Esai 13-Identitas dan Kategori
Pendahuluan
Dalam esai 9 dan esai 10
kita mengenal konsep tentang sifat dan perbedaan. Namun perbedaan belum dibahas
dengan cukup dalam dalam esai 10.
Perbedaan memang hanya dijelaskan dalam bentuk “ketidakserupaan”, tapi
sebenarnya kita dapat membuat pengertiannya lebih spesifik dan persis, dan
mendeskripsikan apa yang sesungguhnya membuat satu benda berbeda dengan benda
yang lain. Maka dengan itu kita akan menjelajahi konsep identitas dan kategori
dalam esai ini.
Identitas
Setiap benda memiliki
identitas, yaitu deskripsi semua sifat yang dimiliki oleh suatu benda. Dari esai 9 kita tahu bahwa
setiap benda kompleks dan terdiri dari berbagai sifat. Maka deskripsi yang
lengkap tentang setiap sifat yang membentuk suatu benda adalah identitas dari
benda tersebut. Namun ada kata yang harus kita garisbawahi, yaitu “deskripsi”.
Artinya identitas dan benda tidaklah sama, melainkan identitas adalah bagian
dari suatu benda, tapi bukan benda itu sendiri.
Pemahaman ini dapat kita
peroleh dari analisis terhadap bahasa yang umumnya kita gunakan sehari-hari. Kita
berkata bahwa suatu benda memiliki suatu identitas, tapi bukan benda adalah
suatu identitas. Artinya identitas adalah suatu hal yang dimiliki atau menjadi
sifat dari suatu benda, dan bukan sinonim dari benda. Lalu deskripsi adalah
suatu benda yang murni linguistik, dan barangkali identitas adalah sepenuhnya
benda linguistik yang mewakili kelengkapan unsur-unsur dari suatu benda.
Di sisi lain ada firasat
bahwa identitas itu lebih dari sekadar benda linguistik. Namun ke mana pun kita
pergi, identitas adalah fitur linguistik. Misalnya, nama adalah bagian dari
identitas seseorang, tapi nama sekali lagi adalah suatu benda linguistik. Baiklah,
kalau begitu bagaimana dengan unsur-unsur lain dari identitas seseorang? Misalnya
jenis kelamin, ini bukan hanya unsur linguistik tapi merupakan bagian riil dari
seseorang.
Dalam hal tersebut
sepertinya identitas lebih merujuk pada kelengkapan sifat-sifat dari suatu
benda. Maka saat kita berkata bahwa identitas suatu apel sebagian adalah
sebagai buah, maka kita hanya berkata bahwa sifat apel adalah sebagai buah,
karena nyatanya apel memang buah. Karena itu identitas juga dapat merujuk pada
totalitas sifat suatu benda. Namun bukankah totalitas sifat suatu benda sama
saja dengan benda tersebut?
Sebenarnya ya, totalitas
sifat suatu benda sama saja dengan benda tersebut. Karena itu identitas lebih
merupakan suatu benda linguistik daripada benda yang memiliki wujud konkrit. Identitas
adalah cara lain untuk melabeli benda dengan bahasa hanya saja dengan melabeli
setiap sifat-sifat tersebut dan mengidentifikasi setiap sifat-sifat tersebut. Dalam
kata lain, identitas adalah nama dari suatu benda yang lebih panjang, karena
memampukan kita untuk mengetahui lebih dalam tentang “identitas” dari suatu
benda.
Jadi ada 2 jenis
identitas, yaitu identitas linguistik dan identitas objektif. Identitas
objektif adalah kelengkapan sifat-sifat yang membentuk suatu benda. Dalam arti
kita memandang benda bukan sebagai satu benda, melainkan sebagai kumpulan
sifat-sifat yang tergabung dan terhubung. Mengetahui identitas objektif artinya
mengetahui sifat-sifat yang terkandung dalam suatu benda dan bukan hanya
mengetahui benda yang utuh saja. Identitas linguistik adalah alat bahasa untuk
mengetahui identitas objektif tersebut, dengan memecah satu kata benda menjadi
banyak kata benda lainnya yang mewakili sifat-sifat dari benda tersebut.
Konsep identitas objektif
memang membutuhkan beberapa konsep filsafat yang sebenarnya belum kita bahas
sama sekali seperti kesadaran dan pengetahuan. Setiap kali kita memang
menyadari suatu benda, misalnya bola. Namun dalam pikiran linguistik kita,
belum tentu kita menyadari benda dalam rupa kumpulan sifat, dan mungkin hanya
sebagai kesatuan benda. Kalau kita menyadari identitas objektif, maka dalam pikiran
yang muncul adalah bayangan akan seluruh sifat-sifat yang ada secara mandiri
tapi terkait.
