Esai 4-Keberadaan Mutlak Kenyataan

Intuisi Pertama

Sebagaimana telah ditetapkan oleh esai 3, intuisi akan sangat berperan dalam bagian awal pembentukan sistem filsafat. Seperti analogi bahwa kita membuat kota baru dari puing-puing kota yang lama. Sekarang kita telah memasuki proses untuk sungguh membuat sistem filsafat dan pasti harus ada bagian pertamanya menurut alur waktu yang terbatas, Maka intuisi pertama kita adalah intuisi tentang keberadaan, bahwa keberadaan adalah bagian pertama dari sistem filsafat.

Intuisi akan menjelaskan mengapa keberadaan harus menjadi bagian pertama atau bangunan pertama dari sistem atau kota filsafat. Bagian pertama ini ditopang oleh tanah yang terdiri dari batasan, metodologi, dan penetapan tentang skeptisisme dan intuisi. Namun bagian pertama ini juga akan menopang segala bagian berikutnya. Secara singkat, keberadaan suatu benda harus benar dulu sebelum kita dapat meneliti tentang sifat-sifat lainnya. Kalau suatu benda tidak ada, tidak mungkin kita dapat mengetahui tentang sifat-sifat lain benda tersebut karena sifat-sifat itu tidak ada.

Maka intuisi ini menetapkan bukan hanya untuk esai ini tapi untuk beberapa esai berikutnya yang akan sepenuhnya membahas ontologi atau keberadaan. Memang intuisi ini sangat terikat dengan sistem yang lama atau yang dahulu. Namun memang itu saja yang kita miliki, jadi tidak ada hal lain dapat kita lakukan. Penjelasan lebih lengkapnya adalah keberadaan terkait pengalaman sadar, jika benda tidak ada, kita tidak dapat mengalaminya dan mengetahuinya. Maka jika kita tidak dapat mengalaminya, kita tidak dapat mengalaminya.

Intuisi pertama ini bukan untuk intuisi spesifik pada esai ini, melainkan pada intuisi keseluruhan dari beberapa esai dalam rangkaian esai tentang keberadaan. Intuisi spesifik untuk esai ini akan dijelaskan pada bagian isi dari esai ini. Adapula intuisi tentang keberadaan ini akan dijelaskan lebih dalam lagi pada esai ini dan juga esai-esai berikutnya, tapi untuk sekarang cukuplah bagi kita untuk memahami bahwa keberadaan bersifat mendasar untuk pemahaman sifat-sifat lainnya dan karena itu kita harus menelitinya lebih dulu.

Penetapan Intuisi

Bagian ini tidak menjelaskan intuisi-intuisi apa saja yang akan digunakan dalam esai ini. Sebaliknya, bagian ini akan menjelaskan bahwa intuisi akan sangat digunakan dalam esai ini. Jadi kurang lebih penjelasannya akan sebagai berikut, topik akan disajikan lalu intuisi yang menjadi dasar dari topik tersebut akan dijelaskan. Kurang lebih struktur yang jelas akan ada, jadi mudah bagi pembaca untuk mengidentifikasi mana yang merupakan intuisi. Selain itu akan disebutkan secara eksplisit mana yang merupakan intuisi, jadi tidak harus dilakukan interpretasi implisit.

Keberadaan Mutlak Kenyataan

Topik utama esai ini adalah tentang keberadaan mutlak kenyataan. Kita ingin menentukan apakah keberadaan mutlak kenyataan benar atau salah. Sebelum menjelaskan intuisi dasarnya, baiknya kita memahami istilah-istilah yang digunakan. Benar artinya, memang kondisi yang dibahas adalah kenyataan yang ada. Salah artinya kondisi yang dibahas tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Keberadaan memang sulit diartikan, tapi kita semua memiliki intuisi umum tentang keberadaan jadi itu yang akan digunakan.

Mutlak artinya keberadaan kenyataan secara menyeluruh dan bukan hanya sebagian. Kenyataan dapat diartikan sebagai himpunan segala keberadaan. Jadi kalau kita mengartikan demikian, dapat dikatakan bahwa pertanyaan tentang keberadaan mutlak kenyataan adalah pertanyaan tentang apakah hal yang dinamakan keberadaan itu ada dan benar atau tidak ada dan tidak benar.

