Esai 3-Awal Sistem Filsafat
Dasar dan Justifikasi Sistem
Mengingat dasar-dasar dan
justifikasi yang tertulis pada esai
1
dan esai
2,
kita memulai sistem filsafat ini. Aku akan mengulang secara ringkas dasar dan
justifikasi dari sistem filsafat ini. Pertama, esai 1
menyatakan bahwa harus adanya suatu teori etika baru untuk melengkapi yang lama
dan untuk mencapai kebahagiaan bagi umat manusia. Esai 2 menetapkan teori ini akan menjadi bagian dari sistem filsafat yang baru untuk
menggantikan sistem-sistem yang lama. Maka hadirlah kita pada esai ini untuk
menetapkan awal dari sistem filsafat yang baru.
Batasan Filsafat
Hal pertama yang harus
ditetapkan dari sistem filsafat adalah batasannya. Filsafat sebagai ilmu harus
memiliki suatu batasan supaya tetap terfokus dan mencapai tujuannya. Batasan
ilmu ini akan menetapkan pula apa yang harus kita cari untuk membentuk suatu sistem
filsafat yang baik. Untuk menetapkan batasan ini sebenarnya tidak sulit, kita
hanya perlu mengetahui esensi atau definisi dari filsafat, yang lalu kita
terapkan pada sistem filsafat.
Definisi umum filsafat
adalah sebagai ilmu yang mempelajari dasar-dasar kenyataan. Hal ini memang
benar, karena objek filsafat adalah hal-hal seperti kebenaran, keberadaan,
kebaikan, dan lain sebagainya. Namun dapat dibuat lebih spesifik bahwa filsafat
adalah ilmu yang mempelajari dasar dari kenyataan manusia. Sebab hal-hal
seperti kebaikan sepertinya bukan menjadi dasar kenyataan secara penuh tapi
lebih kepada kenyataan manusia.
Namun lagi, dalam
penelitian filsafat berikutnya akan dibuktikan bahwa kenyataan yang manusiawi
itu sungguh merupakan dasar kenyataa nyang sepenuhnya juga. Artinya filsafat
terbatas pada hal-hal yang berlaku atas seluruh kenyataan. Filsafat tidak
membahas hal-hal yang sifatnya spesifik dan lokal, karena hal-hal itu adalah
domain dari ilmu pengetahuan dan bukan filsafat.
Dengan batasan filsafat
demikian, sistem filsafat kita juga akan dibatasi pada dasar-dasar kenyataan. Maka
sistem filsafat dapat didefinisikan kembali sebagai rangkaian
pernyataan-pernyataan tentang dasar kenyataan yang saling berelasi dalam relasi
pembuktian. Sistem filsafat dapat berhubungan dengan ilmu-ilmu lain yang lebih
lokal, tapi pernyataan-pernyataan lokal itu sendiri tidak akan menjadi bagian
dari sistem filsafat.
Metodologi Filsafat
Setelah menetapkan
batasan filsafat, kita harus menetapkan pula metodologi filsafat, yaitu rangkaian
metode-metode yang akan kita gunakan untuk melaksanakan penelitian filsafat.
Pertanyaan yang akan dijawab adalah, “Bagaimana kita dapat menemukan
pernyataan-pernyataan filsafat?” Untuk mengetahui metodologi filsafat kita
sebenarnya harus melakukan sedikit penelitian filsafat.
Bagaimana seseorang dapat
mengetahui tentang kenyataan? Kita menyadari bahwa kenyataan dapat diketahui
hanya melalui pengalaman sadar. Mayoritas sistem filsafat mengakui ini. Namun
perbedaan antara sistem-sistem filsafat ini adalah pengalaman macam apa yang
digunakan. Sistem empiris atau positivis akan menyatakan bahwa hanya pengalaman
penginderaan yang menjadi sumber dari pernyataan filsafat. Sistem rasionalis
akan menyatakan bahwa hanya pengalaman pikiran yang dapat menjadi sumber dari
pernyataan filsafat.
