Esai 9-Sifat

Pendahuluan

Pada esai 7 kita telah menetapkan konsepsi tentang benda, yaitu suatu pembentuk paling mendasar dari kenyataan sebagai bagian dari kenyataan yang unik dan terbatas. Pada esai 6, kita juga telah menetapkan bahwa suatu benda dapat ditentukan keberadaannya melalui pengalaman sadar. Maka pada esai ini kita akan membuktikan keberadaan suatu benda berdasarkan pengalaman sadar, yang didasari pada penyadaran bahwa setiap benda sifatnya kompleks. Tujuan esai ini adalah mengeksplorasi pembentuk dari benda yaitu sifat.

Sifat

Konsep tentang sifat didasarkan pada kompleksitas benda, bahwa suatu benda kompleks dan terdiri dari berbagai macam unsur. Kompleks sendiri artinya “terdiri dari banyak unsur.” Suatu hal yang kompleks berlawanan dengan hal yang sederhana, yang artinya “terdiri dari sedikit unsur.” Berdasarkan pemahaman bahwa setiap benda adalah kompleks, terdiri dari berbagai unsur, kita tertarik untuk mencari tahu tentang unsur-unsur yang membuat benda menjadi kompleks, itulah yang dinamakan dengan sifat.

Sifat adalah pembentuk dari benda, setiap benda terdiri dari beragam sifat-sifat individual yang kalau digabungkan dan disusun sedemikian rupa akan menjadi benda tersebut. Sifat juga dapat dipahami dalam perspektif fenomenal. Kita sudah memahami dalam esai 8 bahwa benda dan pengalaman sadar terkait tapi terpisah. Benda menyebabkan pengalaman sadar atau fenomena. Kalau kita mengamati fenomena akan suatu benda, nyatalah pula bahwa fenomena itu juga kompleks.

Ambillah contoh bola sepakbola. Gambaran umum bola sepakbola adalah bola dengan pola hitam-putih. Dari fenomena utuh bola, ada fenomena-fenomena lebih sederhana yang membentuk fenomena tersebut, yaitu fenomena bentuk bola, fenomena warna hitam-putih dari bola, fenomena ukuran bola, fenomena berat bola, fenomena tekstur bola, dan sebagainya. Setiap fenomena ini masing-masing disebabkan oleh sifat, pemengaruh fenomena bola secara lebih utuh.

Jadi ada 2 peran dari sifat, yaitu sebagai pembentuk benda kalau diambil dari perspektif objektif, atau sebagai pemengaruh fenomena benda kalau diambil dari perspektif fenomenal. Sifat-sifat yang berbeda bergabung untuk membentuk suatu benda yang lebih kompleks. Fenomena dari setiap sifat mempengaruhi fenomena lebih lengkap dari suatu benda yang dibentuk oleh sifat-sifat tersebut.

Sifat dan Benda

Sesungguhnya sifat dan benda sejenis, artinya sifat pun juga dapat dikatakan sebagai benda. Mengapa begitu? Karena sifat pun memenuhi syarat-syarat kebendaan yaitu bagian, unik, dan terbatas. Apakah sifat merupakan bagian dari kenyataan? Menurut logika, karena sifat adalah bagian dari benda, dan benda adalah bagian dari kenyataan, maka sifat juga merupakan bagian dari kenyataan.

Apakah sifat unik? Kita jelas dapat membedakan antara satu sifat dengan sifat yang lain, sifat bentuk dan sifat warna adalah 2 sifat yang sama sekali berbeda, jadi sifat unik. Sifat juga terbatas, ada yang termasuk dalam sifat tersebut dan ada yang tidak termasuk dalam sifat tersebut. Kita dapat berkata bahwa bola berwarna hitam-putih, tapi kita tidak dapat berkata bola berwarna bola (bola sebagai bentuk). Dengan itu dapat disimpulkan bahwa sifat juga adalah benda.

Karena sifat adalah benda, maka sifat juga dapat berupa kompleks. Misalnya mesin dari mobil, masih terdiri dari banyak sifat lagi. Namun benda akan selalu lebih kompleks daripada sifat pembentuknya karena suatu logika matematika sederhana. Misalkan suatu sifat dari suatu benda terdiri dari sub-sifat yang sejumlah x. Namun sifat itu bukan satu-satunya sifat dari benda tersebut, pastilah ada sejumlah y sifat lainnya. Maka benda tersebut terdiri dari x+y sementara sifat spesifik tersebut hanya terdiri dari x sub-sifat. x+y pasti lebih besar dari pada x, dengan syarat x dan y sama-sama tidak sama dengan 0.