Sekarang kita akan memperuncing masalah yang ada. Saat kita ingin menentukan kebenaran dari keberadaan mutlak kenyataan, sesungguhnya kita sedang mengevaluasi suatu proposisi. Makna proposisi pernah dibahas dalam esai 2, sebagai, “suatu kalimat deklaratif yang dapat memiliki nilai benar atau salah.” Kalimat deklaratif adalah kalimat yang menyatakan suatu sifat tentang suatu benda, atau lengkapnya serangkaian simbol yang memiliki makna dan artinya mewakili serangkaian benda.

Jadi setiap simbol dalam kalimat deklaratif dapat dicocokkan dengan suatu benda benda, dan dari dalam kalimat deklaratif kita dapat secara abstrak memperoleh suatu benda atau beberapa benda yang sesuai dengan makna kalimat itu. Kalimat deklaratif menjadi proposisi jika dapat dibandingkan dengan kenyataan yang ada. Perbandingan ini akan menghasilkan nilai benar atau salah, jika proposisi sesuai dengan kenyataan yang ada, maka proposisi itu benar, jika tidak sesuai maka proposisi itu salah.

Proposisi yang dievaluasi adalah, “Kenyataan ada secara mutlak.” Maka kita ingin menentukan apakah proposisi tersebut cocok dengan kenyataan, jadi apakah kenyataan sungguh memiliki sifat keberadaan atau tidak. Sekarang pertanyaannya adalah bagaimana kita dapat menentukan kebenaran atau kesalahan dari proposisi ini. Ya, memang jawabannya adalah dengan melakukan perbandingan, tapi bagaimana perbandingan itu dapat diperoleh? Proposisi ada pada diri kita, tapi dari manakah kenyataan diperoleh?

Maka kita mendasari lagi dengan intuisi tentang kebenaran. Bahwa kebenaran diperoleh dari pengalaman sadar kita. Pengalaman sadar memampukan kita untuk melihat ke dalam kenyataan, dan membandingkan dengan proposisi yang ada dalam diri kita. Intuisi ini pun adalah puing dari sistem lama, seperti yang telah dinyatakan dalam esai 3. Lalu sepertinya makna pengalaman sadar juga harus diperjelas dan dipertajam.

Kembali pada esai 3, pengalaman sadar adalah totalitas dari pengalaman manusia. Jadi bukan hanya pengalaman inderawi tapi juga pengalaman mental. Pengalaman emosional, pengalaman rohani, pengalaman fisik semuanya dikelompokkan menjadi satu kategori yaitu pengalaman sadar. Memang agak sulit untuk mendefinisikan secara persis apa itu pengalaman tanpa melingkar, karena pengalaman adalah pengalaman. Kita juga tahu dengan segera apa itu emosi, perasaan, sensasi, penglihatan, pendengaran, dan sebagainya. Jadi aku rasa definisi yang begitu ketat tidak begitu diperlukan.

Sekarang intuisi inti dari segenap esai ini, mengapa harus keberadaan mutlak kenyataan yang menjadi fondasi dari segala sistem filsafat ini? Intuisi ini mirip dengan intuisi pertama tentang keberadaan, bahwa keberadaan benda apapun harus ditentukan lebih dahulu sebelum sifat-sifat lainnya dapat ditentukan. Maka saat kita ingin menentukan sifat-sifat kenyataan kita harus menentukan dulu keberadaan kenyataan. Karena kenyataan harus ada dulu sebelum kita dapat mengetahui sifat-sifat lainnya.

Kita telah memperoleh intuisi tentang keberadaan, kebenaran, dan keberadaan mutlak kenyataan, maka berikutnya kita akan menetapkan beberapa persyaratan dan metode sederhana untuk menentukan kebenaran atau kesalahan dari proposisi tentang keberadaan mutlak kenyataan. Kita ingin mengetahui kondisi apa yang akan membuktikan nilai kebenaran proposisi tersebut, cara untuk mendapatkan kondisi tersebut, dan juga batasan-batasan lain terhadap proposisi ini.

