Esai 11-Pengertian Keberadaan

 Pendahuluan

Pada esai 4 kita telah menetapkan keberadaan mutlak kenyataan, bahwa kenyataan secara keseluruhan sesungguhnya ada. Pada esai 6 kita membahas tentang bagaimana menetapkan keberadaan benda-benda secara individu. Dalam esai-esai lain konsep keberadaan juga disebutkan seperti dalam esai 10 atau dalam esai 9. Namun hal yang belum dijelaskan adalah benang merah dari semua konsep itu, atau pengertian dari keberadaan. Oleh sebab itu tujuan esai ini adalah untuk mengeksplorasi tentang pengertian keberadaan.

Pengertian

Esai 4 dan esai 6 telah menunjukkan bahwa keberadaan adalah suatu hal yang memang “ada” secara intuitif dan dapat dibuktikan. Keberadaan mutlak kenyataan dan keberadaan benda juga memberi tahu sedikit saja tentang pengertian atau esensi dari suatu keberadaan atau kondisi keberadaan. Berdasarkan kedua esai tersebut kita tahu bahwa keberadaan sangat terkait dengan pengalaman sadar, karena kita hanya tahu bahwa suatu benda ada jikalau benda itu berinteraksi dengan kesadaran kita, dalam kata lain kita mengalami benda tersebut.

Namun esai 8 menunjukkan bahwa keberadaan dan fenomena tidaklah sama, melainkan adalah 2 hal yang terpisah sekalipun terkait. Benda-benda dapat ada dan beroperasi secara dinamis sekalipun ada di luar pengalaman sadar kita. Bahkan benda-benda tetap ada di luar medan aktualitas, jadi keterpisahan antara keberadaan dan fenomena semakin terlihat. Akan tetapi setidaknya fenomena menjadi titik pertama bagi kita untuk mengartikan keberadaan secara konsisten.

Definisi pertama dari keberadaan yang dapat kita susun berbunyi sebagai berikut, “Keberadaan adalah kondisi atau sifat suatu benda yang dapat memasuki pengalaman sadar.” Hal ini akan berlaku sekalipun untuk benda-benda yang ada di luar aktualitas. Karena benda-benda semacam itu tetap dapat memasuki wilayah aktualitas di mana mereka dapat diakses oleh pengalaman sadar. Artinya suatu benda ada jika benda itu dapat memasuki pengalaman sadar.

Namun definisi ini memiliki 1 masalah, yaitu masalah ketiadaan kesadaran. Bagaimana kalau kesadaran berakhir? Apakah berarti keberadaan juga berakhir? Jika tidak ada kesadaran, maka tidak ada wilayah fenomenal yang dapat dimasuki benda-benda dan ini melanggar definisi keberadaan sehingga otomatis benda-benda menjadi tiada. Ya barangkali kalau kesadaran berakhir maka keberadaan ikut berakhir, tapi bagaimana saat kesadaran berawal?

Kita belum mengetahui apakah kesadaran sungguh memiliki awal dan akhir atau tidak. Namun andaikan kesadaran memiliki awal, artinya harus ada hal yang beroperasi sebelum kesadaran untuk menyebabkan kesadaran. “Hal” ini haruslah sudah ada untuk beroperasi sebelum definisi keberadaan secara fenomenal dapat berlaku sama sekali. Maka suatu benda dapat ada sekalipun benda itu tidak dapat memasuki fenomena, karena tidak ada kesadaran untuk berfenomena.

Karena itu definisi keberadaan harus kita sesuaikan lagi, suatu alternatif adalah melihat kesamaan dari setiap keberadaan. Dalam kata lain, kalau kita melihat segala anggota dari himpunan keberadaan atau kenyataan, apa yang mempersatukan setiap anggota kenyataan? Suatu anggota dari himpunan seluruh keberadaan atau kenyataan adalah suatu benda, ini ditetapkan melalui esai 7. Namun kita tidak dapat mengambil kesamaan setiap benda berdasarkan definisi benda yaitu bagian dari kenyataan. Definisi ini sama dengan “anggota dari kenyataan”. Jadi sama saja kita berkata bahwa keberadaan adalah “keanggotaan dalam himpunan keberadaan.”

Barangkali ada kesamaan benda yang lain yang dapat dikatakan sebagai esensi keberadaan, yang juga mencakup kenyataan yang di satu sisi dapat dikatakan bukanlah benda. Kesamaan ini dapat kita temukan dalam esai 9 tentang sifat. Setiap benda terdiri dari sifat-sifat, tapi kenyataan yang bukan benda juga terdiri dari sifat-sifat, yaitu setiap benda lain. Maka setidaknya ini adalah kesamaan untuk seluruh anggota himpunan keberadaan termasuk himpunan itu sendiri atau kenyataan.

Dengan pengertian tersebut, keberadaan dapat diartikan sebagai, “Keberadaan adalah kondisi atau sifat benda yang memiliki setidaknya satu sifat.” Mengapa kita tidak mengatakan lebih dari satu sifat? Karena semua benda kompleks dapat akhirnya disederhanakan menjadi benda-benda sederhana yang tidak dapat dipecah lagi secara filosofis. Maka benda-benda sederhana haruslah ada, kalau tidak maka benda kompleks pun tidak mungkin dapat ada.