Karena identitas objektif
itu cukup jauh di hierarki filsafat, maka aku lebih menggunakan konsep
identitas linguistik, yaitu deskripsi setiap sifat yang dimiliki suatu benda.
Adapula dalam pendapatku pengertian ini lebih konsisten, formal, dan dapat
dipahami secara analitik. Berikutnya apa kaitannya dengan konsep perbedaan? Di
sini kita akan mengenal bahwa dasar dari perbedaan sangatlah kecil, yaitu 1
sifat.
Supaya 2 benda dapat
dikatakan berbeda, maka identitasnya harus berbeda, dan artinya sifatnya yang
berbeda. Berapakah jumlah minimal sifat yang harus berbeda? Jawabannya adalah
hanya 1 sifat yang harus berbeda supaya 2 benda menjadi 2 benda yang berbeda. Sebab
identitas tidak memandang kesamaan sifat lainnya, melainkan adalah suatu
totalitas. Saat ada satu perbedaan saja, ini akan mempengaruhi totalitas dan
secara keseluruhan kita akan memandang bahwa 2 benda itu berbeda. Jadi 2 bola
sepakbola, sekalipun hanya 1 molekul cat yang berbeda warna, secara faktual
sudah merupakan 2 bola yang sama sekali berbeda.
Oleh sebab itu, suatu
benda tidak mungkin berjumlah lebih dari 1. Setiap benda hanya ada 1, karena
pluralitas mengandaikan, selalu, suatu perbedaan antara satu benda dengan benda
lainnya. Lalu bagaimana dengan kesamaan sifat antara berbagai benda? Kesamaan
ini adalah yang kita namakan dengan kategori dan akan kita bahas dalam bagian
berikutnya. Namun untuk bagian ini cukuplah bagi kita untuk memahami bahwa begitu
1 sifat berbeda, 2 benda sudah berbeda.
Kategori
Kategori adalah kelompok
benda yang memiliki sifat-sifat yang sama, satu atau serupa. Dalam perspektif
identitas memang setiap benda itu berbeda secara mutlak, tapi ada sifat-sifat
yang sama. Misalnya antara berbagai jenis bola, mulai dari bola tenis, bola
golf, bola sepakbola, bola basket, bola pingpong, dan berbagai bola lainnya
memang memiliki perbedaan tapi juga memiliki kesamaan yaitu sebagai suatu bola permainan
olahraga. Karena itu setiap benda itu masuk dalam 1 kategori yang sama.
Maka seringkali saat kita
menggunakan bahasa untuk menyatakan bahwa 2 benda itu sama, maksudnya adalah 2
benda itu terletak dalam 1 kategori yang sama. Jadi bukan berarti 2 benda itu
sungguh sama secara mutlak, karena kalau sudah ada 2 benda, tidak mungkin sama.
Memang bahasa filosofis dan bahasa biasa sedikit berbeda, tapi ini tidak
apa-apa. Selama bahasa filosofis dan bahasa biasa dapat disinkronisasikan,
tidak ada masalah.
Konsep kategori ini
memang sederhana tapi cukup penting untuk meluruskan pemahaman kita terhadap
bagaimana kita meneliti dunia. Dalam suatu dunia yang dinamis, tidak pernah
kita meneliti satu benda secara individu, melainkan sebagai suatu kategori. Barulah
mungkin untuk meneliti satu benda, tapi tetap bukan sebagai individu melainkan
sebagai kumpulan individu-individu yaitu kategori. Selain ini masih banyak lagi
penggunaan konsep kategori, tapi untuk sekarang cukuplah bagi kita untuk
memahami bahwa kategori adalah kelompok benda dengan kesamaan sifat.
Kesimpulan
Ada 3 pernyataan filsafat
yang dapat diperoleh dari esai ini yaitu, “Identitas Linguistik adalah
deksripsi seluruh sifat suatu benda,” “Identitas Objektif adalah
totalitas sifat suatu benda,” dan, “Kategori adalah kelompok benda yang
memiliki kesamaan sifat.” Untuk esai berikutnya kita akan mendalami tentang
sifat suatu benda yaitu tentang sifat intrinsik dan ekstrinsik. Untuk sekarang
esai ini dinyatakan selesai.
Esai ini berkorespondensi
dengan versi
bahasa Inggris ini.
Comments
Post a Comment