Pertama kita harus menentukan bagaimana cara untuk menentukan keberadaan suatu benda ataupun kenyataan. Hal ini harus menggunakan intuisi yang baru, yaitu tentang penentuan keberadaan. Kita menganggap suatu benda itu ada jika benda itu dapat dialami. Jadi ada pernyataan intuitif, “Jika kita mengalami suatu benda, benda itu ada.” Pengalaman yang digunakan tentu saja pengalaman total manusia, yang tidak membedakan antara pengalaman inderawi dan pengalaman mental. Maka kita memperoleh kondisi pembuktian, jika hasil akhir penelitian menghasilkan pengalaman akan kenyataan maka proposisi benar, jika tidak maka proposisi salah.

Kedua kita menentukan batasan dari kenyataan. Kenyataan memang adalah himpunan segala keberadaan, jadi kesannya kita harus membuktikan keberadaan dari segala benda, satu per satu. Namun tidak seperti itu, karena saat ini kita tidak tahu seberapa banyak benda yang ada dalam kenyataan. Pernyataan bahwa dalam kenyataan ada jumlah benda yang tak terbatas masih merupakan ketidakpastian. Bahkan apakah ada kenyataan atau tidak itu adalah ketidakpastian. Namun begitu satu benda saja memenuhi syarat pembuktian, maka kenyataan sudah terbukti ada karena setidaknya ada satu anggota dalam kenyataan.

Intuisi berikutnya yang akan ditetapkan adalah mengenai kepastian kebenaran atau syarat tambahan yang dibutuhkan untuk membuktikan kebenaran dari proposisi. Kita mengenal bahwa adanya kemungkinan proposisi itu benar atau salah. Tidak cukup untuk hanya membuktikan kebenaran proposisi, tapi juga harus membuktikan bahwa proposisi negatif dari proposisi tersebut, jadi proposisi yang menyatakan kesalahan dari proposisi awal, adalah salah.

Sebab kalau kita hanya mengandalkan intuisi-intuisi sebelumnya, maka justru tidak akan ada kepastian. Karena intuisi-intuisi yang ada hanya membuktikan dirinya sendiri secara melingkar. Sementara kemungkinan bahwa proposisi negatif benar masih terbuka sebelum kita menganalisisnya. Jadi secara sintetik, proposisi positif baru akan benar jika analisis pada proposisi negatif akan membuktikan proposisi positif pula, yaitu dengan menemukan bahwa proposisi negatif akan mengarah pada kenyataan yang tidak sesuai dengan proposisi tersebut.

Adapula kondisi benar dan salah adalah intuisi pula, karena kita menerima saja bahwa suatu proposisi hanya bisa bernilai benar atau salah setelah perbandingan dengan kenyataan. Sebelum perbandingan memang ada “nilai ketiga” yaitu nilai tidak tentu. Namun saat dibandingkan tentulah hanya ada 2 kemungkinan, proposisi sesuai dengan kenyataan atau tidak sesuai dengan kenyataan. Tidak mungkin ada nilai ketiga, misalnya proposisi hanya setengah sesuai atau tidak sesuai, atau sesuai dan tidak sesuai pada saat yang sama. Kesesuaian atau kesamaan adalah hal yang biner dan mutlak, harus semuanya sama. Jika ada satu unsur saja yang berbeda maka keseluruhannya berbeda.

Dengan kondisi-kondisi demikian kita dapat merancang metode untuk membuktikan keberadaan mutlak kenyataan dan melaksanakan metode tersebut. Kita memahami bahwa benda proposisional hanya memiliki dua nilai mungkin yaitu benar atau salah dan hanya dapat mengambil satu nilai pada seluruh waktu. Maka metodenya adalah menganalisis kedua kemungkinan, yaitu proposisi benar dan proposisi salah, lalu menemukan apakah analisis menghasilkan kondisi yang memenuhi syarat pembuktian atau tidak. Dalam kasus ini syarat pembuktiannya adalah terdapat suatu pengalaman sadar.

Dengan metode, intuisi, dan kondisi-kondisi yang telah ditetapkan, kita dapat memulai analisis proposisi yang berbunyi, “Kenyataan ada secara mutlak.” Pertama kita memecah proposisi ini menjadi 2 proposisi yaitu proposisi positif dan proposisi negatif. Proposisi positif berbunyi sama dengan proposisi asli, tetapi proposisi negatif berbunyi, “Kenyataan tidak ada secara mutlak.” Istilah positif dan negatif kali ini tidak merujuk pada kebenaran atau kesalahan tapi pada keberadaan. Negasi dari keberadaan pastilah ketiadaan atau ketidakadaan dan afirmasi dari keberadaan adalah dirinya sendiri.

