Esai 7-Benda

Pendahuluan

Pada esai 6 kita telah menghasilkan suatu metode untuk menetapkan keberadaan benda-benda dalam kenyataan. Dengan itu pembuktian akan keberadaan sudah lengkap. Namun hal yang menjadi masalah adalah mengenai makna dari benda itu sendiri. Sama halnya dengan awalnya kita tidak mengetahui apa pengertian pengalaman sadar dan mencari pengertiannya, sekarang kita mencari pengertian dari benda. Maka tujuan dari esai ini adalah untuk mengetahui pengertian benda.

Benda

Penelitian tentang pengertian benda tidak dapat didasari oleh kebenaran sebelumnya melainkan harus melalui intuisi umum atau pemahaman umum tentang apa itu benda. Memang benar bahwa kebenaran harus didasarkan pada kebenaran atau pengalaman sadar sebagai sumber pembuktian. Sekalipun kita berkata bahwa pengertian benda didasari oleh intuisi, pada akhirnya pengertian ini akan didasarkan pada pengalaman sadar sepenuhnya.

Sesungguhnya saat kita meneliti pengertian benda, kita mengamati fenomena yang ada di dalam kenyataan dan berdasarkan fenomena atau pengalaman sadar kita melabeli benda yang terlihat dengan bahasa yang sesuai. Proses intuisi bukan pada pengamatan fenomena melainkan pada pelabelan fenomena dengan bahasa yang sesuai. Di sini kita akan melihat intuisi tentang benda yang paling sesuai dengan fenomena yang ada dan menggabungkan keduanya sehingga kata “benda” sekarang mewakili satu fenomena yang paling sesuai.

Kalau kita meneliti makna benda secara intuitif, umumnya benda adalah semacam satuan yang dapat diidentifikasi dan dapat dinamai. Namun layaknya pengalaman sadar, sulit untuk mengartikan benda sebagai hal yang lebih sederhana lagi. Karena itulah kita harus mencocokkan pengertian benda yang intuitif ini dengan fenomena yang ada dari kenyataan. Setelah itu kita menggunakan kata-kata yang paling sesuai untuk menyusun pengertian benda yang sesungguhnya.

Kalau kita mengamati fenomena kebendaan yang lengkap, kita dapat mengartikan benda dalam relasinya dengan suatu benda yang lain.  Tepatnya benda adalah suatu bagian dari kenyataan. Ini sederhana, kalau kenyataan adalah himpunan seluruh keberadaan dan benda adalah suatu keberadaan maka benda adalah bagian dari himpunan keberadaan yaitu kenyataan. Dengan itu kita memperoleh unsur pertama kebendaan yaitu unsur bagian atau parsial.

Berikutnya kita tinggal melanjutkan saja fenomena kebendaan yang ada. Kita dapat mengamati bahwa benda pada dasarnya memiliki 2 unsur lain yaitu unsur keunikan dan unsur keterbatasan. Keunikan artinya setiap benda itu unik dan berbeda dari yang lain. Kita dapat membedakan antara satu benda dengan benda yang lain jika fenomenanya lengkap. Keterbatasan merujuk pada fakta bahwa benda adalah bagian. Maka sebagai bagian benda ada batasnya karena tidak mencakup seluruh kenyataan.

Keterbatasan ini mungkin ada bantahannya bahwa ada benda-benda yang tidak terbatas. Namun maksudnya terbatas bukan dalam masalah jumlah, melainkan dalam cakupan suatu benda. Artinya ada definisi yang jelas untuk setiap benda, yang menandakan bagian kenyataan mana yang termasuk benda tersebut dan bagian mana yang bukan lagi termasuk benda tersebut. Benda yang secara jumlah tidak terbatas, tetap memiliki batasan mana yang termasuk benda tersebut dan mana yang bukan. Dengan itu kita dapat membentuk suatu pengertian kebendaan yang cukup untuk sekarang yaitu, “Benda adalah suatu bagian kenyataan yang unik dan terbatas.”

Kenyataan sebagai Benda

Apakah kenyataan dapat dikategorikan sebagai suatu benda? Kalau melihat dari pengertiannya, ini sama dengan bertanya, apakah kenyataan merupakan bagian dari dirinya sendiri? Kalau kita meneliti dari perspektif matematis suatu himpunan memang dapat menjadi bagian dari dirinya sendiri. Namun untuk perspektif filosofis dibutuhkan analisis yang lebih mendalam sesuai dengan unsur-unsur kebendaan dalam pengertian benda.

Kita harus melihat apakah kenyataan memenuhi unsur kebendaan atau tidak. Unsur pertama adalah sebagai bagian dari kenyataan. Apakah kenyataan adalah bagian dari dirinya sendiri? Jawaban dari pertanyaan ini sulit karena memang tidak ada pedoman yang jelas. Jawabannya dapat ya atau tidak tergantung perspektif. Jawaban ya didasari perspektif bahwa maksud bagian adalah sebagai anggota dari suatu kelompok. Jawaban tidak didasari perspektif bahwa kata “bagian” mengimplikasikan bahwa ada hierarki susunan dan ada banyak bagian.

Mari kita dalami lebih lanjut setiap jawaban. Kalau kita menggambarkan himpunan kenyataan, maka dalam himpunan tersebut kita dapat melihat setiap benda yang ada yang merupakan setiap bagian dari kenyataan. Bayangkan kita menyatukan setiap bagian itu menjadi satu totalitas, maka kita melihat bahwa anggota dari kenyataan, adalah kenyataan itu sendiri. Maka dari perspektif ini kenyataan adalah benda.