Namun pengertian ini bukan tanpa masalah. Kalau kita memahami keberadaan dari segi sifat, lalu apa artinya bagi suatu benda untuk terdiri dari sifat? Apalagi kalau benda itu benda yang sangat sederhana. Sangat menggoda untuk mengatakan bahwa kalau benda itu terdiri dari sifat, artinya benda itu ada, dan kalau benda itu ada, artinya benda itu terdiri dari sifat, begitu saja terus tanpa henti. Akhirnya yang kita peroleh adalah pengertian yang melingkar, bukan yang dapat didasarkan pada suatu komponen lain yang fundamental.

Sayangnya, benda yang paling fundamental bagi kita makhluk sadar adalah fenomena. Secara fenomenal, fenomenalah yang merupakan benda yang mendasari segala hal termasuk keberadaan. Namun secara objektif kita tahu bahwa yang ada adalah sebaliknya, keberadaan mendasari fenomena dan bukan fenomena mendasari keberadaan. Maka barangkali jika pengalaman sadar adalah benda yang fundamental bagi kesadaran, keberadaan adalah benda yang fundamental bagi kenyataan.

Pengertian keberadaan semacam itu tidak mendasarkan dirinya pada apapun. Suatu benda yang ada pastilah memiliki sifat, benda yang ada pasti memiliki sifat. Itu adalah kepastian, tapi kita memahami bahwa menyamakan kedua konsep itu tidak menambah makna apapun kepada konsep keberadaan. Intinya, keberadaan adalah keberadaan. Jika suatu benda tidak memiliki sifat, mudah saja, benda itu tidak ada. Kalau suatu benda tidak ada, bagaimana mungkin ada satu sifat pun dari benda itu?

Saat kita menghilangkan kesadaran dari rumusan apapun, kita hanya memiliki keberadaan yang saling terkait antar satu sama lain. Namun sesungguhnya keberadaan itu adalah “kosong”, karena tidak ada signifikansinya bagi kesadaran kita yang secara sukarela kita hilangkan demi suatu kebenaran yang lebih fundamental. Akhirnya keberadaan harus kita pahami secara intuitif bahwa intinya keberadaan ya, “seperti itu.”

Karena itu pengertian kedua sekalipun bagus dan formal, tapi pada akhirnya hanyalah formalitas supaya kita dapat menerjemahkan antara 2 konsep yang sangat abstrak dan tidak bermakna tanpa ada kesadaran. Sementara itu pengertian pertama sekalipun sangat subjektif, justru memberikan kita makna yang lebih akan keberadaan. Benda-benda tidak harus berada di dalam pengalaman sadar untuk menjadi “ada”, tapi keberadaan mereka menjadi bermakna begitu mereka memiliki pengaruh dalam kesadaran kita.

Namun sesungguhnya segala keberadaan tetap memiliki makna dan realitas mereka sendiri sekalipun kesadaran dihapus dari rumusan itu. Kecepatan cahaya tetap pada angkanya, dan proses-proses kimia ataupun fisik tetap berjalan sekalipun kesadaran itu nihil. Mereka akan tetap hadir dalam medan aktualitas secara dinamis, dan itulah makna yang ada, sebagai perubahan-perubahan fisik. Akan tetapi kita harus mengingat saja, bahwa segala keberadaan dan pengandaian ini diperoleh dari kesadaran. Tanpa kesadaran, tidak ada pengetahuan dan tidak ada kebenaran, hanya ada kenyataan dan segenap prosesnya.

Implikasi Linguistik

Dalam bahasa biasa ada pembedaan antara yang ada dan yang tidak ada. Namun dengan kehadiran esai ini dan pengertian keberadaan abstrak yang diusulkannya, pembedaan itu runtuh. Hanya ada yang “ada” dan tidak ada yang “tidak ada”. Karena segala benda memiliki sifat, tapi ada yang dapat kita alami sepenuhnya dan ada yang hanya sebagai pengandaian. Segala benda yang kita bayangkan jelas memenuhi pengertian pertama jadi mereka jelas saja ada.

Implikasi linguistik ini sulit karena kita terbiasa dengan bahasa yang majemuk, plural, dan setidaknya ada dualitas. Sekarang ada semacam monisme eksistensial yang harus diadaptasikan dengan bahasa yang ada, menjadi bahasa yang tunggal dan penuh kesatuan. Kita tidak dapat berbicara lagi tentang benda-benda yang tiada, karena kalau mereka adalah benda, maka mereka ada. Keberadaan tidak lagi menjadi hal yang dualistis dengan suatu antitesis, melainkan sebagai monisme yang mencakup segala benda.

Ini bukan berarti dualisme-dualisme yang dimaksud dalam bahasa yang biasa sama sekali salah. Jelas ada perbedaan antara benda yang dibayangkan dan benda yang dapat kita inderakan bersama. Namun perbedaan itu bukanlah perbedaan eksistensial atau dalam masalah keberadaan. Dalam masalah kebahasaan kita hanya mengubah makna kata yang ada dan menyesuaikan kata yang baru kepada fenomena yang sebelumnya sudah kita temui.

Kesimpulan

Dari esai ini kita memperoleh 2 pernyataan filsafat yaitu, “Keberadaan adalah sifat benda yang dapat memasuki pengalaman sadar,” dan, “Keberadaan adalah sifat benda yang terdiri dari setidaknya satu sifat.” Adapula pengertian ketiga begitu abstrak sehingga tidak dapat kita ubah menjadi suatu pernyataan filsafat. Pada esai berikutnya kita akan membahas kekekalan keberadaan. Sekarang esai ini dinyatakan selesai.

Esai ini berkorespondensi dengan versi bahasa Inggris ini.

Comments

Popular posts from this blog

Essay 5-Conscious Experience

Essay 21-Change II

Essay 15-Original and Derivative Objects