Kedua kita menganalisis setiap proposisi satu per satu, diawali dengan proposisi positif atau proposisi asli. Dalam kondisi ini kita hanya menganalisis kebenaran mungkin dari proposisi masing-masing, karena menganalisis kesalahannya sama saja dengan menganalisis kebenaran mungkin dari proposisi negatif. Kalau kita menerima proposisi positif sebagai benar, artinya kenyataan memang ada secara mutlak. Untuk memenuhi syarat pembuktian pertama kita dapat menghasilkan suatu pernyataan filsafat, “Kenyataan ada secara mutlak.” Maka kita memikirkan pernyataan ini dan karena itu kita mengalaminya dan karena itu syarat pembuktian pertama terpenuhi.

Namun tidak cukup di situ saja, syarat pembuktian kedua mendiktekan bahwa proposisi asli baru terbukti saat analisis pada proposisi negatif menghasilkan kondisi pembuktian yang sama pula. Maka sekarang kita menganalisis proposisi negatif. Kalau kita menerima proposisi negatif, kelihatannya berakhir begitu saja. Namun kita tetap dapat menghasilkan suatu pernyataan filsafat yang berbunyi, “Kenyataan tidak ada secara mutlak,” dan dapat dipikirkan, dialami, dan karena itu syarat pertama terpenuhi.

Sekalipun begitu kita harus bertanya, “Apakah pikiran akan pernyataan ini dapat dihilangkan?” Pertanyaan itu harus dijawab dengan, “Tidak,” yang terbukti supaya penelitian kita lengkap. Maka kita dapat mencari cara untuk menghilangkannya. Pertama kita dapat berusaha menghilangkan sementara pikiran itu dengan tidak memikirkannya. Namun kita tetap dapat memikirkannya lagi pada suatu saat lain dan syarat pembuktian terpenuhi.

Kedua, kita dapat tidak memikirkan kesimpulan itu secara abadi, tapi itu memiliki konsekuensi berat yaitu kita berhenti bertindak dan tidak ada kemajuan dalam filsafat. Segala upaya akan mandek dan tujuan tertinggi kita tidak akan pernah tercapai. Namun itu juga sulit dilakukan karena pengalaman akan pernyataan itu harus sepenuhnya dihilangkan, termasuk ingatan dan segala hal terkait pengalaman tersebut. Barangkali ini akan melibatkan penghilangan pikiran secara keseluruhan dan ini artinya ketidaksadaran atau skenario terburuknya, kematian.

Penghilangan pikiran harus ditolak karena tujuan kita adalah memperoleh jawaban. Ini harus dipenuhi dan jika pikiran dihilangkan karena kita memiliki kepentingan untuk mendapat satu jawaban, maka jawaban itu akan hilang pula secara ironis. Jadi pikiran tidak dapat dan tidak boleh dihilangkan. Namun barangkali kita dapat mempertahankan proposisi negatif dengan cara-cara lain.

Dengan syarat pembuktian pertama, kita tahu bahwa proposisi positif akan selalu terbukti. Namun barangkali kita dapat menolak syarat pertama itu? Masalahnya dengan itu maka keberadaan akan menjadi suatu hal yang tidak bermakna dan kosong. Tanpa syarat pembuktian pertama, menjawab pertanyaan esai akan mustahil dan kita kembali pada masalah yang sama dengan penghilangan pikiran. Namun harus diakui bahwa dengan penolakan syarat itu, kita dapat berkata bahwa, “Kenyataan tidak ada secara mutlak,” tanpa pakai banyak argumen.

Kita dapat mengabaikan pengalaman kita akan pernyataan tersebut dan tetap bersikukuh bahwa kenyataan memang tidak ada. Tidak akan ada bukti yang dapat meyakinkan kita karena intuisi pertama tentang keberadaan dan pengalaman sadar tidak lagi kita yakini. Dengan itu kita tidak dapat diselamatkan kecuali oleh rahmat Tuhan yang Mahakuasa. Barangkali keberadaan bermakna lain bagi kita dalam kondisi itu, mungkin maksudnya adalah warna atau hal lain. Namun kita memakai intuisi umum, dan bukan tebak-tebakan saja. Segala intuisi yang digunakan telah diupayakan merupakan intuisi umum manusia berdasarkan runtuhan sistem yang lama.

