Esai 14-Sifat Intrinsik dan Ekstrinsik
Pendahuluan
Pada esai 9, kita telah
mengenal konsep sifat, dan dalam esai 13
kita mengenal bagaimana sifat-sifat menentukan identitas suatu benda. Dari
kedua konsep itu muncul pertanyaan, apa batas dari sifat-sifat? Secara sekilas,
apa yang termasuk dalam sifat suatu benda, dan apakah ada jenis-jenis sifat
yang lain? Analisis dalam esai ini akan mengungkap bahwa ya, ada
kategori-kategori sifat, dan oleh sebab itu esai ini bertujuan mengeksplorasi
sifat-sifat itu, yaitu sifat intrinsik dan ekstrinsik.
Sifat Intrinsik
Saat kita berpikir
tentang sifat, sifat yang biasanya muncul dalam pikiran kita adalah sifat
intrinsik. Sifat intrinsik, sesuai namanya, adalah sifat yang ada di dalam
benda, dan adalah sifat yang secara langsung membentuk suatu benda. Maka benda
yang disusun oleh sifat-sifat intrinsik ini adalah benda intrinsik. Mungkin
lebih baik kita menggunakan suatu contoh, misalnya dengan sebuah mobil.
Sifat intrinsik dari
mobil adalah bodi, mesin, cat, kursi, setir, airbag, berat, warna,
dimensi, dan berbagai sifat intrinsik lainnya. Sifat jenis ini yang kita bahas
dalam esai 9
secara utama, walaupun sifat tipe berikutnya juga termasuk dalam sifat itu. Namun
memang lebih cocok kalau sifat yang biasa dianggap sebagai sifat intrinsik.
Karena sudah pernah dibahas, maka sebenarnya tidak banyak yang dapat dituliskan
atau dibicarakan tentang sifat intrinsik.
Sifat Ekstrinsik dan
Relasi
Sifat ekstrinsik ini
lebih menarik dari sifat intrinsik dan memang membutuhkan penjelasan yang lebih
panjang. Secara singkat, sifat ekstrinsik adalah relasi antara satu objek
dengan objek lain. Lalu apakah itu relasi? Relasi adalah sifat suatu benda yang
mengandung benda lain. Ini paling terlihat dalam sifat dinamis yang jelas
mengaitkan antara satu benda dengan benda lainnya. Namun relasi antar benda
tidak terbatas pada sifat dinamis.
Untuk memahami konsep
relasi dengan lebih jauh, kita harus memakai beberapa contoh abstrak. Misalnya
ada 2 jenis bola, bola sepakbola dan bola basket, apakah relasi antara kedua
bola? Secara abstrak, mereka sama-sama bola, artinya mereka berada dalam
kategori yang sama. Dalam hal ini relasi adalah kesamaan antara bola sepakbola
dengan bola basket, yaitu mereka sama-sama memiliki sifat menjadi anggota dari
kategori bola.
Bagaimana dengan relasi
dinamis? Apakah relasi dinamis juga merupakan suatu kesamaan antar benda? Jika
bola basket dan bola sepakbola di atas dilemparkan ke arah masing-masing dan
lalu saling terpantul, relasi filosofis macam apa yang terjadi? Jawabannya
diperoleh dengan analisis yang lebih dalam. Kita memahami bahwa sifat dinamis
mengandung sebab dan akibat. Dalam hal
ini sebabnya adalah kontak dengan bola basket, dan akibatnya adalah terpantul.
Hal yang sama juga
berlaku dengan bola basket, sebabnya adalah kontak dengan bola sepakbola dan
akibatnya adalah terpantul. Dalam hal ini kita melihat bahwa sifat dari kedua
bola tidak persis sama, tapi saling mengandung yang lain. Sejauh ini kita telah
meneliti relasi kategoris dan relasi fisik, bagaimana dengan relasi spasial,
seperti koordinat dan jarak antar benda, apakah itu juga relasi?
Sifat ekstrinsik bukan
hanya relasi dengan benda lain, tapi tepatnya relasi dengan dunia atau benda
keseluruhan yang menaungi suatu benda tertentu. Saat kita membicarakan tentang
koordinat, sesungguhnya kita berbicara tentang jarak antara satu benda dengan
suatu benda abstrak lainnya, biasanya suatu titik yang ditetapkan menjadi
(0,0). Titik (5,7) artinya benda itu dapat dicapai dengan bergerak 5 satuan ke
arah positif di sumbu X dan 7 satuan ke arah positif di sumbu y. Sementara
jarak riilnya dapat dihitung dengan rumus pitagoras dan dijelaskan sebagai
sekian satuan ke arah positif X dan positif Y atau di kuadran sekian, seperti
itu.
Saat kita mendeskripsikan
jarak, kita menjelaskan benda yang sama-sama hadir di antara kedua benda.
Anggaplah X dan Y, dan mereka terpisah 100 satuan panjang. Kita dapat
mengatakan bahwa X berjarak 100 satuan dari Y, tapi juga Y berjarak 100 satuan
dari X. Dalam hal ini relasi adalah benda yang mempersatukan 2 benda dalam 1
sistem. Relasi yang hadir di sini adalah jarak antara X dan Y. Jarak 100 satuan
sama-sama dimiliki oleh X dan Y maka menjadi semacam relasi.
Aku harus mengakui bahwa
penjelasan tentang relasi spasial masih kurang memadai, tapi akan dijelaskan
lebih lanjut dengan memahami alasan sifat ekstrinsik menjadi sifat. Sekarang
baiknya kita melanjutkan ke relasi sosial. Dalam dunia manusia kita mengenal
adanya banyak sekali relasi sosial, misalnya hubungan kekeluargaan. Mayoritas
relasi kekeluargaan adalah hasil peristiwa historis. Misalnya hubungan suami
istri menandakan suatu perjanjian yang terjadi di masa lalu dan berlaku untuk
waktu yang panjang sampai dibatalkan atau akhir hayat.
