Esai 12-Kekekalan Keberadaan

Pendahuluan

Ada beberapa dasar dari konsep tentang kekekalan keberadaan, yaitu esai 4, esai 6, esai 8, esai 10, dan esai 11. Pada esai 4 dan esai 6 kita membahas keberadaan mutlak kenyataan dan keberadaan benda-benda. Pada esai 8, sempat disinggung tentang awal dan akhir keberadaan suatu benda. Pada esai 10, ada konsep perubahan secara fenomenal dan aktual yang menyebutkan kembali tentang perubahan eksistensial. Terakhir, esai 11 menjelaskan pengertian keberadaan yang akan kita gunakan pada esai ini.

Keberadaan mutlak kenyataan dan keberadaan benda memberi tahu kita tentang adanya suatu keberadaan, baik itu secara realistis atau secara objektif. Pengertian keberadaan menegaskan kembali apa yang dimaksud dengan keberadaan. Namun dari pengamatan akan perubahan muncullah konsep tentang awal dan akhir, dan juga suatu pertanyaan yang penting, apakah keberadaan secara definitif memiliki awal dan akhir? Esai ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Awal dan Akhir Keberadaan

Pertama kita harus memahami konsepsi tentang awal dan akhir keberadaan, atau penjelasan lebih tentang awal dan akhir dari keberadaan. Kita dapat mengartikan secara kurang lebih bahwa awal dan akhir keberadaan adalah perubahan antara 2 kondisi yaitu keberadaan dan antitesisnya yaitu ketiadaan. Jadi awal keberadaan adalah proses ketiadaan menjadi keberadaan dan akhir keberadaan adalah proses keberadaan menjadi ketiadaan.

Lalu kita harus memahami pula seperti apa kondisi tiada dari suatu benda. Jika suatu benda tidak ada, maka ada 3 unsur keberadaan yang tidak terpenuhi, yaitu kesadaran, sifat, dan kehadiran, yang mewakili 3 pengertian keberadaan. Konsekuensinya adalah kita sama sekali tidak dapat mengalami benda tersebut, benda tersebut tidak dapat mempengaruhi benda lain dengan sifat-sifatnya, dan benda itu sama sekali tidak “hadir” dalam kenyataan, dalam kata lain benda itu sungguh tidak ada.

Syarat kesadaran harus kita pahami lebih dalam. Sesuai dengan konsepsi pengalaman sadar yang diuraikan dalam esai 5, pengalaman sadar mencakup keseluruhan pengalaman manusia, termasuk pengalaman pikiran. Maka ketidakmampuan untuk mengindera suatu benda tidaklah cukup, harus ada ketidakmampuan untuk membayangkan benda itu pula. Namun kalau kita merefleksikan kembali pengertian keberadaan, hanya ada 1 syarat yang dapat dipenuhi untuk memenuhi kondisi ketiadaan yaitu kehadiran.

Suatu benda bisa saja hadir, tapi tidak mempengaruhi benda lain ataupun kesadaran. Maka ketiadaan pengaruh ataupun fenomena tidak dapat menjadi alasan untuk menyatakan suatu benda adalah tiada. Hal ini demikian sekalipun begitu kita mengatakan suatu benda itu tiada, benda itu telah menjadi ada karena kita memikirkannya. Namun, memang benar bahwa ketidakhadiran benda secara otomatis akan mengarah pada hilangnya fenomena secara mutlak dan hilangnya pengaruh pada benda lain.

Memang dalam esai 10 dijelaskan bahwa perubahan itu aktual dan fenomenal, tapi tidak eksistensial. Akan tetapi yang dijelaskan dalam esai itu adalah pengamatan akan perubahan, dan tidak serta merta membuktikan bahwa perubahan eksistensial itu mustahil. Hanya saja perubahan yang diamati pastilah bukan perubahan eksistensial melainkan secara fenomenal dan aktual. Karena itu dalam esai ini kita fokus untuk meneliti tentang konsep perubahan eksistensial, apakah suatu realitas aktual atau hanya sekadar imajinasi.

Karena penjelasan tentang kondisi ketiadaan di atas, sebenarnya sangat sulit untuk menyatakan ketiadaan suatu benda karena kalau kita menyatakan benda, kita memikirkan benda, dan oleh sebab itu benda ada. Benda hanya dapat dispekulasikan sebagai tiada saat sudah tidak ada gagasan tentang benda itu sama sekali. Aku berkata “spekulasi”, karena tidak mungkin membuktikan dengan mutlak ketidakhadiran suatu benda.