Maka di sinilah intuisi berperan sangat besar dalam penelitian kita. Karena intuisi bukan sekadar gagasan, tapi sudah disebutkan dalam esai 3 bahwa intuisi adalah suatu firasat, dan ini bukan sembarang firasat melainkan firasat yang mengakar dan tertanam. Jadi aku pun telah menyeleksi intuisi berdasarkan kekuatannya dan sifat umumnya. Kalau kita ingin sungguh mencapai kebenaran, kita harus menerima intuisi dan firasat sekalipun belum pasti. Kita harus memiliki iman dan dalam istilah rohani, membiarkan Roh Kudus membimbing kita.

Berdasarkan pembuktian dan penjabaran yang ada, sepertinya jelas bahwa memang analisis terhadap proposisi negatif akan berujung pada pemenuhan syarat pembuktian pertama dan artinya kembali pada kebenaran proposisi asli. Segala upaya lainnya akan mengarah pada tempat-tempat yang tidak sesuai dengan tujuan kita ataupun yang tidak sesuai dengan iman intuitif kita. Maka kita dapat menyimpulkan bahwa kedua syarat pembuktian terpenuhi dan menyatakan secara filosofis, “Kenyataan ada secara mutlak.”

Bagian ini belum selesai, kita memang berhasil membuktikan secara sementara bahwa kenyataan ada secara mutlak. Namun ada yang dapat bertanya, “Mengapa harus melalui proses penjabaran yang lama? Bukankah setiap saat syarat pembuktian terpenuhi?” Hal itu benar adanya, tapi marilah kita menganalisis kondisinya. Misalkan kita menerapkan metode ini pada  suatu bola, mungkin untuk analisis proposisi positif syarat pertama terpenuhi. Namun kita dapat menghilangkan bola tersebut atau melupakan bola tersebut dan walhasil menghilangkan pengalaman kita sehingga syarat kedua tidak terpenuhi.  

Sementara itu pengalaman akan bola tidak mudah untuk didapatkan kembali kalau memang bola itu sulit diakses dan kita benar-benar lupa. Pada model penelitian yang kita buat, pengalaman sulit dihilangkan dan mudah diperoleh karena terkait dengan proposisi positif. Maka sejak awal untuk menganalisis proposisi negatif kita sudah ada dalam kondisi yang bertentangan dengan proposisi negatif itu sendiri, tapi baru dinyatakan saat analisis akhir terhadap proposisi negatif.

Selain itu kita harus melihat kembali tujuan analisis ini, yaitu untuk mengevaluasi nilai kebenaran dari proposisi, “Kenyataan ada secara mutlak,” dengan membuktikan keberadaan satu benda secara mutlak. Jadi benda yang diteliti bukan satu bagian dari kenyataan tapi keseluruhan dari kenyataan. Sementara itu tidak ada benda yang diakui keberadaannya atau kebenarannya selain intuisi-intuisi yang kita terima. Jadi kita tidak dapat menerapkan metode penelitian ini pada benda sehari-hari karena keberadaan mereka belum pasti atau terbukti.

Sekarang kita memasuki masalah berikutnya, bahwa sesungguhnya semua ini masih intuisi. Setidaknya kita ingin menyatakan bahwa berdasarkan intuisi yang dipilih, atau jika suatu himpunan intuisi benar, maka satu pernyataan tertentu akan benar pula, dalam hal ini yaitu tentang keberadaan mutlak kenyataan. Jadi seharusnya jelas kenapa keberadaan kenyataan tidak otomatis terbukti setiap saat, karena belum ada kenyataan apapun yang pasti untuk dibuktikan.

Melanjutkan masalah tentang intuisi, karena dasar dari “kebenaran” yang kita temukan adalah intuisi, sebenarnya masih belum layak bagi kita untuk menyatakan proposisi itu sebagai benar. Suatu kebenaran menurut esai 2 harus memiliki pembuktian yang dapat berupa suatu kebenaran lain atau sumber pembuktian. Pembuktian yang digunakan kali ini tidak memenuhi kedua syarat sama sekali. Maka oleh karena itu kita harus melanjutkan ke bagian berikutnya untuk meninggikan salah satu intuisi menjadi kebenaran.

