Esai 6-Keberadaan Benda

Pendahuluan

Pada esai 4, kita telah menetapkan keberadaan mutlak kenyataan yang menjadi kebenaran pertama sekaligus semacam dasar awal dari seluruh sistem filsafat. Hal ini terjadi dengan adanya pembatasan kenyataan menjadi satu benda saja. Untuk pembuktian kenyataan, pembatasan ini sah saja, tapi sekarang kita perlu memperluas metode ini untuk menetapkan keberadaan benda-benda lain dalam kenyataan.

Hal ini perlu dilakukan karena kita harus memastikan keberadaan dari segala benda dalam kenyataan sebelum kita dapat menentukan sifat-sifat lainnya. Sementara untuk mencapai kebahagiaan kita harus mengetahui keseluruhan sifat-sifat yang ada dalam kenyataan, maka keberadaan benda secara individu harus diketahui. Bahkan, ini juga berlaku untuk memastikan keberadaan kebahagiaan, karena kalau kebahagiaan tidak ada maka seluruh pekerjaan kita tidak akan bermakna.

Dengan penentuan keberadaan benda, maka kita juga memastikan keanggotaan kenyataan. Kenyataan adalah himpunan segala keberadaan sesuai dengan esai 4 yang memiliki anggota-anggota. Sekarang kita ingin memastikan apa saja yang menjadi anggota dari himpunan ini. Dengan adanya kepastian dari keanggotaan kenyataan, kita dapat menentukan sifat lain dari kenyataan, dalam hal ini yaitu ukuran kenyataan.

Adapula tentu saja esai ini masih bersifat filosofis. Kalau kita mengingat kembali makna dari filsafat sebagaimana dijabarkan  dalam esai 3, filsafat adalah ilmu yang mempelajari sifat-sifat kenyataan, atau benda-benda yang berlaku untuk seluruh kenyataan. Dalam esai ini kita hendak menemukan cara untuk menentukan keberadaan dari setiap benda. Maka karena yang terlibat adalah seluruh benda dalam kenyataan, maka penelitian ini mencakup seluruh kenyataan dan karena itu masih filosofis.

Pada esai 5, kita juga telah meneliti tentang pengertian dari pengalaman sadar dan konsep pengalaman sadar itu sendiri telah digunakan untuk membuktikan keberadaan mutlak kenyataan. Dengan adanya pengertian pengalaman sadar yang cukup lengkap untuk titik ini, maka kita dapat menggunakannya untuk membuktikan keberadaan benda dan juga memperkuat pembuktian yang telah dilakukan terhadap keberadaan mutlak kenyataan. Dengan segenap latar belakang dan pendahuluan yang telah ditulis, tujuan esai ini adalah untuk menentukan dan membuktikan keberadaan benda-benda dengan pengalaman sadar.

Keberadaan Benda

Kita mengikuti penjelasan yang sudah ada pada esai 4, bahwa pengalaman sadar adalah suatu kebenaran dan sumber pembuktian. Dalam kasus ini, pengalaman sadar lebih berfungsi sebagai kebenaran yang membuktikan keberadaan atau sumber pembuktian yang menjadi sumber bukti untuk keberadaan. Kita juga mengikuti penjelasan tentang keberadaan mutlak kenyataan bahwa keberadaan kenyataan dibuktikan oleh pengalaman sadar akan kenyataan.

Berikutnya keberadaan benda didasari oleh intuisi tentang keberadaan dan penetapan definitif keberadaan. Hal ini telah dijelaskan dalam esai 4 bahwa adanya intuisi akan suatu hal yang bernama keberadaan dan bahwa keberadaan itu dibuktikan oleh pengalaman sadar. Maka kita menetapkan keberadaan menurut metode pengalaman sadar yang didasari oleh definisi pengalaman sadar sebagaimana diterangkan dalam esai 5.

Metode pengalaman sadar ini adalah metode untuk menentukan keberadaan suatu benda. Kita sebelumnya menyetujui bahwa keberadaan mutlak kenyataan ditentukan oleh pengalaman sadar akan kenyataan. Maka seharusnya hal ini juga berlaku untuk keberadaan suatu benda secara individu. Kita dapat membuktikan keberadaan suatu benda dengan menyatakan bahwa kita telah mengalami benda itu dengan sadar.