Terlepas dari kesulitan yang ada kita tetap berusaha untuk meneliti masalah ini. Mungkin pembaca yang jeli akan menyadari suatu masalah yang kritis dari konsep ketiadaan, yaitu kita dapat membayangkannya. Artinya ketiadaan itu sendiri adalah suatu benda, dan bukan hanya “ketiadaan”. Selama ketiadaan adalah benda, maka ketiadaan adalah suatu keberadaan. Maka secara paradoksikal, jawaban esai telah diperoleh, yaitu keberadaan pastilah kekal. Namun kita akan tetap melanjutkan dengan analisis benda ketiadaan.

Benda Ketiadaan

Benda ketiadaan, sesuai namanya, adalah benda yang pada hakikatnya tidak ada, atau adalah antitesis dari keberadaan. Namun keberadaan antitesis ini sebenarnya tetap merupakan keberadaan karena ia adalah benda dan ia adalah bagian dari kenyataan. Hanya saja, sifat-sifatnya memang “unik” kalau dibandingkan dengan benda-benda lain. Benda ketiadaan hanya memiliki sifat-sifat “eksistensial”, yaitu sifat-sifat yang pasti dimiliki oleh semua benda.

Dari sifatnya yang paling dapat kita pahami, ketiadaan dapat dibayangkan, artinya ia memiliki sifat fenomenal, dapat dialami dengan sadar. Maka dari itu ketiadaan juga hadir dalam kenyataan, artinya ada sifat eksistensial atau sifat keberadaan, ketiadaan ada. Sifat eksistensialnya yang kedua adalah ketiadaan memiliki sifat, sudah ada setidaknya 3 sifat, yaitu 1 sifat fenomenal dan 2 sifat eksistensial.

Berikutnya, karena ketiadaan adalah bagian dari kenyataan, maka ia adalah benda dan memiliki unsur-unsur kebendaan, yaitu bagian, unik, dan terbatas. Ketiadaan jelas adalah bagian dari kenyataan karena ia memiliki sifat eksistensial. Ketiadaan jelas berbeda dengan benda-benda lain, dan dapat kita batasi apa yang termasuk “ketiadaan” dan mana yang termasuk “keberadaan”. Maka sejauh ini sudah ada 4 sifat dari ketiadaan, itu kalau 3 sifat kebendaan dijadikan 1, kalau tidak maka ada 6 atau 7 sifat dari ketiadaan.

Namun semua sifat itu adalah sifat eksistensial yang dimiliki oleh setiap benda, atau setidaknya oleh setiap benda yang dapat kita alami dengan sadar. Benda-benda ekstrafenomenal memiliki sifat-sifat yang sama tapi tanpa sifat fenomenal. Sekarang kita memasuki sifat yang esensial dari ketiadaan, yaitu sifat ketiadaan. Sifat ini menyatakan bahwa, “Ketiadaan tidak memiliki sifat lain selain sifat-sifat eksistensial dan fenomenal.” Maka ada 7 atau 8 atau 5 sifat ketiadaan, dengan 6, 7, atau 4 sifat eksistensial-fenomenal dan hanya 1 sifat esensial.

Apa konsekuensinya? Konsekuensinya adalah benda ketiadaan hanya ada 1 dan tidak dapat kita “hitung” jumlahnya, karena sebenarnya ia tidak memiliki sifat semacam itu. Mustahil untuk mengatakan adanya ketiadaan 1, ketiadaan 2, dan seterusnya, kecuali kalau benda itu semu tiada. Namun benda yang murni ketiadaan tidak berjumlah, berwujud, berukuran, berwarna, dan kalau tidak melalui kesadaran ia tidak memiliki kuasa apapun untuk mengubah benda.

Benda ketiadaan juga memiliki satu konsekuensi khusus dari sifatnya, yaitu tidak dapat diubah menjadi benda lain atau dikaitkan dengan benda lain secara dinamis, selain melalui kesadaran. Namun biasanya kita makhluk sadar juga jarang mempengaruhi benda karena ketiadaan. Akan tetapi dalam kasus ini sifat ketiadaan semacam itulah yang akan kita gunakan untuk membuktikan bahwa keberadaan sungguh kekal, baik itu keberadaan yang biasa atau ketiadaan.

Kekekalan

Kita memang sudah menetapkan bahwa keberadaan itu kekal secara mutlak. Karena sekalipun benda yang ada menjadi benda ketiadaan, ketiadaan itu tetap hadir. Di mana tidak ada benda, ya di situlah ketiadaan itu hadir. Sementara faktanya dari sudut pandang keberadaan mana pun yang namanya ketiadaan itu tetap hadir dan bersifat. Namun untuk kondisi esai ini kita menetapkan kekekalan yang lebih tegas, bahwa benda yang ada tidak dapat berasal dari atau berubah menjadi benda yang tiada.