Penentuan Keberadaan

Pada bagian pertama kita telah menentukan beberapa intuisi untuk dijadikan pembantu untuk menentukan apa kebenaran pertama yang dapat kita pegang. Sayangnya, intuisi yang di atas baru intuisi dan belum ditinggikan menjadi tingkat kebenaran. Padahal kebenaran hanya dapat dibuktikan oleh kebenaran lain atau oleh sumber pembuktian. Intuisi bukanlah keduanya, maka pada bagian ini kita akan menentukan intuisi mana yang akan dijadikan kebenaran supaya kebenaran tentang keberadaan mutlak kenyataan sungguh terbukti.

Intuisi yang kita akan teliti adalah tentang penentuan keberadaan. Bagaimana kita dapat membuktikan bahwa kenyataan ada? Menurut bagian di atas, ada syarat pembuktian yaitu adanya pengalaman sadar akan suatu benda yang akan membuktikan keberadaan kenyataan secara mutlak. Adapula hasil analisis memang membuktikan bahwa adanya pengalaman sadar akan proposisi-proposisi yang dianalisis.

Mengapa intuisi tentang pengalaman sadar yang harus kita tinggikan menjadi kebenaran paling pertama? Karena pengalaman sadar yang ditetapkan menjadi bukti dari keberadaan suatu benda, atau dalam hal ini maka kenyataan itu sendiri. Jadi kalau kita ingin supaya keberadaan menjadi kebenaran, maka dasar dari keberadaan itu sendiri harus kita tetapkan entah sebagai kebenaran atau sebagai suatu sumber pembuktian.

Kalau kita meneliti konsepsi tentang pengalaman sadar, kita dapat mengetahui bahwa pengalaman sadar ini dapat berupa suatu kebenaran atau suatu sumber pembuktian. Maka kita akan melakukan hal itu, berusaha memahami dan menganalisis pengalaman sadar supaya dapat ditinggikan menjadi kebenaran atau sumber pembuktian. Sebagai kebenaran, pengalaman sadar hadir dalam bentuk, “Saya mengalami X, maka X,” sementara sebagai sumber pembuktian dalam bentuk, “Berdasarkan pengalaman sadar X, X.”

Apa yang dapat menjadi dasar dari pengalaman sadar? Apakah ada suatu bukti yang dapat membenarkan pengalaman sadar sebagai suatu kebenaran atau sumber pembuktian? Jawabannya adalah tidak ada dasar atau bukti eksternal yang dapat membenarkan pengalaman sadar, selain pengalaman sadar itu sendiri. Sebab setiap saat kita memiliki pengalaman dalam berbagai rupa, dan hal itu tidak dapat kita pungkiri atau tolak, kecuali kalau kita berani menolaknya tapi dengan itu penolakan kita akan menjadi tidak benar atau kosong.

Setidaknya ini dari sudut pandangku sendiri karena aku tidak bisa mengetahui apakah orang lain mengalami pula atau hanyalah philosophical zombie. Faktanya aku memiliki “rasa”, atau kesadaran dan pengalaman yang memiliki suatu citra yang unik bagi diriku sendiri. Aku mengenali pengalaman itu dan sepertinya ini adalah kebenaran yang paling tidak dapat diperdebatkan. Jadi pengalaman sadar adalah benar karena memang sudah ada di situ sejak awal, dan kita sudah memilikinya sejak awal. Masalah pengalaman sadar bukan masalah yang dapat dianalisis karena sudah paling sederhana, jadi lebih kepada kita menerima atau tidak, dan kita mengalami atau tidak.

Jika kita menerima dan mengalami apa yang kita miliki, maka pengalaman sadar itu benar adanya. Jika tidak, maka pengalaman yang sejelas atau sekuat apapun akan kita anggap sebagai ilusi. Dengan akal yang jernih, harusnya setiap orang yang sadar menerima konsepsi tentang pengalaman sadar. Pengalaman hanya dapat ditolak dalam 2 kondisi, jika akal seseorang sedang terganggu atau karena mereka memang hanya p-zombie, dan bukan manusia sadar yang sesungguhnya. Mereka berupa manusia yang sadar, tapi hanyalah manusia dalam raganya dan tidak berjiwa atau berkesadaran.

