Esai 8-Benda dan Pengalaman Sadar
Pendahuluan
Pada esai 6,
kita telah menetapkan keberadaan benda-benda, bahwa ada suatu hal dalam
kenyataan yang dinamakan dengan benda. Pada esai
7
pengertian tentang benda diungkapkan untuk memperjelas keberadaan yang
dibuktikan dalam esai
6.
Pada esai 6
telah dibuktikan pula bahwa keberadaan benda, yaitu bagian kenyataan yang unik
dan terbatas, dibuktikan oleh pengalaman sadar kita akan suatu benda. Kita juga
telah menetapkan bagaimana suatu fenomena dapat dianggap sebagai suatu benda,
tapi pertanyaan yang masih belum terjawab adalah apakah di balik fenomena itu
ada suatu benda atau tidak yang terpisah? Maka tujuan esai ini adalah untuk
menjawab pertanyaan, “Apakah ada benda yang terpisah dari fenomena.”
Fenomena sebagai Benda
Mengapa kita dapat
mengatakan bahwa fenomena adalah suatu benda? Karena fenomena memenuhi 3 unsur
kebendaan, yaitu bagian, keunikan, dan keterbatasan. Suatu fenomena jelas
merupakan bagian dari kenyataan karena kita dapat mengalami fenomena secara
langsung dan karena itu fenomena ada dan merupakan bagian dari kenyataan yaitu
himpunan segala keberadaan. Kita dapat membedakan antara satu fenomena dengan
fenomena lain dan jelas sekali bahwa satu fenomena memiliki batasan yang jelas.
Jadi saat kita mengatakan
bahwa “Jika kita mengalami dengan sadar suatu benda, maka benda itu ada,”
dalam esai 6,
kita dapat saja mengartikan benda tersebut sebagai benda fenomena. Namun
intuisi umum menyatakan bahwa benda dan fenomena yang mencerminkan benda tersebut
adalah 2 benda yang berbeda. Maka pertanyaannya adalah apakah intuisi umum
semacam itu benar? Itulah yang harus kita teliti dalam esai ini, untuk
menentukan apakah benda dan fenomena adalah 2 benda terpisah atau hanya 1
benda.
Benda dan Pengalaman
Sadar
Seperti pada esai 4,
kita akan menentukan dulu cara menjawab pertanyaan ini. Pertanyaan esai ini
hanya memiliki 2 jawaban mungkin, yaitu ya dan tidak. Ya artinya benda dan
fenomena terpisah, tidak artinya hanya ada fenomena. Seperti dalam meneliti
keberadaan mutlak kenyataan kita harus meneliti setiap jawaban untuk menentukan
jawaban mana yang benar. Namun, kali ini karena kita telah mengetahui tentang
peran fenomena dalam kebenaran, kita akan menggunakan dasar fenomenal pula
untuk membantu dalam analisis.
Dasar fenomenal artinya
selain menganalisis jawaban yang ada, kita juga akan menelusuri fenomena yang
kita miliki terkait topik yang kita teliti. Realitas fenomenal ini bahkan penting
untuk menemukan jawabannya, dan untuk memahami alasannya kita harus mengetahui
realitas fenomenal itu sendiri. Realitas fenomenalnya adalah fenomena memiliki
awal dan akhir, artinya ada periode waktu di mana kita tidak mengalami suatu
benda, dan ada periode waktu di mana kita mengalami benda tersebut.
Tanpa awal dan akhir dari
fenomena, maka tidak akan ada bedanya antara jawaban ya dan tidak. Misalkan ada
suatu benda dan kita selalu mengalami benda itu. Kita tidak akan pernah tahu
apakah benda itu terpisah dengan fenomena atau tidak, karena benda itu selalu
hadir. Dalam kata lain, perbedaan realitas objektif di balik fenomena tidak
mempengaruhi fenomena yang kita miliki. Sementara dengan realitas fenomenal
yang ada, yaitu adanya masa kita tidak mengalami dan ada masa kita mengalami,
maka perbedaan jawaban akan sangat berpengaruh.
Untuk memahami
pengaruhnya kita harus meneliti langsung kemungkinan-kemungkinan yang ada. Pertama
adalah jawaban ya, bahwa benda dan fenomena memang terpisah. Namun bagaimana
cara kita membuktikan pernyataan ini? Kita hanya tahu bahwa fenomena memiliki
awal dan akhir, tapi rasanya hal itu tidak dapat memberi tahu kita apa-apa
tentang bukti dari keterpisahan benda dan fenomena.
Sekalipun begitu ada
baiknya kita analisis implikasi dari keterpisahan benda dan fenomena. Artinya
dapat diibaratkan bahwa fenomena adalah semacam wilayah dan benda-benda dapat
memasuki atau keluar dari wilayah ini secara bebas. Maka sekalipun kita tidak
mengalami suatu benda, benda itu dapat tetap ada dan keberadaannya tidak
bergantung pada pengalaman sadar kita. Namun begitu benda keluar dari
pengalaman sadar kita tidak lagi memiliki akses langsung dan karena itu
realitas bahwa benda dapat keluar masuk fenomena tidak memberi tahu kita apa
pun tentang relasi lebih lanjut mereka.