Marilah kita teliti dari awal keberadaan. Awal keberadaan bukanlah proses dari benda yang sama sekali tiada menjadi benda yang ada, melainkan dari benda ketiadaan berubah menjadi benda keberadaan. Kalau kita ingat argumen-argumen tentang potensialitas dan kausalitas yang dijelaskan dalam esai 8, kita tahu bahwa ada semacam konsep penyimpanan. Setiap efek tersimpan, hadir, dan oleh sebab itu ada di dalam sebab mereka.

Kalau kita berkata bahwa ada titik pemisah di mana suatu benda X yang awalnya “tiada” menjadi “ada”, kita bertanya lagi, “Apa sebabnya?” Sekalipun benda X itu muncul secara acak, bukan berarti tidak bersebab, hanya tidak beraturan saja, tapi tetap bersebab. Sebabnya pasti ada, tidak mungkin “tidak ada”. Dalam hal ini sebabnya hanya bisa berupa 2 hal, suatu benda yang ada atau ketiadaan.

Tentu saja kalau kita berkata bahwa benda X disebabkan benda yang ada, misalnya Y, ya kita tinggal berkata bahwa X terkandung dalam Y. Mungkin kita berpikir atau berharap bahwa kalau sebabnya adalah ketiadaan, jadi ketiadaan mampu menghasilkan suatu benda X maka ini membuktikan bahwa keberadaan mampu memiliki awal. Jawabannya tidak, justru menjadi semakin mustahil karena fakta bahwa benda ketiadaan tidak dapat memiliki relasi.

Kalau benda ketiadaan adalah sebab dari X, maka kita tinggal berkata X terkandung atau tersimpan dalam ketiadaan, artinya X juga sudah hadir dalam ketiadaan sejak dulu. Namun ini akan melanggar sifat ketiadaan benda ketiadaan yang tidak dapat memiliki relasi, maka ketiadaan tidak dapat digunakan untuk membuat benda apapun. Ketiadaan hanya mengarah pada ketiadaan dan keberadaan hanya dapat berasal dari keberadaan lainnya.

Akhir dari keberadaan sedikit lebih menarik. Karena artinya adalah proses keberadaan menjadi ketiadaan, ketiadaan yang diperoleh dari keberadaan, apakah ini mungkin? Kita dapat berkata bahwa benda ketiadaan tidak boleh berasal dari benda yang ada karena akan tercipta relasi. Namun sekarang menjadi lebih kompleks karena sebenarnya ada 2 kondisi, bisa saja ketiadaan awalnya sama sekali “tidak hadir”, dan pada suatu waktu menjadi hadir.

Maka sebelum kita meneliti akhir dari keberadaan, kita akan mundur sedikit dan meneliti awal dan akhir dari ketiadaan itu sendiri. Untuk ini jawabannya lebih sederhana, karena kita sudah tahu bahwa ketiadaan itu tidak dapat memiliki relasi maka otomatis ketiadaan tidak dapat memiliki awal dan akhir, mengapa? Alasannya adalah kalau ada awal dan akhir ketiadaan, haruslah awal itu adalah keberadaan dan akhir itu keberadaan pula. Karena awal dan akhir adalah titik pemisah waktu antara periode ketiadaan dan periode yang bukan ketiadaan. Lalu apa yang bukan ketiadaan pastilah keberadaan.

Jadi begitu ketiadaan dipastikan ada melalui pengalaman sadar, melalui penalaran lebih lanjut kita boleh menyimpulkan bahwa ketiadaan pasti sudah ada dan akan terus ada tanpa henti. Ketiadaan kekal karena kalau ada awal, ia berelasi dengan keberadaan, kalau ada akhir, ia berelasi juga dengan keberadaan. Jadi sama-sama salah. Sekarang kita kembali ke konsep akhir keberadaan, apakah juga “tidak ada” seperti awal ketiadaan?

Maka akhir dari keberadaan yang kita maksud tidak mungkin artinya awal dari ketiadaan, ketiadaan sudah hadir bersamaan dengan keberadaan. Melainkan tepatnya adalah keberadaan yang “melebur” menjadi ketiadaan dan menjadi hilang sama sekali. Sekilas agak sulit untuk mengidentifikasi relasi antara ketiadaan dan keberadaan karena kesannya relasinya sepihak dari keberadaan ke ketiadaan.

Kita tidak bisa berkata bahwa, “Ketiadaan bertambah jumlahnya,” karena ketiadaan ya hanya 1. Seperti dijelaskan sebelumnya tidak ada yang namanya 2 ketiadaan, 3 ketiadaan. Maka kita tidak berkata pula bahwa ketiadaan itu diciptakan dalam proses berakhirnya keberadaan. Secara matematis ini memang kurang logis, karena ini sama dengan menyatakan 1+0=0. 0 ini memang tidak bertambah atau berkurang, 0 tetap 0. Namun 1 yang ditambahkan dengan 0, malah hilang.