Tanpa mendalami terlalu
dalam konsep relasi sosial, relasi sosial sebanding dengan relasi dinamis. Misalnya
X adalah ayah dari Y, dalam hal ini kita dapat menjelaskan bahwa X adalah ayah
dari Y dan Y adalah anak dari X. Dalam hal ini tidak ada satu kesamaan pasti
antara X dan Y (abaikan kesamaan secara fisik), tapi mereka memiliki sifat yang
saling mengandung yang lain. X memiliki sifat yang melibatkan Y dan Y memiliki
sifat yang melibatkan X.
Jadi kurang lebih ada 2
macam relasi yang sudah kita temukan, yaitu relasi kesamaan seperti relasi
kategoris dan spasial, lalu ada relasi penyimpanan seperti relasi dinamis dan
relasi sosial. Namun pertanyaan yang sebenarnya adalah kenapa sifat ekstrinsik
dapat menjadi sifat? Kenapa harus ada konsep relasi yang kesannya begitu rumit
dan tidak dapat dijabarkan dengan begitu jelas? Ada 2 alasan, yaitu alasan
objektif dan alasan fenomenal.
Secara objektif, kerap
kali benda-benda lain dapat mempengaruhi suatu benda, misalkan X. Maka A, B, C,
D, dan lainnya dapat mempengaruhi benda X sehingga berubah menjadi benda lain,
misalnya X+1. Karena benda lain menjadi bagian dari rangkaian sifat yang
mendiktekan masuk keluarnya X ke dan dari dalam aktualitas, maka kita dapat
mengatakan bahwa benda-benda lain itu juga merupakan bagian dari X secara tidak
langsung. Mungkin tepatnya secara kategoris, sifat intrinsik X dapat
dipengaruhi oleh A, B, C, D, dan lainnya.
Namun alasan fenomenal
justru lebih berpengaruh terhadap masalah sifat ekstrinsik. Saat kita memiliki
kesadaran yang lengkap akan suatu benda X, maka yang tampak dalam kesadaran
kita bukan hanya benda X melainkan juga seluruh benda lain. Anggaplah ada 1
lukisan koordinat kartesian dengan berbagai titik. Jika ada titik X dan Y, dan
Y kita pindahkan, bukankah sudah menjadi lukisan yang berbeda? Maka saat kita
melihat X, mungkin secara intrinsik X tidak berubah, tapi sistem yang
melibatkan X sudah berubah.
Alasan di balik alasan
fenomenal adalah setiap benda harusnya hanya memiliki 1 fenomena yang sesuai,
jika fenomenanya berubah maka bendanya juga berubah. Memang fenomena dapat kita
batasi pada X, tapi fenomena yang lengkap selalu melibatkan benda lain dan jika
benda lain berubah, maka fenomena lengkap itu, sekalipun terfokus kepada X,
sudah berubah. Dalam hal ini sifat ekstrinsik lebih menjelaskan dunia di
sekitar X.
Namun masih belum
menjelaskan apa itu relasi dalam pengertian filosofis yang paling mendasar. Sebenarnya
sederhana saja, kalau kita melihat semua jenis relasi yang ada, bahkan termasuk
relasi spasial, relasi adalah benda yang mempersatukan 2 benda menjadi 1
kategori benda. Misalnya saat X dan Y memiliki sifat saling mengandung, mereka
menjadi 1 kategori, saat X dan Y memiliki kesamaan, mereka menjadi 1 kategori.
Maka kita dapat mengenal
adanya benda ekstrinsik dan benda intrinsik. Benda intrinsik adalah benda
tersendirinya, sementara benda ekstrinsik adalah sistem benda dengan semua
benda lain di sekitarnya sehingga digabungkan menjadi 1 benda yang koheren. Benda
ini akan berubah jika secara intrinsik atau ekstrinsik berubah. Perubahan
intrinsik pastinya melibatkan perubahan ekstrinsik tapi perubahan ekstrinsik
tidak berarti perubahan intrinsik.
Karena inilah perubahan
selalu terjadi di segala arah, karena selalu ada perubahan ekstrinsik dan kita
hanya mampu meneliti kategori-kategori benda dan bukan benda-benda individual. Sebab
sekalipun secara intrinsik dia tidak berubah, benda-benda lain akan berubah dan
benda itu secara ekstrinsik akan berubah sehingga benda total akan berubah
juga. X yang berjarak 100 satuan dari Y dan X yang berjarak 50 satuan dari Y
adalah 2 benda yang sama sekali berbeda.
Kesimpulan
Dalam esai ini kita
memperoleh beberapa pernyataan filsafat, yaitu, “Sifat intrinsik adalah
sifat-sifat yang membentuk suatu benda di dalam benda itu,” “Benda intrinsik
adalah kumpulan dari sifat intrinsik,” “Sifat ekstrinsik adalah relasi
antara suatu benda dengan benda lainnya,” “Relasi adalah 1 benda yang
mempersatukan 2 benda menjadi 1 kategori,” “Benda ekstrinsik adalah
sistem yang mengandung benda dan benda-benda lainnya tapi terfokus pada benda
awal,” “Benda adalah gabungan benda intrinsik dan benda ekstrinsik.”
Untuk esai berikutnya kita akan menganalisis lebih dalam relasi antara berbagai
benda dalam penyusunan benda. Sekarang esai ini dinyatakan selesai.
Comments
Post a Comment