Sebagai sumber pembuktian, artinya pengalaman sadar menjadi sumber pembuktian dari kebenaran-kebenaran tertentu. Secara lebih jelas, pengalaman sadar adalah jalan kita menuju kenyataan untuk membandingkan proposisi dan kenyataan. Dari pengalaman sadar, kita memperoleh informasi mengenai kenyataan, dan informasi ini yang kita bandingkan dengan proposisi yang kita rancang di awal. Walau sebenarnya secara umum justru proposisi kita rancang berdasarkan pengalaman sadar yang kita peroleh.

Dikatakan sebagai pembuktian karena pembuktian adalah alasan atau hal yang membolehkan kita untuk berkata suatu hal adalah benar. Alasan juga dapat dikatakan sebagai suatu syarat kebenaran, syarat apa yang harus dipenuhi suatu proposisi supaya benar. Jadi saat kita bertanya tentang bukti, sesungguhnya kita bertanya, “Apa yang menunjukkan bahwa proposisi tersebut telah memenuhi syarat kebenaran?” “Apa” ini dapat berupa penyimpulan logis atau kembali lagi, pengalaman sadar. Maka pengalaman sadar dapat menjadi suatu benda yang menunjukkan bahwa suatu proposisi telah memenuhi syarat kebenaran.

Sekarang kita kembali pada keberadaan, dengan penetapan pengalaman sadar sebagai kebenaran dan sumber pembuktian, maka keberadaan kenyataan secara mutlak sungguh menjadi kebenaran pula. Namun barangkali masih ada pertanyaan, “Apa yang membuktikan bahwa pengalaman sadar adalah bukti dari keberadaan?” Jawabannya adalah bukan dengan bukti lain, tapi berdasarkan penetapan. Intuisi bahwa pengalaman sadar membuktikan keberadaan berdasarkan penetapan definisi keberadaan sebagai dibuktikan oleh pengalaman sadar.

Jadi kita bukan meneliti suatu hal yang sama sekali baru, melainkan hal yang sudah ada dan lama tapi diperjelas dan dipertegas supaya kita sungguh yakin. Keberadaan memang kita definisikan sebagai hal yang dibuktikan dengan pengalaman sadar, maka kita beroperasi menurut definisi itu dan mencapai kebenaran yang lebih jelas dan tegas. Sehari-hari sebenarnya segala ini sudah terbukti, tapi kita menyadari lebih dalam apa yang sudah disadari, dan memperoleh dasar yang lebih kuat terutama untuk sistem filsafat.

Apakah ada pernyataan filsafat yang dapat kita hasilkan dari bagian ini? Ada, tapi pada waktunya akan ada pernyataan yang lebih general. Untuk sekarang kita akan merangkum bagian ini menjadi satu pernyataan yang berbunyi, “Kita mengalami dengan sadar kenyataan, maka kenyataan ada secara mutlak.” Adapula pernyataan lain yaitu, “Kita memiliki pengalaman sadar.” Karena kedua pernyataan itu adalah pernyataan filsafat, maka tentu saja semuanya adalah kebenaran dan sekarang kita telah berhasil dalam menemukan kebenaran dari intuisi, kepastian dari ketidakpastian.

Kesimpulan

Dengan itu seluruh pertanyaan esai ini telah terjawab, yaitu mengenai keberadaan kenyataan secara mutlak dan pembuktiannya. Diperoleh 3 pernyataan filsafat dalam esai ini yaitu, “Kenyataan ada secara mutlak,” “Kita memiliki pengalaman sadar,” dan, “Kita mengalami dengan sadar kenyataan, maka kenyataan ada secara mutlak.” Dalam esai berikutnya kita akan membahas suatu hal yang masih terkait tapi sedikit berbeda, yaitu pengalaman sadar. Maka esai ini dinyatakan selesai.

Esai ini berkorespondensi dengan versi bahasa Inggris ini.

Comments

Popular posts from this blog

Essay 5-Conscious Experience

Essay 21-Change II

Essay 15-Original and Derivative Objects