Bagaimana dasar-dasar yang disebutkan tadi mendukung metode pengalaman sadar? Pertama karena pengalaman sadar adalah kebenaran dan sumber pembuktian untuk keberadaan terutama kenyataan maka kita dapat menetapkan hal yang sama untuk keberadaan benda. Metode pengalaman sadar untuk keberadaan benda sesuai dengan metode pengalaman sadar untuk keberadaan mutlak kenyataan. Terakhir, intuisi akan keberadaan dan penetapan definitif, bahwa keberadaan memang dibuktikan oleh pengalaman sadar,

Dalam definisi yang telah dituangkan oleh esai 5, kita mengetahui adanya semacam batasan dari pengalaman sadar, atau tepatnya ketiadaan batas dari pengalaman sadar. Tidak seperti sistem-sistem lain yang membatasi pengalaman menjadi pengalaman empiris atau rasional saja, kita menggabungkan keduanya menjadi satu kesatuan. Artinya pengalaman sadar apapun adalah bukti untuk keberadaan suatu benda.

Karena dasar-dasar dari keberadaan benda adalah suatu hal yang sangat sulit untuk dibantah seperti pengalaman sadar maka keberadaan benda ini juga sulit untuk dibantah. Begitu kita mengalami suatu benda, keberadaan benda itu sudah terbukti secara pasti dan sulit untuk mencari cara untuk membantahnya. Kecuali kalau kita ingin menolak pengalaman sadar dan akhirnya melalui jalur yang secara mental terganggu atau kurang waras.

Aku harus mengakui bahwa menjelaskan keberadaan benda cukup sulit karena hampir tidak ada yang dapat dijelaskan. Menurutku keberadaan benda ini sudah begitu jelas dan kita hanya menetapkan ini dalam satu esai khusus supaya terfokus dan dapat menjadi suatu rujukan yang mudah untuk esai-esai berikutnya. Penjelasan mengenai keberadaan benda juga memiliki fungsi untuk memperjelas saja apa yang sudah jelas dan memperkuat konsep ini dalam sistem filsafat yang ada. Tidak ada yang salah dengan memperkuat suatu hal yang sudah kuat, hanya saja memang tidak mudah juga.

Kembali pada topik, ada masalah yang sebenarnya belum dapat diselesaikan pada esai ini karena bukan menjadi sasaran esai ini. Masalah ini mengenai relasi antara pengalaman sadar atau suatu fenomena dengan benda yang diwakili fenomena tersebut. Apakah fenomena dan benda adalah dua hal yang sama? Apakah benda hanya berujung pada fenomena atau dua hal itu adalah hal yang berbeda?

Masalah ini barangkali dapat dibandingkan dengan bahasa, model, teori, dan penjelasan. Suatu kata tidak sama dengan benda yang diartikannya. Model tidak sama dengan apa yang dimodelkan, teori tidak sama dengan apa yang diteorikan, dan penjelasan tidak sama dengan apa yang dijelaskan. Namun semua itu berlaku karena kita dapat dengan jelas mengalami kedua benda tersebut sebagai dua benda yang berbenda. Hal yang sama tidak terjadi dengan fenomena dan benda.

Selamanya kita hanya memiliki fenomena, jadi tidak jelas apakah fenomena itu berbeda dengan benda atau tidak. Sejauh ini itu masih bersifat asumsi. Maka masalah ini membutuhkan pembuktian yang lebih lanjut untuk menetapkan secara pasti apakah fenomena sama dengan benda atau berbeda dengan benda. Namun kita dapat memperlakukan fenomena sebagai suatu benda tersendiri. Jadi untuk sekarang cukuplah bahwa dengan adanya fenomena kita setidaknya yakin akan suatu benda yaitu benda fenomena itu sendiri.

Dengan segenap penjelasan di atas kita dapat menetapkan suatu rumusan akhir tentang keberadaan benda. Rumusan ini berbunyi sebagai berikut, “Jika kita mengalami dengan sadar suatu benda, maka benda itu ada.”

Kesimpulan

Dengan segenap penjelasan di atas maka esai ini telah selesai dalam tujuannya dan diperoleh suatu pernyataan filsafat sebagai berikut, “Jika kita mengalami dengan sadar suatu benda, maka benda itu ada.” Untuk esai berikutnya akan menjelaskan suatu hal yang tidak dijelaskan dalam esai ini tapi akan berguna pula untuk segenap sistem filsafat yaitu pengertian benda. Maka esai ini dinyatakan selesai.

Esai ini berkorespondensi dengan versi bahasa Inggris ini.

Comments

Popular posts from this blog

Essay 5-Conscious Experience

Essay 21-Change II

Essay 15-Original and Derivative Objects