Karena jawaban ya sudah
diteliti, sekarang waktunya untuk meneliti jawaban tidak. Tidak artinya benda
dan fenomena adalah satu. Di sinilah analisis akan mengungkap suatu kenyataan
yang lebih dalam. Secara sekilas memang sulit untuk menghubungkan antara
realitas fenomenal dengan jawaban tidak. Kita tahu bahwa fenomena dapat berawal
dan berakhir, tapi apa hubungannya dengan kesatuan benda dan fenomena? Untuk
itu kita harus meneliti implikasi dari kesatuan benda dan fenomena.
Implikasi dari kesatuan
benda dan fenomena adalah jika fenomena berakhir, maka benda juga berakhir.
Jika fenomena berawal, maka benda juga berawal. Jika benda-fenomena berakhir
maka sebabnya cukup jelas, kemungkinan besar pada sifat benda itu sendiri. Namun
yang menjadi pertanyaan adalah saat benda-fenomena berawal, apa yang menjadi
penyebab dari keberadaan benda-fenomena?
Di sini kita memasuki
suatu ranah intuitif yaitu intuisi akan kausalitas dan potensialitas. Bahwa
segala hal yang terjadi harus memiliki sebab. Bahwa jika suatu hal terjadi,
maka harusnya ada suatu benda lain yang memampukan kejadian tersebut, karena
kalau tidak maka benda itu tidak mungkin ada. Dengan menanyakan sebab dari
keberadaan benda-fenomena, maka akan jelas bahwa benda sesungguhnya terpisah
dari fenomena.
Ada beberapa jawaban
mungkin dari pertanyaan sebab ini, bisa jadi benda-fenomena disebabkan oleh
benda lain yang ada di dalam fenomena. Namun pada saat itu kita tidak mengalami
sifat benda yang akan menyebabkan keberadaan benda tersebut. Jadi sifat
penyebab benda baru itu tetap saja ada di luar kesadaran kita dan membuktikan
bahwa ada benda di luar fenomena.
Untuk memperjelas contoh
ini marilah kita melabeli benda A dan benda B, dengan A sebagai benda lama yang
sudah ada dalam fenomena dan benda B yang baru akan diadakan oleh benda A. Jika
kita tidak mengetahui tentang sifat benda A yang akan memunculkan B, maka B
sepenuhnya ada di luar fenomena sekalipun jelas ada dalam A dan artinya B dapat
ada di luar fenomena dan benda dan fenomena adalah 2 benda yang terpisah. Jika
kita mengetahui tentang sifat A yang akan memunculkan B, berarti kita sudah
mengalami B dari awal dan ini bukan realitas yang ada.
Realitasnya adalah
seringkali awalnya kita tidak mengetahui tentang B ataupun sifat A untuk
memunculkan B dan baru setelah program sifat terjalankan kita tahu tentang B
dan juga sifat A untuk memunculkan B. Maka sifat A sebagai suatu benda yang
menyebabkan B juga awalnya ada di luar pengalaman sadar dan dapat ada di luar
pengalaman sadar beserta dengan B yang juga awalnya ada di luar pengalaman
sadar.
Kemungkinan lainnya lebih
fatal, kita bisa saja berkata bahwa B disebabkan oleh suatu benda di luar
pengalaman sadar dan artinya benda dapat ada di luar pengalaman sadar. Kita
juga bisa berkata bahwa asal B adalah “ketiadaan”. Masalahnya artinya pada
ketiadaan ada sifat atau benda yang dapat menyebabkan benda B, walhasil kita
kembali memiliki suatu benda yang ada di luar pengalaman sadar atau fenomena.
Kesimpulannya adalah
dengan analisis kausal, pastilah suatu benda dapat ada di luar pengalaman
sadar. Lalu mengenai kondisi ketiadaan dan keberadaan pengalaman sadar atau bagaimana
benda dapat menjadi ada dan tiada adalah masalah esai lain. Suatu masalah lain
yaitu bahwa pendasaran esai ini masih pada intuisi tentang sebab dan akibat,
ini harus ditangani pada esai berikut-berikutnya. Namun setidaknya kita telah
beroleh suatu rumusan akhir yaitu, “Benda dan pengalaman sadar adalah 2 benda
yang terpisah.”
Kesimpulan
Dengan itu kita telah
memperoleh 1 pernyataan filsafat yang memperjelas relasi antara benda dan
pengalaman sadar yaitu, “Benda dan pengalaman sadar adalah 2 benda yang
terpisah.” Untuk esai berikutnya kita akan meneliti kompleksitas suatu
benda, yaitu tentang sifat. Topik ini memang tidak begitu terkait dengan esai
ini, tapi kelak akan jelas kepentingan dari konsep sifat. Untuk sekarang, esai
ini dinyatakan selesai.
Esai ini berkorespondensi
dengan versi
bahasa Inggris ini.
Comments
Post a Comment