanyaan, selayaknya dengan semua ilmu lain dan sebagai ilmu segala ilmu.

Maka filsafat tujuannya bukan sekadar mengetahui cara berpikir melainkan mengetahui jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang penting. Kalau tujuannya adalah mengetahui cara berpikir, itu tujuan dari ilmu logika dan bukan dari filsafat. Filsafat tujuannya adalah memperoleh pengetahuan tentang dasar-dasar kenyataan dan bukan sekadar cara berpikir. Sayangnya sepertinya sekarang memang filsafat telah berdegenerasi menjadi sekadar latihan logika dan pembelajaran sejarah, tidak lebih dari itu.

Kalau aku melihat pola dari filsafat, tidak ada filsafat yang objektif dan tidak ada upaya untuk menyusun filsafat yang objektif. Adanya pembelajaran pemikiran para pemikir lain, dan sepertinya para pelajar hanya dilatih untuk berpikir dan bukan untuk menjawab pertanyaan. Mereka tidak dilatih menjadi filsuf, melainkan menjadi pembelajar filsafat. Kedua hal ini berbeda. Seorang pembelajar filsafat adalah seseorang yang hanya mempelajari pemikiran filosofis, tapi seorang filsuf membuat pemikiran filosofis.

Untunglah masih ada sedikit filsuf sejati seperti Slavoj Zizek yang setahuku memang menghasilkan pemikiran sendiri. Bukan hanya para filsuf akademis yang sekadar menghasilkan olahan pemikiran lama dan bukan pemikiran baru. Padahal yang sekarang dibutuhkan dunia adalah pemikiran baru dari filsafat untuk menyelesaikan segenap masalah dunia, sekarang yang kita butuhkan adalah revolusi filsafat.

Terlepas dari pertidaksetujuan tersebut, aku senang bahwa video ini menyampaikan bahwa filsafat itu hadir di segala aspek kehidupan. Karena dalam setiap pertimbangan moral kita sedang mempraktekkan filsafat. Etika adalah cabang dari filsafat, jadi praktik etika adalah praktik filsafat. Sehingga filsafat sebenarnya bukan suatu ilmu yang murni teoritis tapi juga sangat praktis. Justru semua hal yang dianggap praktis, yaitu berguna, bermanfaat, didasarkan pada teori nilai atau etika, yang adalah bagian dari filsafat.

Dulu aku pernah menulis bahwa filsafat dapat dibagi menjadi filsafat murni atau filsafat praktis. Filsafat murni adalah pembelajaran filsafat secara murni, tapi filsafat praktis adalah penerapan prinsip-prinsip filsafat. Dalam hal ini adalah bagaimana kita menunaikan dan melaksanakan prinsip-prinsip etika, sudah merupakan bentuk penerapan praktis dari teori filsafat terutama tentang etika.

Komentar terakhirku adalah aku tidak setuju dengan penyebutan estetika dalam hierarki filsafat. Aku tidak berpikir bahwa estetika itu sama sekali tidak penting, tapi menurutku tidak sepenting etika sendiri atau metafisika atau epistemologi. Menurutku fenomenologi, pembelajaran tentang kesadaran, masih lebih fundamental daripada estetika. Untuk tritunggal filsafat cukuplah ada metafisika, epistemologi, dan etika. Sementara semua cabang lain adalah perpanjangan dari ilmu-ilmu ini. Keindahan memang penting tapi menjadi penting karena masalah etis dan juga pendasaran metafisikanya.

Demikian tanggapan yang dapat aku berikan terkait dengan video ini.

Comments

Popular posts from this blog

Essay 5-Conscious Experience

Essay 21-Change II

Essay 15-Original and Derivative Objects