Di sisi lain, kata “bagian” cenderung berarti bahwa ada bagian lain. Bahwa bagian-bagian disusun untuk menjadi suatu kesatuan yang lebih besar. Karena itu bagian dan kesatuannya tidaklah sama dan tidak dapat dikatakan sama, karena bagian itu yang membentuk kesatuan. Kenyataan sebagai kesatuan tidak dapat dikatakan sama dengan benda-benda yang merupakan bagian atau pembentuk dari kenyataan. Jadi dari perspektif ini kenyataan bukanlah benda.

Kita juga masih memiliki unsur-unsur lain untuk diteliti. Dari unsur keunikan dan unsur keterbatasan sebenarnya ini yang cukup menarik. Karena kalau kita meneliti kenyataan sebagai satu totalitas maka nyatalah bahwa kenyataan itu unik sekaligus terbatas. Sebab kenyataan sebagai suatu totalitas jelaslah berbeda dengan yang lain. Lalu kita dapat membedakan mana yang merupakan himpunan kenyataan dan suatu benda lain, jadi ada batasannya.

Namun tentu saja itu adalah yang sekilas terlihat kalau kita memperlakukan kenyataan sebagai benda seperti benda-benda lainnya. Jadi akan ada bias untuk menetapkan kenyataan sebagai suatu benda. Di sisi lain, kenyataan tidak unik karena dengan benda apakah kenyataan dibandingkan? Kenyataan adalah totalitas, jadi begitu dijadikan totalitas hanya ada kenyataan. Tidak ada kenyataan lain yang dapat dibandingkan dengan kenyataan karena hanya ada satu kenyataan.

Berikutnya kenyataan tidak terbatas, justru kenyataan adalah definisi dari ketidakterbatasan. Karena kenyataan mencakup semua hal. Kalau batas diperlakukan sebagai ada yang termasuk benda itu dan tidak termasuk benda itu, maka kenyataan jelas tidak ada batasnya karena semuanya termasuk dari kenyataan. Kenyataan memanjang dan meluas ke segala penjuru karena pada hakikatnya ia adalah totalitas. Jadi tidak ada bagian yang bukan kenyataan. Dengan segenap perspektif itu, kenyataan tentu bukanlah benda.

Maka sepertinya kita memperoleh 2 perspektif kenyataan yang cukup berbeda. Perspektif pertama memandang kenyataan dalam relasinya dengan dirinya sendiri dan apa yang menjadi bagian dari kenyataan. Ada perspektif untuk membedakan antara totalitas dengan bagian sehingga ada 2 benda yang berbeda dan kenyataan menjadi suatu benda. Di sisi lain ada perspektif kedua yang memandang kenyataan sebagai totalitas mutlak dan karena itu tidak ada relasi dengan bagian-bagiannya. Dengan itu kenyataan bukanlah benda.

Lalu manakah yang benar atau setidaknya lebih tepat? Jawabannya adalah keduanya dapat benar secara bersamaan. Solusinya adalah melalui pembayangan. Misalkan ada himpunan kenyataan yang di dalamnya adalah segala anggota kenyataan. Lalu setiap anggota itu disatukan menjadi totalitas himpunan baru, maka ada himpunan kenyataan yang lebih kecil yang ada bersama dengan himpunan benda-benda lainnya. Kenyataan yang ada di dalam kenyataan adalah benda, tapi kenyataan yang menaungi benda kenyataan bukanlah benda sama sekali, tapi keduanya identik secara keanggotaan dan ukuran.

Signifikansi

Pengertian benda memiliki beberapa signifikansi sehingga harus diulas. Pertama kita memperoleh pemahaman tentang benda yang filosofis. Pemahaman umum atau intuitif tentang benda cenderung terbatas pada benda materil dan hanya terkadang menyasar ke benda mental. Sementara hal-hal yang lebih berupa relasi, proses, atau kasus jarang dideskripsikan sebagai suatu “benda”. Dengan adanya pengertian benda, maka ada pemahaman baru tentang benda filosofis bahwa segalanya adalah benda.

Hal ini mengarah pada penyeragaman istilah untuk menjelaskan kenyataan. Mungkin tepatnya bukan penyeragaman tapi konsistensi. Konsistensi istilah penting karena dengan konsistensi komunikasi dan dialog tentang masalah ini dapat berlangsung dengan lebih baik. Konsistensi juga akan mengarah pemahaman yang lebih baik tentang benda. Sebab konsistensi istilah memampukan kita untuk memahami secara lebih tepat apa hakikat dari segala hal di kenyataan dan memahami bahwa pada akhirnya semuanya itu memiliki hakikat yang sama.

Pada akhirnya ini akan digunakan untuk menjadi bahan pembuktian lebih lanjut, atau mungkin bahan untuk menelusuri kebenaran lebih lanjut. Sebab pengertian semacam ini akan menjadi dasar untuk pembuktian lebih lanjutnya. Seperti halnya dengan pengertian pengalaman sadar digunakan untuk membuktikan keberadaan benda, maka pengertian benda akan digunakan untuk membuktikan hal-hal lain pula.

Kesimpulan

Kita telah beroleh 1 pernyataan filsafat, “Benda adalah suatu bagian kenyataan yang unik dan terbatas.” Esai berikutnya akan membahas tentang relasi antara benda dan pengalaman sadar. Tepatnya adalah apakah benda dan fenomena adalah 1 hal yang sama atau 2 hal yang terpisah dan mandiri. Dengan itu esai ini dinyatakan selesai.

Esai ini berkorespondensi dengan versi bahasa Inggris ini.

Comments

Popular posts from this blog

Essay 5-Conscious Experience

Essay 21-Change II

Essay 15-Original and Derivative Objects