Masalahnya kedua sistem
itu tidak lengkap, yang ideal adalah sintesis dari pengalaman inderawi dan
pengalaman pikiran. Marilah kita menganalisis hal tersebut. Kita tahu bahwa
dari pengalaman inderawi kita memperoleh kebenaran, tapi bukankah pengalaman
pikiran juga mengungkap suatu kebenaran? Misalnya saat kita berpikir tentang X,
pikiran tentang X itu benar adanya secara mutlak, terlepas dari orang lain
dapat membuktikannya atau tidak. Jadi pengalaman pikiran dan pengalaman
inderawi sama-sama dibutuhkan dalam filsafat.
Maka metodologi filsafat
yang tepat bukanlah metode empiris atau metode rasionalis melainkan metode
sintesis antara keduanya. Aku menyebut metodologi sintetik ini sebagai metode
fenomenologis. Disebut fenomenologis karena merujuk pada pengalaman sadar, atau
fenomena. Pengalaman sadar, baik secara inderawi atau dalam pikiran akan
menjadi sumber dari segala pernyataan filsafat awal. Sementara
pernyataan-pernyataan lain dapat dihasilkan melalui pembuktian menggunakan
pernyataan-pernyataan yang di awal.
Skeptisisme dan Intuisi
Sebagai bagian akhir dari
esai ini, dan transisi menuju sistem filsafat yang sesungguhnya, kita akan
membahas 2 hal yaitu skeptisisme dan intuisi. Skeptisisme artinya keraguan atau
sikap mempertanyakan secara sistematis terhadap kebenaran suatu pernyataan atau
pada hal-hal lain secara umum. Dengan adanya penyusunan sistem filsafat yang
baru, maka kita menganggap bahwa sistem-sistem yang lama tidak lagi berlaku.
Konsekuensinya adalah
kita tidak lagi memiliki dasar untuk menentukan kebenaran dan kita harus
meragukan kebenaran segala hal di dunia ini. Namun ada hal yang harus dipahami
pula, meragukan tidak sama dengan menyatakan kesalahan dari segala pernyataan. Untuk
setiap pernyataan X, keraguan artinya ketidakpastian apakah X adalah benar atau
salah. Alasannya jelas, karena kita telah membuang segala bentuk “kebenaran”
dan dasar-dasar dari kebenaran tersebut.
Konsekuensi lanjutannya
adalah kita tidak memiliki alat apapun untuk mencari kebenaran. Kita tidak
memiliki standar untuk menentukan suatu kebenaran. Lalu bagaimana kita akan
mulai menemukan kebenaran itu? Jawabannya adalah dengan suatu alat khusus
bernama intuisi. Intuisi dapat diibaratkan sebagai feeling atau firasat
tentang apa itu yang benar. Namun secara filosofis intuisi akan didefinisikan
sebagai pikiran atau gagasan yang kita miliki tentang kenyataan.
Kalau kita analogikan
dengan suatu penelitian arkeologis, intuisi adalah beragam artefak yang harus
kita klasifikasikan ke dalam kategori yang sesuai. Namun intuisi juga adalah
alat yang kita pakai untuk mengklasifikasi artefak-artefak tersebut. Jadi akan
ada intuisi yang kita tinggikan dan terima secara mentah-mentah sebagai alat
untuk menentukan intuisi yang lain sebagai benar atau salah.
Memang benar bahwa metode
intuitif semacam ini terkesan melingkar, karena kita menggunakan suatu
ketidakpastian untuk membuat suatu kepastian. Atau tepatnya kita mengubah
ketidakpastian tertentu menjadi kepastian, tanpa dasar yang jelas, untuk
menentukan kepastian lain. Akan tetapi hanya inilah metode yang kita miliki.
Kalau ada kebenaran yang sudah pasti dari awal, pastilah akan digunakan, tapi
sekarang kebenaran itu belum ada dan kita harus mengandalkan intuisi sepenuhnya
Maka pada tahap awal
sistem filsafat, pembahasan akan lebih kacau dan berantakan karena sifatnya
intuitif. Intuisi-intuisi yang ada akan digunakan untuk menentukan dirinya
sendiri. Setelah ada satu intuisi yang menjadi dasar kebenaran dari segala hal,
barulah kita akan menggunakan kebenaran-kebenaran tersebut untuk membentuk
suatu sistem filsafat yang sungguh pasti. Oleh sebab itu tugas pertama kita
adalah menentukan kebenaran yang cukup supaya kita tidak lagi bergantung pada
intuisi.
Esai ini berkorespondensi dengan versi bahasa Inggris ini.
Comments
Post a Comment