Relasi ada antara keberadaan dan ketiadaan, tapi terkesan sepihak dalam satu arah saja dari keberadaan ke ketiadaan. Relasi yang serupa untuk ketiadaan, yaitu dari keberadaan dapat dihasilkan ketiadaan tidak dapat dikatakan. Karena ketiadaan tidak ada penambahan jumlah dan sama seperti sebelumnya dan akan seperti itu terus sampai selamanya. Namun kita dapat mengambil sudut pandang lain, yaitu tentang persatuan.

Saat keberadaan menjadi ketiadaan, yang terjadi bukan penambahan jumlah melainkan persatuan, keberadaan dan ketiadaan disatukan menjadi satu benda ketiadaan yang sebenarnya “sama saja”. Namun ada yang berbeda, secara sifat ketiadaan itu sudah menjadi berbeda. Mengapa? Karena fakta kenyataan akan mencatat bahwa ketiadaan telah dipersatukan dengan keberadaan, dan ini yang menciptakan relasi. Ini adalah hal terlarang dan karena itu ketiadaan tidak dapat dipersatukan dengan keberadaan apapun.

Dengan itu, telah dibuktikan secara konklusif bahwa keberadaan bukan hanya kekal dalam arti ketiadaan itu adalah suatu keberadaan, tapi dalam arti bahwa keberadaan tidak dapat berasal dari ketiadaan dan keberadaan tidak dapat mengarah pada ketiadaan. Keberadaan hanya dapat berasal dari keberadaan dan menjadi keberadaan, sementara ketiadaan juga hanya dapat berasal dari ketiadaan dan menjadi ketiadaan. Keduanya eksklusif secara bersama.

Namun ada implikasi tambahan dari kekekalan keberadaan yang mempertegas sifat sesungguhnya dari perubahan. Kita tahu bahwa perubahan yang teramati adalah suatu perubahan aktualitas sebagaimana dinyatakan dalam esai 10. Namun ini belum menjelaskan apakah suatu perubahan eksistensial mustahil atau tidak. Sekarang kita akan menetapkan bahwa perubahan eksistensial pun merupakan kemustahilan dan perubahan sungguh hanya ilusi aktualitas.

Anggaplah benda A dan B, A berubah menjadi B “secara eksistensial”. Artinya saat ada A, B tidak ada, lalu A menghilang digantikan oleh B. Sekilas ini adalah relasi antar benda-benda yang ada dan bukan dengan ketiadaan. Namun perhatikan, kalau ini murni relasi antara A dan B, A dan B akan senantiasa ada secara bersama. Ini berdasarkan konsep penyimpanan, di mana antara sebab dan akibat, akibat sudah terkandung dalam sebabnya. Di sini A adalah sebab dari B, maka B sudah terkandung dalam A dan skenario eksistensial tidak terjadi.

Perubahan yang sungguh eksistensial mengandaikan pada saat A hadir, B sungguh tidak hadir sama sekali, dan begitu juga sebaliknya. Jadi relasi-relasi dinamis yang biasanya berlaku tidak berlaku di sini. Justru yang terjadi bukan hanya A menjadi B, tapi ada 2 proses yang terjadi dengan 3 unsur, yaitu A, ketiadaan, dan B. A menjadi ketiadaan, lalu dari ketiadaan muncul B. Ini sudah melanggar kekekalan keberadaan dalam segala cara, maka perubahan eksistensial sesungguhnya mustahil sama sekali.

Implikasi dari kekekalan keberadaan ini memang cukup rumit dan banyak sekali untuk dituliskan dalam 1 esai saja. Namun secara singkat implikasinya adalah semua benda yang sudah terbukti ada ada secara kekal tanpa awal dan akhir. Tidak ada tindakan manusia atau kesadaran yang dapat mempengaruhi benda-benda secara eksistensial. Perubahan hanyalah ilusi dari medan aktualitas yang asal-usulnya juga masih belum jelas. Pada esai-esai berikutnya pastilah implikasi kekekalan akan semakin jelas, tapi untuk sekarang cukuplah bagi kita untuk mengetahui bahwa kekekalan keberadaan adalah kebenaran.

Kesimpulan

Hanya ada 1 pernyataan filsafat yang kritis yang kita peroleh dari esai ini, yaitu, “Keberadaan ialah kekal, tidak memiliki awal dan akhir.” Untuk esai berikutnya kita akan memperjelas beberapa konsep sebelumnya seperti tentang perbedaan dan benda yaitu tentang identitas dan kategori. Untuk sekarang esai ini dinyatakan selesai.

Esai ini berkorespondensi dengan versi bahasa Inggris ini.

Comments

Popular posts from this blog

Essay 5-Conscious Experience

Essay 21-Change II

Essay 15-Original and Derivative Objects