Perbedaan dari sifat dan benda adalah perspektifnya, sifat biasanya dipandang sebagai bagian dari suatu benda, sementara benda adalah kumpulan dari sifat-sifat. Namun kalau kita seragamkan istilahnya, benda adalah kumpulan dari benda-benda lebih sederhana yang digabungkan menjadi 1 benda baru. Sementara sifat adalah benda yang bergabung dengan benda-benda lainnya menjadi 1 benda yang baru.

Dengan itu kita dapat membentuk beberapa definisi baru dari benda dan sifat. Pertama, benda dapat didefinisikan sebagai, “Kumpulan sifat-sifat tertentu yang disusun dalam suatu cara tertentu,” atau, “Kumpulan benda-benda yang lebih sederhana  yang disusun dalam suatu cara tertentu membentuk 1 benda yang baru.” Sifat dapat didefinisikan sebagai, “Bagian pembentuk benda yang turut mempengaruhi fenomena keseluruhan benda yang dibentuknya.” Namun itu sebenarnya adalah pengertian yang diturunkan dari analisis peran sifat. Karena suatu benda pasti menyebabkan fenomena, maka pengertian yang lebih esensial dari sifat adalah, “Benda yang bergabung dengan benda-benda lain dengan cara tertentu menjadi 1 benda yang baru.”

Komponen dan Sifat

Perspektif umum mungkin membedakan antara komponen dan sifat dari suatu benda. Namun secara filosofis komponen dan sifat disamakan, setidaknya dalam aliran filsafat yang diekspresikan oleh seri esai-esai ini. Karena kita merujuk pada pengertian pasti dari sifat dan komponen. Ambillah kembali bola, bukankah warna, ukuran, bentuk, tekstur, dan berat digabungkan menjadi suatu bola seperti rangkaian material digabungkan menjadi bola juga?

Dalam hal penyusunan dan pembentukan, komponen dan sifat setara secara filosofis. Mungkin sedikit aneh untuk mengatakan bahwa salah satu sifat mobil adalah mesin. Secara kebahasaan memang aneh kalau kita berkata, “Mobil tersebut bersifat mesin.” Namun kita biasanya tidak berkata secara langsung, “Mobil bersifat berat,” atau, “Mobil bersifat merah,” melainkan kita berkata, “mobil itu berat,” atau, “mobil itu berwarna merah.”

Namun kita dapat menyelaraskan pemahaman kita dengan menerjemahkan semua kalimat itu menjadi bentuk kebahasaan, “Mobil itu memiliki sifat ...,” dan menerjemahkan makna dari kalimat berbentuk seperti itu. Sesungguhnya saat kita berkata bahwa, “Mobil memiliki sifat ...,” atau, “Mobil itu bersifat ...,” karena “bersifat” sama dengan “memiliki sifat,” kita sama saja berkata, “Mobil itu terdiri dari sifat ... dan sifat lain-lainnya,” atau, “Salah satu sifat yang membentuk mobil tersebut adalah sifat ....”

Jadi sekalipun terkesan aneh, dengan pemahaman bahasa yang filosofis, sah-sah saja untuk berkata, “Mobil itu bersifat mesin.” Dengan berkata seperti itu kita hanya memaksudkan, “Mobil terdiri dari mesin dan sifat-sifat lainnya,” atau, “Salah satu sifat yang membentuk mobil tersebut adalah mesin.” Namun memang benar bahwa ada perbedaan antara sifat seperti warna dan sifat seperti mesin, tapi itu tidak akan kita bahas pada esai ini. Hal pentingnya adalah secara esensial, komponen benda dan sifat benda adalah sama, yaitu sifat.

Kesimpulan

Pada esai ini kita memperoleh cukup banyak pernyataan filsafat yang sebenarnya hanyalah variasi dari ide yang sama. Pertama, “Benda adalah kumpulan sifat-sifat tertentu yang disusun dalam suatu cara tertentu.” Kedua, “Benda adalah kumpulan benda-benda yang lebih sederhana yang disusun dalam suatu cara tertentu membentuk 1 benda yang baru.” Ketiga, “Sifat adalah bagian pembentuk benda yang turut mempengaruhi fenomena keseluruhan benda yang dibentuknya.” Dan keempat, “Sifat adalah benda yang bergabung dengan benda-benda lain dengan cara tertentu menjadi 1 benda yang baru.” Untuk esai berikutnya kita akan melanjutkan dengan suatu pengamatan lain yaitu pengamatan akan perubahan.

Esai ini berkorespondensi dengan versi bahasa Inggris ini.

Comments

Popular posts from this blog

Essay 5-Conscious Experience

Essay 21-Change II

Essay 15-Original and Derivative Objects